Hukum Jual Beli Emas Online di Marketplace

0
33

BincangSyariah.Com – Ada sekurangnya beberapa tulisan yang menyebut bahwa yang dimaksud sebagai yadan bi yadin (makna leksikal: tangan dengan tangan), sebagaimana yang tertuang dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah bermakna sebagai “kontan” (saling serah terima tangan dengan tangan secara langsung)

Pemaknaan ini tentu akan berdampak pada banyak aspek akad mu’amalah yang telah disepakati oleh para ulama’ dan ujungnya akan berimbas bahwa jual beli emas di marketplace, dengan akad salam (pesan), menjadi tidak boleh sebab ketiadaan serah terima langsung tersebut. (Baca: Investasi Emas dalam Perspektif Hukum Islam)

Tentu hal ini akan bersifat kontradiktif, bila dikaitkan dengan akad utang emas. Dalam akad utang emas, adanya jeda waktu, adalah merupakan sebuah keniscayaan, bahkan kemustahilan bila tanpa disertai adanya tempo.

Saya utang emas ke anda. Sudah pasti, saya akan mengembalikan setelah berlangsung sekian waktu perjalanan (tempo). Dan tahukah anda, bahwa akad utang itu hakikatnya adalah sama dengan akad jual beli? Bagaimana bisa? Begini ulasannya!

Salah satu akad yang sudah disepakati oleh para ulama, adalah akad  qardlu (utang) emas. Secara istilah, yang  dinamakan dengan “utang” itu adalah akadpenyerahan suatu harta (baca: emas!) kepada pihak lain dengan harapan kembalinya harta itu sesuai dengan takaran, timbangan, jenis, macam harta yang diserahkan, dengan resiko fisik harta itu berganti.”

Penyerahan harta kepada pihak lain dengan fisik harta yang tidak berganti, adalah termasuk rumpun akad wadi’ah (titip)  atau i’arah (pinjam barang). Namun, dalam utang, fisik harta yang diserahkan itu mustahil tidak berganti. Alhasil, pasti terjadi pergantian, yang secara otomatis terjadi pertukaran.

Adanya pergantian fisik harta pada akad utang ini, secara tidak langsung menempatkan “utang” (qardl) sebagai bagian dari akad mu’awadlah (barter). Dan barter (mu’awadlah) adalah dasar utama dari akad jual beli (bai’).

Alhasil, utang dan jual beli, keduanya memiliki hakikat (muqtadla al-‘aqdi) yang sama, yaitu sama-sama terjadi pertukaran fisik barang (ain).

Di dalam utang, sebuah pertukaran terjadi dengan adanya tempo penyerahan (ajal li al-qabdl) dan kadang disertai waktu jatuh tempo (hulul al-ajal).

Utang yang disertai dengan adanya tempo penyerahan dan kadang adanya masa jatuh tempo semacam ini, adalah sama pengertiannya dengan bai’ bi al-ajal (jual beli dengan tempo).

Kaidah yang berlaku dalam akad pertukaran semacam ini, bila terjadi pada barang ribawi (emas, perak, bahan makanan), adalah wajibnya tamatsul (sama jenis, macam, takaran dan timbangan), taqabudl (saling bisa diserahterimakan) dan hulul (jatuh tempo).

Jadi, berangkat dari sini, utang emas saja boleh, yang berarti jual beli tempo dengan obyek barang berupa emas adalah juga boleh. Keduanya sama-sama wajib memenuhi kaidah harus tamatsul (sepadan), taqabudl (saling bisa serah terima) dan hulul (ada tempo pelunasan). Ini adalah pemaknaan ulama terhadap hadits yang menjelaskan istilah yadan bi yadin itu.

Baca Juga :  Hukum Jual Beli Indeks Emas di Pasar Berjangka dalam Islam

Lantas, kenapa kemudian yadan bi yadin yang merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam akad pertukaran ribawi dipaksakan untuk dimaknai sebagai kontan (langsung serah terima antara harga dan barang di majelis akad)?

Dalam teks syariah, para ulama menyebutkan, bahwa bilamana terjadi pertukaran barang ribawi sejenis yang disertai dengan tempo (qardl atau bai’ bi  al-ajal), maka keharaman itu terjadi karena barang yang menjadi pengganti itu berukuran lebih besar takaran atau timbangannya, dibanding barang yang diutang atau ditukar. Dalam konteks ini, yang dilarang adalah adalah ketidaksepadanan itu. Ketidaksepadanan menjadikan dua orang yang berakad jatuh dalam praktik riba.

Secara utang (qardl), ketidaksepadanan pada kembalian adalah termasuk riba qardly (riba utang).  Secara jual beli tempo, ketidaksepadanan ini masuk konsep  riba al-fadhly atau riba al-yad.

