Muhammad Zainul Majdi (TGB): Doktor Tafsir Yang Jadi Gubernur

1
661

BincangSyariah.com – Dr. H. Muhammad Zainul Majdi atau akrab dipanggil dengan panggilan ketokohannya di masyarakat Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) kemarin sempat membuat video pendek mengomentari kegaduhan media sosial terhadap ungkapan Jokowi yang membaca al-Fatihah dengan al-Fatekah. Dalam kapasitas beliau yang juga alumni S3 Universitas Al-Azhar, Mesir, beliau ingin mengatakan bahwa keniscayaan pengaruh logat kedaerahan pasti mempengaruhi bahasa, termasuk cara menyebut nama-nama surah. Beliau contohkan bahkan para syekh (masyayikh) yang mengajarkan Alquran, saat memerintah membaca surah tertentu logat kedaerahan Mesir ikut masuk. Seperti perubahan jim menjadi ghain (seperti g di bahasa Indonesia) ketika menyebut surah al-Najm menjadi an-Nagm.

Terlepas dari pro kontra yang baru lahir dari ungkapan itu, termasuk kesimpulan masyarakat kalau TGB kini mendukung penuh Jokowi, ulasan diatas menunjukkan kapasitas beliau untuk berbicara Alquran cukup mendalam meski di saat yang sama beliau adalah politisi.

Mengenal Sosok Muhammad Zainul Majdi

Dr. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA. Lahir di Pancor, Selong, Lombok Timur pada tanggal 31 Mei 1972. Ia adalah cucu dari pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Watan yang didrikan oleh kakeknya. TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor). Orangtuanya bernama H.M. Djamaluddin S.H., pensiunan birokrat Pemda NTB yang beristrikan putri Tuan Guru Pancor, Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid.

Masa pendidikannya sejak SMP sampai sebelum kuliah diselesaikan seluruhnaya di lembaga Pendidikan Nahdlatul Wathan, Pancor. Mulai dari tsanawiyah, aliyah, dan Ma’had Diniyah Alquran dan Hadis (MDQH) di bawah koordinasi organisasi yang sama.

Di tahun 1992, beliau berangkat ke Kairo dan mulai kuliah di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir di UniversitasAl-Azhar, Mesir. Ia lulus dan menyabet gelar Lc. Pada tahun 1998. Kemudian, beliau teruskan pendidikannya mulai dari Master of Art (MA) yang selesai tahun 2000. Hingga doktor di kampus yang sama pada selesai pada tahun 2010. Ia menulis disertasi dengan judul « Studi dan Analisis terhadap Manuskrip Kitab Tafsir Ibnu Kamal Basya dari Awal Surah An-Nahl sampai Surah As-Shoffat ». Disertasi ini memperoleh predikat cum laude (Martabah al-Syaraf al-Ula ma’a Haqqu al-Thiba’ah/Cum Laude dan Berkah Disebarkan).

Baca Juga :  Habib Bahar Pertentangkan Hukum Fikih dan Hukum Nasional, Apakah Hukum Nasional bukan Hukum Islam?

Saat pulang ke Indonesia tahun 1999, dia mulai aktivitas dakwahnya. Mengutip tesis Muhammad Hizbullah yang berjudul Relasi Kuasa Zainul Majdi: Dengan Perkembangan dan Upaya Kesatuan Nahdlatul Wathan di Pulau Lombok (2008-2015), ia juga bertindak sebagai ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi, Pondok Pesantren Darul Nahdlatain NW Pancor, Lombok Timur, NTB. Yayasan ini mengelola 17 lembaga pendidikan dari Raudhatul Athfal (TK) hingga Perguruan Tinggi. Ia juga menjadi Ketua Umum Dewan Tanfidziyyah Pengurus Besar Nahdatul Wathan (PBNW), organisasi yang didirikan oleh mendiang kakeknya dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah. Saat ini, lembaga pendidikan yang berada di bawah NW berjumlah 700 lembaga dan tersebar di NTB, NTT, Jakarta, Kalimantan Timur dan Barat, Sulawesi Selatan, Tengah, Bali, dan Batam.

Karir dan Pencapaian Politik 

Karir politiknya dimulai bersama dengan Partai Bulan Bintang dan menjadi anggota DPR mewakili partai tersebut di Komisi X pada periode 2004-2009. Namun di tahun 2008, ia mencalonkan diri sebagai calon gubernur Nusa Tenggara Barat dan terpilih untuk masa jabatan 2008-2013. Kemudian ia terpilih kedua kalinya pada periode 2013-2018 dengan mewakili partai yang berbeda, Partai Demokrat.

Di bawah kepemimpinan TGB, secara perlahan kepemimpinannya mampu merubah provinsi NTB dari provinsi miskin menjadi lebih baik. Di masanya, ia mampu mengembangkan sektor industri, kesehatan, dan pariwisata menjadi lebih baik.

Dalam catatan Tirto, ia pernah mendapatkan Lencana Ksatria Bhakti Husada Arutala di Era Presiden SBY pada Hari Kesehatan Nasional. Penghargaan diberikan kepada Majdi karena dinilai memiliki komitmen tinggi terhadap pembangunan bidang kesehatan. Bentuknya adalah program revitalisasi kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin di luar Jamkesmas.

Baca Juga :  Adab Menghormati Guru Menurut Pengarang Ta'lim Muta'allim

Dalam bidang pariwisata, NTB mempromosikan model Wisata Halal. Di tahun 2016, Indonesia memperoleh penghargaan World Best Halal Tourism Award dengan menyabet kemenangan 12 dari 16 award yang ada. Diantaranya dimenangkan oleh NTB yaitu World’s Best halal Beach Resort, World’s best Halal Tourism, dan World Best Halal Honeymoon Destination.

Dalam bidang industri, TGB memperoleh penghargaan untuk kategori The Best Dedicated Governor in Developing of MICE Industry atau Kepala Daerah yang Berdedikasi dan Berinovasi dalam Mengembangkan Industri Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition (MICE) pada tahun 2010.

 

Tulisan ini adalah bagian dari serial menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here