Muslim Syiah Hari Ini Menurut Ulama Sunni Kontemporer

3
1715

BincangSyariah.Com – Sampai sekarang Muslim Syiah Sampang masih hidup terusir di pengungsian. Kurang lebih delapan tahun (2011-2019) lamanya mereka kehilangan hak-haknya yang harus dinikmati, seperti hidup tenang di kampung halaman tercinta bersama sanak-saudara dan menjalankan aktivitas keislaman secara bebas sebagai Muslim Syiah. Padahal hak sendiri merupakan anugerah Tuhan kepada seluruh manusia, tanpa memandang jenis kelamin, warna kulit, kebangsaan, agama, keyakinan, dan status sosial.

Dengan kata lain, hak bukan merupakan pemberian kekuasaan, bangsa, dan negara tertentu, tetapi merupakan pemberian Tuhan secara langsung kepada seluruh manusia. Meminjam istilah Rachid Ghannushi, kebebasan (termasuk di dalamnya kebebasan beragama)―sebagai bagian dari hak asasi manusia―merupakan akibat dari tanggung-jawab dan kekhalifahan manusia yang memang diberikan Tuhan secara langsung  (lihat Karim Sadek dalam Maqāṣid al-Sharīa and Contemporary Reformist Muslim Thought, 2014: 162).

Dalam Islam sendiri, hak asasi manusia merupakan salah satu tujuan syariat Islam (maqâṣid asy-syarî‘ah) yang harus diwujudkan demi tegaknya kemaslahatan hidup manusia. Menurut Jamâluddîn ‘Âṭiyyah, salah satu tujuan syariat Islam yang berkaitan erat dengan kemanusiaan adalah perlindungan negara terhadap hak asasi manusia. Ia tidak hanya berkaitan dengan membebaskan manusia dari perbudakan kepada sesama manusia (sebagai konsekuensi utama ketauhidan kepada Allah) dan menghilangkan segala bentuk kesyirikan, menolong orang-orang lemah di manapun berada, tetapi juga meliputi pemeliharaan terhadap kebebasan dan hak-hak manusia, seperti kebebasan berpikir dan berkeyakinan (Naḥw Taf‘îl Maqâṣid asy-Syarî‘ah, 2003: 170).

Menurut Muḥammad az-Zuḥailî, kebebasan adalah tujuan tertinggi syariat Islam (Mawsu‘âh Qaḍâyâ Islâmiyyah Mu‘âṣirah, 2009, V: 693). Muḥammad Shahrûr menambahkan bahwa kebebasan adalah nilai tertinggi dan tujuan pertama syariat Islam. Sehingga tidak boleh didahului dan dikalahkan oleh tujuan-tujuan syariat Islam lainnya (Tajfîf Manâbi‘i al-Irhâb, 2008: 267).

Dalam kerangka berpikir maqâṣidî ini, az-Zuḥailî menjelaskan bahwa setiap individu memiliki (hak) kebebasan, baik dalam berpikir, bertindak, berinteraksi, memilih, maupun menginginkan sesuatu. Hal ini sejalan dengan sifat dasar (pembawaan), fitrah, kehormatan, dan kemanusiaan manusia itu sendiri. Beberapa aturan (hukum) dalam Islam secara nyata memelihara dan menaruh perhatian yang sangat besar terhadap keberadaan kebebasan tersebut. Belakangan beberapa peraturan dan undang-undang mengukuhkan kebebasan sebagai bagian dari hak asasi manusia (hlm. 693).

Di sisi lain Yûsuf al-Qaraḍâwî menjelaskan bahwa mengukuhkan kehormatan (martabat) manusia dan hak asasi manusia merupakan salah satu tujuan al-Qur’an (maqâṣid al-qur’ân). Menurutnya, al-Qur’an secara nyata menjunjung tinggi dan menjamin martabat manusia dan hak asasi manusia, seperti hak kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama, menyatakan pendapat, persamaan di antara sesama manusia, hak kehormatan tempat tinggal, hak mendapatkan perlindungan (baik jiwa, kehormatan, maupun harta-benda), hak membela diri, hak mendapatkan keadilan, dan beberapa hak yang lain (Kaifa Nata‘âmal ma‘a al-Qur’ân al-‘Aẓîm?, 1999: 78-83).

Baca Juga :  Konsep Kemaksuman Para Wali dalam Pandangan Sufi

Meneguhkan Persaudaraan Sunni-Syiah: Dari Amman ke Mekah

Masyarakat Muslim Syiah Sampang tidak hanya kehilangan hak-haknya untuk hidup tenang sebagai Muslim Syiah di kampung halaman, tetapi juga dianggap sesat dan harus segera disadarkan. MUI Jawa Timur, misalnya, mengeluarkan fatwa sesat Syiah Sampang tahun 2012. Menurut penulis, anggapan dan fatwa sesat Syiah ini sangat bertentangan dengan hasil ijmak ulama abad ke-21.

