Joseph Scacht dan Kritiknya terhadap Hadis Nabi

0
206

BincangSyariah.Com – Joseph Scacht dilahirkan di Silisie, Jerman pada 15 Maret 1902. Karirnya sebagai orientalis diawali dengan belajar filologi klasik, teologi, dan bahasa-bahasa Timur di Universitas Berslauw dan Universitas Leipzig. Ia meraih gelar doctor dari Universitas Berslauw pada tahun 1923, ketika berumur 21 tahun.

Pada tahun 1925 ia diangkat menjadi dosen di Universitas Fribourg, dan pada tahun 1929 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar. Pada tahun 1932 ia pindah ke Universitas Kingsbourg, dan dua tahun kemudian ia meninggalkan negerinya Jerman untuk mengajar Tata Bahasa Arab dan Bahasa Suryani di Universitas Fuad Awal (kini Universitas Cairo) di Kairo, Mesir. Ia tinggal di Kairo sampai tahun 1939 sebagai guru besar.

Pada perang dunia ke-II ia pindah ke Inggris dan bekerja di Radio BBC London, ia tidak lagi memihak Jerman dan membelot ke Inggris serta menikahi perempuan Inggris. Di Inggris ia belajar lagi pada Universitas Oxford, sampai meraih gelar Magister (1948) dan Doktor (1952).

Dan pada tahun 1954 ia meninggalkan Inggris dan mengajar di Univeristas Leiden Negeri Belanda sebagai Guru Besar sampai tahun 1959. Lalu ia pindah lagi ke Universitas Colombia NewYork dan mengajar sebagai Guru Besar, sampai meninggal dunia tahun 1969.

Karya tulisnya yang paling monumental dan melambungkan namanya adalah bukunya The Origins of Muhammadan Jurisprudence yang terbit pada tahun 1950, kemudian bukunya An Introduction to Islamic Law yang terbit pada tahun 1960.

Berbeda dengan orientalis sebelumnya, Ignaz Goldziher, Joseph Schacht lebih banyak menyorot kepada persoalan sanad hadis (transmisi, silsilah keguruan). Ia memperkenalkan teori “projecting back” atau proyeksi ke belakang. Dalam penelitiannya, ia lebih banyak menggunakan kitab-kitab fikih dibandingkan dengan kitab-kitab hadis murni, di antaranya adalah al-Umm dan al-Risalah karya Imam al-Syafi’i, al-Muwaṭṭa’ karya Imam Malik dan al-Muwaṭṭa’ karya Imam al-Syaibani.

Baca Juga :  Kiprah Tiga Tokoh Lesbumi dalam Perkembangan Film Indonesia

Kesimpulan Schacht menyebutkan bahwa hukum Islam baru dikenal pada masa Dinasti Bani Umayyah, di mana banyak qadhi (hakim) mulai diangkat satu persatu. Jika diamati, para khalifah sebelumnya tidak pernah mengangkat seorang qadhi.

Para qadhi pada akhir abad pertama hijriyah (pada masa dinasti Umayyah) adalah orang-orang yang taat beragama yang akhirnya membentuk kelompok ahli fikih klasik.

Keputusan-keputusan hukum yang diberikan oleh qadhi tentu saja memerlukan legitimasi dari orang-orang yang lebih tinggi, oleh sebab itu mereka membutuhkan penisbatan kepada tokoh sebelumnya.

Misalnya orang Irak menisbahkan pendapat kepada Ibrahim al-Nakha’i (w. 95 H). Pada perkembangan selanjutnya, pendapat para qadhi tidak hanya dinisbatkan kepada tokoh-tokoh yang dekat jaraknya dengan mereka namun lebih jauh lagi seperti Masruq kepada ‘Abdullah bin Mas’ud dan yang terakhir adalah kepada Rasulullah SAW. Inilah yang ia maksud dengan “projecting back”.

Itu artinya produk-produk hadis yang disandarkan kepada ulama melalui sanad adalah hasil dari kerja ahli fikih, dalam hal ini adalah qadhi untuk mendapatkan legitimasi dari sabda Nabi Muhammad Saw.

Bukan sebagaimana yang dipahami oleh umumnya umat Islam, bahwa sanad (rangkaian perawi) memang berasal dari Nabi dan diriwayatkan turun-temurun kepada setiap generasi, mulai dari sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan seterusnya.

Untuk menyanggah argumentasi Schacht, Musthafa ‘Azhami dalam bukunya Dirasat fi al-Hadis al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih melakukan penelitian khusus tentang Hadis Nabi yang terdapat dalam naskah klasik. Di antaranya adalah milik Suhail bin Abi Ṣaliḥ (w. 138 H), ayah Suhail adalah murid Abu Hurairah.

Suhail sendiri ada pada jenjang ke tiga, jumlah rawi pada jenjang itu berkisar antara 20-30 orang, sementara domisili mereka terpencar-pencar dan berjauhan, antara India sampai Maroko, antara Turki sampai Yaman. Sementara teks hadis yang mereka riwayatkan hadisnya sama.

Baca Juga :  Menghadiahkan Pahala Kurban untuk Orang Meninggal

Oleh sebab itu sangat mustahil bagi mereka untuk membuat kesepakatan dengan meriwayatkan hadis yang sama dengan situasi yang semacam itu, sebab mereka meriwayatkan hadis yang sama di tempat yang berbeda-beda dan belum pernah atau diduga belum pernah bertemu. Inilah sanggahan Musthafa A’dhami terhadap apa yang diklaim oleh Scacht.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here