Riba al-fadhly terjadi akibat akad pertukaran yang langsung bertemu antara penjual dan pembeli di majelis akad, dengan obyek pertukaran yang sama-sama jenisnya (misal: emas dengan emas), namun salah satu obyek yang ditukarkan bernilai lebih. Misalnya, emas 1 kg ditukar dengan emas 1,1 kg, secara langsung di majelis akad (kontan).

Adapun riba al-yad, terjadi akibat emas yang sebelumnya diserahkan, kemudian diganti dengan emas lain yang sejenis dengan “takaran lebih” dan disertai adanya jeda waktu (tempo) yang  memisahkan kedua penjual (baca: pihak yang mengutangi (muqridl)) dan pembeli (baca: pihak yang diutangi /qaridl).

Alhasil, antara riba al-fadhly, riba qardly dan riba al-yad adalah sama dari sisi konsep, yaitu kelebihan di salah satu barang yang ditukar. Bedanya, keduanya dipisahkan oleh keberadaan tempo (ajal) saja.

Pada riba al-fadhly, kelebihan itu berlangsung seketika di majelis akad. Sementara pada riba al-yad (riba qardly), kelebihan itu disampaikan setelah dijeda oleh waktu (tempo).  Ini adalah konsep yang penting dipahami oleh  semua pihak dan perlu sekali untuk digarisbawahi.

Lantas, bagaimana dengan riba nasiah?

Riba nasiah, pada dasarnya juga memiliki unsur yang sama dengan riba qardli dan riba al-fadhli serta riba al-yad. Hal yang membedakan, adalah keberadaan masa hulul (jatuh tempo) yang diketahui. Sementara dalam riba al-yad, masa  jatuh temponya ini tidak diketahui.

Mari simak penjelasan dari Syekh Wahbah al-Zuhaili berikut ini!

ربا النسيئة الذي لم تكن العرب في الجاهلية تعرف سواه، وهو المأخوذ لأجل تأخير قضاء دين مستحق إلى أجل جديد، سواء أكان الدين ثمن مبيع أم قرضا.

Riba nasiah, yaitu satu-satunya riba yang dikenal oleh kalangan masyarakat Arab jahiliyah. Praktik dari riba ini terjadi karena faktor permintaan penundaan pelunasan utang yang membutuhkan skema tenor waktu pelunasan yang baru, baik utang  itu merupakan harganya barang (tsaman mabi’), atau atau utang pada umumnya (qardl).” (Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu li al-Zuhaily, Juz 5, halaman 3699).

Baca Juga :  Sembilan Syarat Menjadi Saksi Nikah

Penjelasan beliau ini sebenarnya sudah tegas, yaitu menyamakan antara akad qardl  (utang emas) dengan jual beli tempo (bai’ bi al-ajal). Simak ulasan beliau ketika menyinggung soal harga barang (tsaman mabi’) atau utang (qardl)!

Tentu istilah tsaman (harga), mensyaratkan adanya mutsman (barang yang dihargai). Barang yang dihargai (mutsman) sudah diserahkan terdahulu, sebagaimana barang yang diutangkan. Adapun yang disinggung dalam teks penjelasan Syekh, adalah mengenai ganti ‘iwadl (barang) yang diistilahkan sebagai tsaman mabi’ (harga barang), atau ganti iwadl yang dijadikan untuk pelunasan utang (qardl).

Dalam riba nasiah, iwadl yang kemudian diistilahkan sebagai harga barang (tsaman mabi’) atau harta untuk melunasi utang tersebut, menghendaki tempo yang baru (ajlin jadid), setelah gagal bayar pada tempo yang dijanjikan sebelumnya, dalam akad. Akibat adanya tempo baru ini, kemudian pihak pemberi utang mensyaratkan adanya nilai lebih dari utang sebelumnya. Nilai lebih inilah yang disebut sebagai riba nasiah (riba kredit).

Sebagai ilustrasi, Si A menjual emas ke Si B seberat 10 gram dengan harga ganti sebesar 8 juta rupiah, dengan tenor waktu 3 bulan. Ternyata setelah tiga bulan, Si B tidak bisa melunasi. Akhirnya, Si A menetapkan syarat, bahwa akan diberi tambahan waktu selama 2 bulan lagi, dengan catatan Si B membayar emas tersebut dengan harga 9 juta karena durasi pelunasan bertambah menjadi durasi baru, yaitu total 5 bulan.

Kelebihan sebesar 1 juta yang berada di luar harga yang disepakati sebelumnya sebesar 8 juta inilah yang disebut riba nasiah. Sebagaimana hal ini disinggung sebagai harga barang (tsaman mabi’) yang bertambah akibat tempo yang baru (ajal jadid).

Hal yang sama, bisa juga dipandang sebagai akad qardl, khususnya bila obyek pengembaliannya ditetapkan wajibnya berupa emas. Kelebihan dari emas seberat 10 gram, menjadi 11 gram, adalah termasuk riba qardli, yang bisa disebut sebagai riba al-yad, namun diketahui masa jatuh temponya. Riba al-yad yang diketahui masa jatuh temponya, adalah istilah lain dari riba nasiah.

