Syekh Ibrahim bin Adham; Bangsawan yang Taubat dari Kemewahan

4
933
Syekh Ibrahim bin Adham
Syekh Ibrahim bin Adham

BincangSyariah.Com – Salah satu ulama yang juga menggeluti ajaran tasawuf hingga meninggalkan dunia dengan segala kenikmatannya adalah Syekh Ibrahim bin Adham. Nama lengkapnya adalah Abu Ishak Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh, Afghanistan, dari keluarga bangsawan Arab. Sebagai sosok yang lahir dari bangsawan, Syekh Ibrahim bin Adham merupakan sosok yang kurang memiliki empati pada ajaran Islam. Pada mulanya, beliau lebih senang mengurus dunia daripada belajar keagamaan.

Akan tetapi, dalam beberapa riwayat disebutkan, beliau dikenal sebagai seorang raja yang meninggalkan kerajaannya, kemudian mengembara ke arah Barat untuk menjalani hidup sendiri, sambil mencari nafkah melalui kerja kasar yang halal, hingga ia meninggal dunia di negeria Persia pada tahun 165 H/782 M. Beberapa riwayat mengatakan bahawa Syekh Ibrahim terbunuh ketika mengikuti angkatan laut yang menyerang Bizantium. Berikut kisah inspiratif darinya,

Semut Lewat dan Awal Taubatnya

Dia adalah raja di Balkh, satu wilayah yang masuk dalam kerajaan Khurasan, menggantikan ayahnya yang baru wafat. Sebagaimana umumnya kehidupan para raja, Ibrahim bin Adham juga bergelimang kemewahan. Hidup dalam istana megah berhias permata, emas, dan perak. Setiap kali keluar istana ia selalu di kawal 80 orang pengawal. 40 orang berada di depan dan 40 orang berada di belakang, semua lengkap dengan pedang yang terbuat dari baja yang berlapis emas. (Baca: Hukum Jual Beli Emas Online di Marketplace)

Suatu malam, ketika sedang terlelap tidur di atas dipannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara langkah kaki dari atas genteng, seperti seseorang yang hendak mencuri. Ibrahim menegur orang itu, “Apa yang tengah kamu lakukan di atas sana?” Orang itu menjawab, “Saya sedang mencari ontaku yang hilang.”

“Apa kamu sudah gila, mencari onta di atas genteng,” sergahnya Ibrahim bin Adham. Namun orang itu balik menyerang, “Tuan yang gila, karena tuan mencari Allah di istana.”

Jawabannya membuat Ibrahim tersentak, tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia gelisah, kedua matanya tidak dapat terpejam, terus-menerus menerawang merenungi kebenaran kata kata itu. Hingga adzan Subuh berkumandang Ia tetap terjaga dan tidak bisa memejamkan kedua matanya.

Esok harinya, keadaannya tidak berubah. Ia gelisah, murung, dan sering menyendiri. Ia terus mencari jawaban di balik peristiwa malam itu. Karena tidak menemukan jawaban, sementara kegelisahan hatinya semakin berkecamuk, ia mengajak prajuritnya berburu ke hutan, dengan harapan beban di kepalanya sedikin berkurang.

Akan tetapi, sepertinya masalah itu terlalu berat baginya, sehingga tanpa disadari, kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya, ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Kalau saja ia tidak terjatuh bersama kudanya, mungkin ia tidak berhenti. Ketika ia berusaha bangun, tiba-tiba seekor rusa melintas di depannya. Segera ia bangkit, menghela kudanya dengan cepat sambil mengarahkan tombaknya ke tubuh buruannya.

Tetapi, saat Ibrahim bin Adham hendak melemparkan tombaknya, ia mendengar bisikan keras seolah memanggil dirinya, “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu (berburu) kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!”

Mendengar ucapan itu, Ibrahim terus berlari sambil melihat kiri kanan, tapi tak seorang pun di sana, lalu ia berucap, “Semoga Allah memberikan kutukan kepada Iblis!”

Dia pacu kembali kudanya. Namun, lagi-lagi teguran itu datang. Hingga tiga kali. Ia lalu berhenti dan berkata, “Apakah itu sebuah peringatan dari-Mu? Telah datang kepadaku sebuah peringatan dari Allah, Tuhan semesta alam. Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari-hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada-Nya.”

Setelah itu, ia menghampiri seorang penggembala kambing yang ada tidak jauh dari tempat itu. Kemudian memintanya untuk menukar pakaiannya dengan pakaian yang ia pakai. Setelah mengenakan pakaian usang itu, ia berangkat menuju Makkah untuk mensucikan dirinya.

Dari sinilah drama kesendirian Ibrahim bermula. Istana megah ia tinggalkan dan tanpa seorang pengawal ia berjalan kaki menyongsong kehidupan barunya. Berbulan-bulan mengembara, Ibrahim tiba di sebuah kampung bernama Bandar, Nishafur.

