Ini Pendapat TGB Soal al-Fatekah Jokowi

0
1287

BincangSyariah.com – Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Muhammad Zainul Majdi atau yang populer disebut Tuang Guru Bajang (TGB) akhirnya bersuara soal bacaan al-Fatekah Pak Jokowi yang viral di media sosial. Ucapan tersebut diucapkan Pak Jokowi saat Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Medan pada Minggu (7/10) lalu.

TGB selaku mantan Gubernur NTB dan juga pakar di bidang tafsir Alquran, memberi komentarnya dalam bentuk video yang diunggah di fanpage akun Facebook-nya. Berikut ini poin-poin pernyataannya,

Pertama, bahwa apa yang disampaikan oleh pak Jokowi pada dasarnya adalah ajakan untuk berbuat baik. Yaitu untuk mendoakan saudara-saudara kita sesama bangsa Indonesia yang wafat dan syahid terkena musibah gempa bumi dan Tsunami di Palu dan Donggala.

Kedua, Islam mengapresiasi segala bentuk ajakan dan perilaku berbuat baik. Termasuk di dalamnya ketika membaca Alquran. Bahkan, ketika seseorang membaca ayat Alquran kemudian ada kata atau kalimat yang sulit dibaca (misalnya bergeser dari cara membaca hurufnya yang benar), Nabi Saw. memberikan penjelasan bahwa ia tetap mendapatkan dua pahala. Yaitu, pahala proses belajar dan pahala membaca Alquran. Karena Islam sangat menghargai pentingnya proses.

والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران

“Dan orang-orang yang membaca Alquran kemudian dia terbata-bata dan kesulitan membacanya, ia tetap mendapatkan dua pahala.” (H.R. Muslim).  

Ketiga, berdasarkan pengalaman pribadinya, ia menceritakan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi, di Mesir dan negara-negara Arab secara umum para masyayikh-nya acapkali juga ada perbedaan sedikit (akibat lahjah/dialek) dalam membaca huruf tertentu di Alquran. Misalnya, guru di Mesir saat memerintahkan muridnya membaca surat al-Najm, ia mengatakan “iqra’ surah al-Nagm”. Ini kalau dari segi bahasa, sebenarnya berimplikasi pada perbedaan arti. Al-Nagm itu artinya nada sementara al-Najm adalah bintang. Tapi, itulah pelafalan Mesir. Atau dengan dialek Yaman, ketika seorang guru memerintahkan murid membaca surah al-Qashas ia berkata, “iqra’ surah al-Ghasas !”. Qaf dalam dialek Yaman seringkali dibaca mendekati Ghayn. Ini juga sebenarnya memiliki arti yang berbeda. Qashas berarti kisah-kisah sementara Ghasas berarti tersedak (tersedak).

Baca Juga :  Hukum Melaknat Non-Muslim dalam Islam

Keempat, perbedaan pelafalan yang tidak dikarenakan kesengajaan, namun akibat latar belakang secara alami, itu tidak dapat disalahkan. Mari terus belajar untuk memahami Alquran. Karena dalam proses itu, Allah akan senantiasa menurunkan kebaikan.

 

Uraian diatas diolah dari video pernyataan Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi dalam akun resminya. Untuk melihat video, klik disini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here