Khalil bin Ahmad al-Farahidiy; Pencipta Ilmu Prosodi Bahasa Arab

6
1379

BincangSyariah.Com – Ilmu arudh atau prosodi bahasa Arab adalah ilmu tentang kaidah-kaidah yang berguna untuk mengetahui wazan syair Arab yang benar dan yang salah, juga untuk mengetahui zihaf dan illat yang ada pada sebuah wazan. Zihaf adalah perubahan huruf yang kedua pada sabab, namun bait berikutnya tidak harus ikut dirubah. Sedangkan illat adalah perubahan huruf yang kedua pada sabab, dan bait-bait berikutnya juga harus ikut dirubah. Sabab adalah potongan dari wazan syair yang terdiri dari dua huruf.

Pencipta ilmu arudh adalah Khalil bin Ahmad al-Farahidiy. Sebelum ada ilmu arudh, para penyair Arab menggubah syair mereka berdasarkan cara yang mereka warisi dari generasi sebelumnya dan berdasarkan malakah (talent) yang mereka miliki.

Berikut ini adalah biografi singkat dari pencipta ilmu arudh tersebut.

Nama dan Kelahiran

Nama lengkapnya adalah al-Khalil bin Ahmad bin Amr bin Tamin al-Azdiy al-Farahidiy. Lahir di Bashrah pada tahun 100-H. Al-Marzabani mengatakan, “Ayah Khalil adalah orang yang pertama kali menggunakan nama Ahmad setelah Rasululllah SAW.”

Masa Pencarian Ilmu  

Masa mudanya dihabiskan untuk mencari ilmu. Pernah berguru pada Amr bin Ala’, Isa bin Amr ats-Taqafi dan yang lain. Belajar hadis pada Ayub as-Sikhtiyaani, Ashim al-Ahwal, Awwam bin Hausyab dan Ghalib al-Qaththan. (Baca: Buku Pengantar Etimologi bahasa Arab Karya Syekh Yasin Padang)

Selain itu, dia pernah berkelana di pedalaman Jazirah Arab untuk berbicara dari mulut ke mulut dengan suku Badui di Hijaz, Najd dan Tihamah, dan setelah merasa pengetahuan bahasa Arabnya cukup, dia kembali lagi ke Bashrah. Setelah itu, dia banyak tinggal di rumah, menekuni ilmu baik siang maupun malam, mengembara dalam kenikmatan ruhaniyah.

Berkat kegigihannya, al-Khalil berhasil menjadi ulama ahli hadis dan syair, juga sangat alim dalam bahasa Arab dan fikih.

Kepribadian al-Khalil

As-Suyuthi menceritakan, “Al-Khalil adalah orang yang sangat alim dan cerdas, sangat mulia dan bertakwa.” Al-Khalil memiliki kepribadian yang baik, taat beribadah, wira’i, qana’ah, rendah hati, berwibawa dan sederhana.

Dia sangat zuhud dan tidak peduli dengan duniawi, padahal kebanyakan orang bisa mendapatkan kekayaan duniawi melalui ilmu dan karya-karya mereka. Karena kezuhudanya, dia hanya tinggal di sebuah gubug sederhana di Bashrah, dan terkadang untuk mendapatkan dua keping uang saja tidak mampu, sehingga para murid-muridnya membantu mencarikan uang.

Pernah suatu hari dia didatangi utusan Sulaiman bin Ali, paman khalifah Abu Abbas as-Safah, yang menjadi Gubernur Persia dan Ahwaz. Utusan tersebut datang untuk menyampaikan pesan agar al-Khalil bersedia mengajar putra Sulaiman. Selain itu, Sulaiman memberikan uang seribu dinar untuk mencukupi kebutuhan al-Khalil.

Menanggapi permintaan itu, al-Khalil mengeluarkan sepotong roti kering dan berkata, “Selama aku masih memiliki roti seperti ini, aku tidak membutuhkan Sulaiman.

Utusan itu kemudian bertanya, “Lalu apa yang harus aku katakan pada Sulaiman tentang dirimu?” Al-Khalil menjawab dengan sebuah syair:

أَبْلِغْ سُلَيْمَانَ أَنِّي عَنْهُ فِي سَعَةٍ *  وَفِي غِنًى غَيْرَ أَنِّي لَسْتُ ذَا مَالٍ

Sampaikan pada Sulaiman, aku berada dalam kondisi lapang dan kaya, sehingga tidak membutuhkan dirinya. Hanya saja aku bukan orang yang berharta.”

Menciptakan Ilmu Arudh

Diceritakan, pada saat al-Khalil melaksanakan ibadah haji ke Makkah, dia berdoa kepada Allah agar diberi ilmu yang belum pernah dimiliki oleh siapa pun dan siapa saja yang ingin mendapatkan ilmu itu, harus belajar kepadanya. Setelah pulang dari ibadah haji, Allah menganugerahkan untuknya sebuah ilmu yang kemudian dikenal dengan ilmu arudh. Sebelum menciptakan arudh, al-Khalil memiliki keahlian dalam laras nada dan irama sehingga berguna dalam proses penciptaan ilmu arudh.

Menurut sebagian ulama, ilmu ini disebut dengan arudh, karena pertama diciptakan disebuah daerah yang bernama Arudh, yang terletak di antara Makkah dan Thaif. Menurut ulama yang lain, disebut arudh karena ketika terjadi mu’aradhah atau perbedaan dalam sebuah syair, ilmu ini dipakai sebagai parameter apakah syair tersebut telah sesuai dengan wazannya atau belum.

Arudh ciptaan al-Khalil dibagi menjadi lima macam daurah atau not, yang kemudian menghasilkan lima belas macam bahar (wazan syair). Kelima belas bahar tersebut kemudian ditambah satu bahar lagi oleh al-Ahfasy, yaitu bahar mutadaarik.

Proses penciptaan ilmu arudh tidaklah mudah, sebagaimana dikisahkan oleh ash-Shafadi dalam al-Waafi bi al-Wafiyyat: Ketika al-Khalil menyusun arudh, dia menyendiri dalam rumah, kemudian di depannya diletakkan sebuah baskom atau semacamnya, setelah itu baskom itu dipukul-pukul dengan kayu sambil berdendang; “faa’ilun…mustaf’ilun…fu’uulun”.

Suara al-Khalil diam-diam didengarkan oleh salah seorang temannya, kemudian dia lari ke masjid dan memanggil orang-orang yang ada di sana dan mengatakan bahwa al-Khalil telah gila. Mereka kemudian beramai-ramai menuju rumah al-Khalil dan masuk ke dalam, dan mendapati al-Khalil sedang memukul-mukul baskom.

Mereka lalu bertanya, “Wahai Aba Abdillah (al-Khalil)! Apa yang terjadi padamu? Apa ada sesuatu yang menimpa dirimu? Bagaimana kalau kami mengobatimu?

Al-Khalil membalas, “Ada apa ini?

Mereka menjawab, “Temanmu mengira bahwa engkau telah mengalami gangguan mental”.

Jasa-jasa al-Khalil

Selama hidupnya, al-Khalil memiliki banyak jasa. Di antarnya adalah keberhasilannya mencetak kader-kader yang unggul dalam bidang nahwu, yaitu Sibawaih, al-Ashma’i, an-Nadhr bin Syumail, Harun bin Musa an-Nahwiy, Wahb bin Jarir, dan Ali bin Nashr al-Jahdhumi.

Selain itu, al-Khalil juga meninggalkan beberapa karya, yaitu: mu’jam atau kamus al-‘Ain, al-Jamal, Kitab an-Nagham, Kitab al-Arudh, Kitab asy-Syawahid, Kitab an-Nuqath wa Asy-Syakl. Al-Khalil juga berjasa menciptakan syakl atau harakat dalam Bahasa Arab yang terus digunakan sampai sekarang.

Menurut satu keterangan kamus al-‘Ain dibuat oleh al-Khalil untuk dipersembahkan pada temannya yang bernama al-Laits, namun al-Khalil meninggal sebelum kamus tersebut selesai dibuat. Pada akhirnya al-‘Ain diselesaikan oleh al-Laits.

Dalam keterangan lain disebutkan, al-Khalil telah menyelesaikan kitab tersebut, namun setelah dihadiahkan kepada al-Laits, kitab tersebut terbakar. Maka al-Laits menyusun kembali kitab al-‘Ain; setengahnya disusun berdasarkan hafalan al-Laits terhadap al-‘Ain dan setengahnya lagi disusun dengan mengumpulkan para cendikiawan pada masa itu.

Meninggal Dunia

Al-Khalil wafat pada tahun 175-H di Bashrah karena kepalanya terbentur tiang masjid, sehingga jatuh ke belakang.

100%

6 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya Tamadhar binti Al-Harist bin Asy-Syarid bin Riyah bin Yaqdhah bin ‘Asiyyah bin Khifaf bin Umru Al-Qais bin Bahsah. Beliau berasal dari Bani Mudhar yang terkenal dengan para penyair-penyair tersohor dalam bangsa Arab. Beliau juga berasal dari Najd. Beliau termasuk sosok wanita yang hidup pada zaman Jahiliyyah. Hidupnya banyak dihabiskan pada zaman Jahiliyyah. Namun beliau juga mendapati masa Keislaman sehingga telah menyatakan keislamannya. (Baca: Khalil bin Ahmad al-Farahidiy; Pencipta Ilmu Prosodi Bahasa Arab) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya Tamadhar binti Al-Harist bin Asy-Syarid bin Riyah bin Yaqdhah bin ‘Asiyyah bin Khifaf bin Umru Al-Qais bin Bahsah. Beliau berasal dari Bani Mudhar yang terkenal dengan para penyair-penyair tersohor dalam bangsa Arab. Beliau juga berasal dari Najd. Beliau termasuk sosok wanita yang hidup pada zaman Jahiliyyah. Hidupnya banyak dihabiskan pada zaman Jahiliyyah. Namun beliau juga mendapati masa Keislaman sehingga telah menyatakan keislamannya. (Baca: Khalil bin Ahmad al-Farahidiy; Pencipta Ilmu Prosodi Bahasa Arab) […]

  3. […] Selama hidupnya, Tsa’lab An-Nahwi adalah imam mazhab nahwu aliran kufah dan menjadi pemimpin dalam perang pemikiran nahwu dengan aliran Bashrah dengan tokoh besar pada masanya yaitu Al-mubarrid. Tsa’lab An-Nahwi memiliki salah seorang murid yang juga menjadi tokoh besar dalam linguistic Arab yaitu Ibnu Al-Anbari. (Baca: Khalil bin Ahmad al-Farahidiy; Pencipta Ilmu Prosodi Bahasa Arab) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here