Dalam hal ini, tahun 2005 yang lalu 200 ulama (baik Sunni maupun Syiah) dari 50 negara telah membuat ijmak dalam Risalah Amman. Kesepakatan (ijmak) yang digelar di Amman, Yordania, ini dikenal dengan istilah The Three Points of the Amman Message (Tiga Pasal dalam Risalah Amman). Di sini mereka menegaskan bahwa para pengikut 8 mazhab dari Sunni (Ḥanafî, Mâlikî, asy-Syâfi‘î, dan Ḥanbalî), Syiah (Jakfariyah/Imamiyah Itsna‘Asyariyyah dan Zaidiyyah), Ibâḍî, aẓ-Ẓâhirî, teologi Asy’ariyah, sufisme, dan salafi sejati adalah Muslim. Oleh karena itu, mereka dilarang (haram) saling mengafirkan dan memurtadkan satu sama lain (The Muslim 500: The World’s 500 Most-Influential Muslims, 2020, 2019: 28-29 & 51). Selain itu, darah (kehidupan), kehormatan, dan harta-benda mereka tidak boleh diganggu.

Pertemuan berikutnya diselenggarakan di Mekah, di mana beberapa ulama (baik Sunni maupun Syiah) dari beberapa negara Muslim menandatangani Deklarasi Mekah tahun 2006 yang menyatakan bahwa: “Muslim adalah siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan-Nya (Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih, 2007: 17).”

Beberapa ulama Sunni yang menandatangi Tiga Pasal dalam Risalah Amman tersebut adalah: Syekh Ali Jum‘ah, Syekh Ahmad Muhammad al-Tayyib, Sayyidil Habib Umar bin Hafiz, dan Habib ‘Ali al-Jifri. Keempat tokoh Muslim Sunni tersebut termasuk bagian dari Muslim yang paling berpengaruh di dunia beberapa tahun ini (lihat The World’s 500 Most-Influential Muslims).

Selain itu, Syekh Maḥmûd Syaltût (Imam Besar Al-Azhar) menyatakan secara tegas bahwa setiap Muslim boleh mengikuti mazhab Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariah. Apalagi Islam memang tidak mewajibkan Muslim untuk mengikuti mazhab tertentu. Sehingga setiap Muslim boleh mengikuti mazhab manapun (baik Sunni maupun mazhab Syiah Itsna ‘Asyariah) dan juga boleh pindah mazhab apabila mereka menghendaki. Oleh karena itu, setiap Muslim harus meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhab tertentu. Sebab, Islam tidak mengikuti dan tidak pula terikat kepada mazhab manapun. Semua mujtahid sama-sama diterima di sisi Allah dan setiap Muslim yang tidak mampu berijtihad boleh mengikuti salah satu dari beberapa mujtahid tersebut, baik dalam urusan ibadah maupun mumalah.

Baca Juga :  Sejarah Singkat Nabi Isa As

Ulama Sunni lain yang menegaskan keislaman Syiah dan melarang mengafirkan Muslim Syiah adalah Syekh Muḥammad al-Gazâlî. Bahkan beliau menolak secara tegas anggapan sebagian Muslim yang menyatakan bahwa Syiah memiliki al-Qur’an yang berbeda dengan al-Qur’an yang biasa digunakan kalangan Sunni. Menurutnya, al-Qur’an dicetak di tempat yang sama, yaitu di Kairo, Mesir. Masyarakat Muslim Syiah yang berada di Najaf (Irak) dan Teheran (Iran) sama-sama mensucikan al-Qur’an tersebut. Salinan (kopian) al-Qur’an tersebut beredar di antara mereka dan tidak ada keraguan sedikitpun mereka melakukan pemalsuan terhadap al-Qur’an tersebut. Mereka sama-sama memuliakan dan menghormati al-Qur’an dan Rasulullah saw. (sebagai pembawa al-Qur’an).

Selain itu, beliau membantah beberapa kebohongan sebagian Muslim, seperti mengatakan bahwa Syiah adalah pengikut Ali dan Sunni adalah pengikut Muhammad; atau orang Syiah menganggap bahwa Ali lebih berhak menerima risalah daripada Nabi Muhammad saw.; atau orang Syiah menganggap Jibril keliru memberikan wahyu kepada selain Ali. Menurutnya, beberapa hal tersebut merupakan omong-kosong yang buruk dan pemalsuan yang memalukan.

Mengajak MUI Jawa Timur Merenung Sejenak

MUI Jawa Timur dan beberapa organisasi kemasyarakatan (ormas) mengeluarkan fatwa bahwa Syiah Sampang adalah sesat. Fatwa sesat Syiah ini didukung sepenuhnya oleh 100 kiai Sunni dari berbagai wilayah di Madura yang tergabung dalam FAAS (Front Anti Aliran Sesat). Dalam realitasnya, fatwa MUI (baik Kabupaten Sampang maupun Jawa Timur) ini dijadikan justifikasi atau pembenaran, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat setempat untuk mendiskriminasi dan memersekusi masyarakat Muslim Syiah Sampang. Salah satu bentuk diskriminasi dan persekusi tersebut adalah menganggap warga Syiah Sampang sesat dan puncaknya mengusir mereka dari kampung halaman (Muhammad Afdillah, Dari Masjid ke Panggung Politik: Melacak Akar-akar Kekerasan Agama Antara Komunitas Sunni dan Syiah di Sampang Jawa Timur, 2016).

Baca Juga :  Persekutuan Kepemilikan dan Hak Anggota

Menurut Bambang Budiono (pengamat sosial politik) – seperti dikutip dari Tempo – fatwa MUI tersebut menjadi salah satu pemicu konflik kekerasan di Sampang. Sehingga Wakil Ketua Komnas HAM (2010-2012), Nurcholis, menegaskan bahwa pencabutan terhadap fatwa sesat Syiah Sampang ini akan menyelesaikan 80 persen konflik Sunni-Syiah di Sampang.

Hal senada juga disampaikan oleh Yenny Wahid. Dia menyarankan agar penyelesaian konflik Sunni-Syiah Sampang ditempuh dengan cara rekonsiliasi dan rehabitasi, bukan dengan cara relokasi warga Syiah Sampang. Rehabilitasi ini dibutuhkan untuk memulihkan nama baik Muslim Syiah Sampang yang difatwa sesat oleh MUI Jawa Timur. Menurutnya, apabila fatwa tersebut menjadi pemicu lahirnya kekerasan, maka MUI (sebagai pihak yang mengeluarkan fatwa tersebut) harus bertanggung-jawab secara moral, yaitu dengan mencabut fatwa tersebut dan meminta maaf.

Dalam kesempatan lain Pengurus Pusat Muhamamdiyah keberatan atas fatwa MUI Jawa Timur yang menyesatkan Syiah. Sebab, menurut Din Syamsuddin, Syiah masih berada dalam lingkaran syahadat. Muhammadiyah menegaskan bahwa siapapun dari mazhab manapun selama memercayai syahadat, maka dia secara otomatis Islam. Selain itu, fatwa sesat Syiah tersebut pada gilirannya akan memicu lahirnya tindakan intoleransi yang bertentangan dengan ajaran dan spirit Islam itu sendiri (kompas.com, 21/11/2019).

Oleh karena itu, MUI Jawa Timur, MUI se-Jawa Timur, dan beberapa ormas tersebut seharusnya mempertimbangkan betul beberapa pendapat ulama Sunni dan hasil ijmak ulama abad ke-21 yang telah disebutkan sebelumnya. Mengingat para ulama Sunni, baik yang terlibat dalam ijmak Risalah Amman, Deklarasi Mekah, maupun yang mengeluarkan pendapat secara pribadi memiliki kualitas keilmuan Islam dan kesalihan yang sangat tidak diragukan lagi. Selain itu, MUI Jawa Timur bisa meniru langkah MUI Pusat yang masih mempertimbangkan beberapa hal. Sehingga sampai sekarang belum mengeluarkan fatwa sesat Syiah Sampang meskipun sempat didesak oleh MUI Jawa Timur (Dari Masjid ke Panggung Politik, hlm. 73-74).

Dengan demikian, sampai kapan Muslim Syiah Sampang hidup terusir di pengungsian? Apakah negara Indonesia tercinta ini begitu lemah dan tidak berdaya lagi sehingga Muslim Syiah Sampang sampai saat ini masih hidup terasing dan terusir di pengungsian? Wa Allâh A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam…

3 KOMENTAR

  1. […] Ratusan massa membubarkan sebuah acara doa di Solo. Penyerangan tersebut menyebabkan tiga orang terluka pada Sabtu malam, 8 Agustus 2020. Padahal, acara yang digelar malam itu adalah kegiatan midodareni atau doa sebelum pernikahan yang diikuti oleh sekitar 20 orang. Mereka mengklaim sebagai sunni, namun tindakan kekerasannya jauh dari ajaran ulama Sunni yang ramah dan toleran. Bahkan mereka mengumandangkan yel-yel Syiah laknatullah. (Baca: Muslim Syiah Hari Ini Menurut Ulama Sunni Kontemporer) […]

  2. […] Adapun fakta keislaman Syiah adalah berkaitan dengan ijmak ulama (Sunni dan Syiah) tahun 2005 yang secara tegas mengakui Syiah Jakfariyah/Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah dan Zaidiyyah sebagai Muslim. Tahun 2006, para ulama Sunni dan Syiah menandatangani Deklarasi Mekah yang menyatakan bahwa: “Muslim adalah siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan-Nya” (Baca: Muslim Syiah Hari Ini Menurut Sunni). […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here