Untuk lebih jelasnya, mari simak ulasan Syekh Wahbah berikut ini!

وثانيهما: ربا البيوع في أصناف ستة هي الذهب والفضة والحنطة والشعير والملح والتمر وهو المعروف بربا الفضل. وقد حرم سدا للذرائع، أي منعا من التوصل به إلى ربا النسيئة، بأن يبيع شخص ذهبا مثلا إلى أجل ثم يؤدي فضة بقدر زائد مشتمل على الربا.

“Kedua, adalah riba jual beli yang berlaku atas 6 kelompok harta, yaitu emas, perak, hinthah, gandum, garam dan tamr. Riba ini dikenal sebagai riba al-fadhli. Syariat mengharamkan riba al-fadhli karena antisipasi terhadap efek negatif yang bisa ditimbulkannya, yakni menyerupai praktik riba nasiah, (yang dicirikan) seseorang menjual emas (umpamanya) sampai tempo tertentu, kemudian meminta pembayaran berupa perak dengan kadar lebih yang disesuaikan, sebagaimana berlaku atas riba al-fadli.”

Baca Juga :  Klarifikasi K.H. Ma'ruf Amin tentang Larangan Mengucapkan Selamat Natal

Lebih lanjut, Syekh Wahbah mengambil kesimpulan, bahwa:

والنوع الأول هو المحرم بنص القرآن وهو ربا الجاهلية، وأما الثاني فقد ثبت تحريمه في السنة بالقياس عليه لاشتماله على زيادة بغير عوض

“Riba yang pertama (riba nasiah) adalah dinyatakan keharamannya sebab nash al-Qur’an, yakni sebagai riba al-jahiliyah. Adapun riba kedua (riba al-fadhl), ketetapan keharamannya adalah berdasarkan al-sunnah yakni dengan mengqiyaskannya pada riba pertama karena memuat unsur adanya ziyadah (kelebihan) yang bukan ganti seharusnya.”

Alhasil, dengan mencermati semua penjelasan di atas, maka pada dasarnya jual beli barang ribawi adalah boleh dengan jalan tempo, namun harus sesuai dengan kaidah yang digariskan syara’, yaitu:

Pertama, bila pertukaran itu melibatkan barang ribawi sejenis, maka wajib tamatsul (sama takaran, kadar, timbangan), taqabudl (bisa saling diserahterimakan) dan hulul (diketahui jatuh tempo penyerahan / waktu penyerahan).

Kedua, bila pertukaran itu melibatkan barang ribawi tidak sejenis, maka yang wajib berlaku adalah wajibnya taqabudl (bisa saling diserahterimakan) dan hulul (diketahui jatuh tempo penyerahannya)

Dari semua penjelasan di atas, bila dikaitkan dengan konsepsi yadan bi yadin, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa transaksi barang ribawi itu tidak harus “kontan” (seketika) di majelis, sehingga makna yadan bi yadin adalah tidak bisa dimaknai sebagai langsung serah terima harga dan barang di  tempat. Makna yang lebih tepat terhadap konsepsi yadan bi yadin adalah:

Pertama, wajib adanya kesepakatan  bersama antara harga (tsaman) dan barang (mutsman) sebelum berpisah majelis (taqabudl qabla tafarruq al-majlis), dan waktu penyerahan (hulul al-ajal), khususnya bila yang dipertukarkan adalah barang ribawi tidak sejenis. Alhasil dengan konsep ini, jual beli emas di marketplace adalah boleh sebab sudah terjadi kesepakatan antara harga dan barang itu, serta diketahui masa penyerahannya.

Kedua, wajib kesepakatan bersama dengan penyerahan salah satu barang yang hendak dipertukarkan (taqabudl haqiqi qabla al-tafarruq al-majlis) dan mengenai waktu penyerahan gantinya (hulul al-ajal), bila yang dipertukarkan adalah barang ribawi sejenis. Alhasil, dengan konsep ini, maka utang emas hukumnya adalah boleh, asalkan emas yang dipergunakan untuk melunasi, memiliki berat, kadar dan jenis yang sama dengan emas yang diutang.

Di dalam akad  jual beli salam, ketentuan yang wajib berlaku adalah bahwa antara kedua harga dan barang, menghendaki salah satunya wajib diserahkan terlebih dulu, yaitu uangnya, atau emasnya. Tujuannya, adalah menghindari terjadinya gharar (ketidakpastian). Dan ini sudah umum berlaku dalam transaksi lewat marketplace.

Dengan demikian, jual beli emas lewat marketplace adalah boleh karena harga sudah diserahkan terlebih dulu, sementara barang diketahui kapan waktu penyerahannya, sehingga sudah memenuhi kaidah taqabudl (saling serah terima) dan hulul (jatuh tempo penyerahannya). Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here