Di sana ia tinggal di sebuah gua, menyendiri, berdzikir dan memperbanyak lbadah. Hingga tidak lama kemudian, keshalihan, kezuhudan dan kesufiannya mulai dikenal banyak orang. Banyak di antara mereka yang mendatangi dan menawarkan bantuan kepadanya, tetapi Ibrahim selalu menolak. Beberapa tahun kemudian, ia meninggalkan Bandar Nishafur, dan dalam perjalanan selanjutnya menuju Makkah, hampir di setiap kota yang ia singgahi terdapat kisah menarik tentang dirinya yang dapat menjadi renungan bagi kita, terutama keikhlasan dan ketawadhuannya.

Keikhlasan Bekerja tanpa Upah

Pernah satu ketika, di suatu kampung Ibrahim kehabisan bekal. Untungnya, ia bertemu dengan seorang kaya yang membutuhkan penjaga untuk kebun delimanya yang sangat luas. Ibrahim pun diterima sebagai penjaga kebun, tanpa disadari oleh orang tersebut kalau lelaki yang dipekerjakannya adalah Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang sudah lama ia kenal namanya. Ibrahim menjalankan tugasnya dengan baik tanpa mengurangi kuantitas ibadahnya. Satu hari, pemilik kebun minta dipetikkan buah delima. Ibrahim melakukannya, tapi pemilik kebun malah memarahinya karena delima yang diberikannya rasanya asam.

Pemilik kebun kemudian berkata, “Apa kamu tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam,” tegurnya.

“Aku belum pernah merasakannya, Tuan,” jawab Ibrahim. Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta. Ibrahim lantas shalat di kebun itu, tapi pemilik kebun menuduhnya berbuat riya dengan shalatnya. “Aku belum pernah melihat orang yang lebih riya dibanding kamu.”

“Betul tuanku, ini baru dosaku yang terlihat. Yang tidak, jauh lebih banyak lagi,” jawabnya dengan tenang. Dia pun dipecat, kemudian pergi meninggalkan kebunnya.

Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria sedang sekarat karena kelaparan. Buah delima tadi pun diberikannya. Sementara itu, tuannya terus mencarinya karena belum membayar upahnya. Ketika bertemu, Ibrahim meminta agar gajinya dipotong karena delima yang ia berikan kepada orang sekarat tadi. “Apa engkau tidak mencuri selain itu?” tanya pemilik kebun. “Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu,” tegas Ibrahim.

Setahun kemudian, pemilik kebun mendapat pekerja baru. Dia kembali meminta dipetikkan buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling manis. Pemilik kebun bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu. “Betapa dustanya dia,” kata pemilik kebun.

Tukang kebun yang baru lantas berujar, “Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkan istananya karena zuhud.”

Mendengar jawabannya, pemilik kebun tanpa sadar meneteskan air mata disebabkan kelalaian dan tuduhannya kepada Syekh Ibrahim bin Adham. Ia pun menyesali tindakannya, “Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.”

Dipukul Para Pembesar di Makkah

 Menjelang kedatangannya di Kota Makkah, para pemimpin dan ulama bersama-sama menunggunya. Namun tak seorang pun yang mengenali wajahnya. Ketika kafilah yang diikutinya memasuki gerbang Kota Makkah, seorang yang diutus menjemputnya bertanya kepada Ibrahim, “Apakah kamu mengenal Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang terkenal itu?” “Untuk apa kamu menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim balik bertanya.

Mendapat jawaban yang tidak sopan seperti itu, orang tersebut lantas memukul Ibrahim, dan menyeretnya menghadap pemimpin Makkah. Saat diinterogasi, jawaban yang keluar dari mulutnya tetap sama, “Untuk apa kalian menanyakan si ahli bid’ah itu?” Ibrahim pun disiksa karena dia dianggap menghina seorang ulama agung. Tetapi, dalam hatinya Ibrahim bersyukur diperlakukan demikian, ia berkata, “Wahai Ibrahim, dulu waktu berkuasa kamu memperlakukan orang seperti ini. Sekarang, rasakanlah olehmu tangan-tangan penguasa ini.”

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan seorang bekas penguasa seperti Syekh Ibrahim bin Adham, dari pengalamannya memperbarbaiki diri, dari kesendiriannya menebus segala kesalahan dan kelalaian, dari keikhlasan, kezuhudan, dan ketawadhuannya yang tak ternilai.

Referensi: Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, Siyaru A’lami an-Nubala, [Muassasah ar-Risalah], juz VII, halaman 383.

Artikel SebelumnyaDosa Pelaku Bunuh Diri, Apakah Kekal di Neraka?
Artikel SelanjutnyaTGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid: Ulama Pendiri Nahdlatul Wathan dan Pejuang Kemerdekaan dari Nusa Tenggara Barat
Sunnatulloh
Pegiat Bahtsul Masail se-Jawa dan Madura sekaligus Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini