Al-Khansa; Penyair Muslimah Tersohor Zaman Jahiliyyah

0
952

BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya Tamadhar binti Al-Harist bin Asy-Syarid bin Riyah bin Yaqdhah bin ‘Asiyyah bin Khifaf bin Umru Al-Qais bin Bahsah. Beliau berasal dari Bani Mudhar yang terkenal dengan para penyair-penyair tersohor dalam bangsa Arab. Beliau juga berasal dari Najd. Beliau termasuk sosok wanita yang hidup pada zaman Jahiliyyah. Hidupnya banyak dihabiskan pada zaman Jahiliyyah. Namun beliau juga mendapati masa Keislaman sehingga telah menyatakan keislamannya. (Baca: Khalil bin Ahmad al-Farahidiy; Pencipta Ilmu Prosodi Bahasa Arab)

Suatu ketika beliau bersama rombongannya mendatangi Rasulullah. Rasulullah begitu kagum dengan untaian syairnya. Dua syairnya yang paling bagus dan terkenal yaitu syair kematian yang ditunjukkan kepada kedua saudaranya Sakhr dan Muawiyah yang meninggal pada zaman Jahiliyyah. Syair itu dibacakan dengan ratapan yang menyedihkan sehungga syair ini menjadi syair duka cita yang terkenal di kalangan bangsa Arab. Di antara syairnya yang bagus  adalah sebagai berikut :

قذى بعينيك أم بالعين أعور  #أم أقفرت إذ خلت من أهلها الدار

Menangislah dengan kedua matamu atau sebelah mata

Apakah aku akan kesepian karena tiada penghuni di dalam rumah ?

Begitu juga dengan syiir berikut

أعيني جودا ولا تجمدا  #ألا تبكيان لصخر الندا

ألا تبكيان الجرئ الجميل # ألا تبكيان الفتى السيدا

Kedua mataku menangis dan tiada akan membeku

Bagaimana mata tidak menangis untuk Sakhr yang mulia

Bagaimana mata tidak menangis untuk sang pemberani

Bagaimana mata tidak menangis untuk seorang pemuda yang luhur

Keislaman Al-Khansa

Dalam kitab Al-A’lam karya Az-Zarakly diceritakan awal masuk Islam Al-Khansa. Suatu ketika beliau mendatangi  Rasulullah bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian menyatakan keislamannnya dan menganut agama tauhid. Keislamaannya begitu baik. Rasulullah sendiri sering memuji keindahan syairnya sehingga tak jarang beliau meminta Al-Khansa’ untuk bersyair.

Banyak pujian yang diberikan kepada muslimah penyair ini. Sehingga tak jarang para pemuka Arab memberikan kekagumannya pada syair yang diciptakannya. Diceritakan dalam tarikh Al Mufasshal Fi Tarikh Al-Arab Qabla Al-Islam karya Dr. Jawwad Ali bahwa banyak orang yang berkata “Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada beliau.”

Ibunda Para Syuhada

Selain dikenal sebagai penyair muslimah yang tersohor , beliau juga sangat terkenang kisahnya sebagai ibunda para syuhada. Wanita muslimah ini mempunyai kedudukan dan prestasi yang mulia. Beliau turut menegakkan islam dalam beberapa peperangan yang diikutinya bersama kaum muslimin.

Ada cerita menarik yang diungkap dalam kitab Fashlu Al-Khitab  Fi Sirati Ibn Al-Khattab karya Ali Muhammad Muhammad As-Shalabi. Ketika Al-Khansa’ berangkat ke Qadisiyah di masa Umar bin Khattab. Beliau berangkat bersama empat putranya. Waktu malam ketika para pasukan bersiap untuk menghadapi musuh, Al-Khansa’ mengumpulkan empat putranya untuk memberikan pengarahan. Beliau ingin memberikan semangat dan mengorbarkan juang kepada anak-anaknya agar mereka bisa berani dan mengharapkan syahid dalam peperangan.

Ketika sudah datang waktu esok, beliau berkata lagi, “ Maka ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, maka persiapkankanlah diri kalian untuk menghadapi musuh dengan semangat. Ketika perang sedang berlangsung dan api telah berkobar maka turunlah ke medan perang. Bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian kan Berjaya dengan ghanimah dan kemualiaan atau syahid di negeri yang kekal.”

Kemudian setelah mendengar nasehat dari sang ibu , keempat putranya keluar dari tenda dengan semangat perjuangan. Maka, ketika datang waktu pagi mereka pergi bersama di medan perang bersama para pasukan yang lain  untuk menghadapi musuh. Dan benar ternyata kabar datang dati keempatnya putra yang gugur dalam peperangan.

Ketika ibunya mendengar kabar tersebut, beliau tidaklah terguncang atau meratap-ratap. Beliau mengatakan satu yang mana perkataan ini menjadi sangat  terkenal oleh kalangan umat manusia , berikut perkataannya “Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka. Aku berharap kepada Rabbku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya.”

Penyair Al-Khansa wafat pada zaman khalifah Usman bin Affan tepatnya tahun 24 H di Al-Badiyah.

Wallahu A’lam Bisshawab

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here