Dinasti Fatimiyah: Dinasti Syiah Pertama di Mesir

2
1426

BincangSyariah.Com – Pada tahun 909, saat kekhalifahan Abbasiyah mulai melemah, terdapat sebuah kelompok Syiah yang melepaskan diri dan mendirikan Dinasti bernama Fatimiyah. Penamaan ini merujuk kepada Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib, putra dari paman Rasulullah. Dinasti Fatimiyah ini diprakarsai oleh kelompok Syiah Ismailiyah dan berkuasa di Afrika Utara dan Mesir. Masa kekuasaan mereka sangat kuat karena memliki kestabilan ekonomi, keamanan dan kerapihan administrasinya.

Mendakwa Keturunan Nabi, Ditolak Pengikut Sunni

Syiah Ismailiyah mengaku berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis keturunan Ali dan Fatimah lewat garis Ismai’il (w. 765), putra Ja’far as-Shodiq. Namun pengakuan mereka tidak diterima oleh kalangan Sunni. Kalangan Sunni malah menyebut dinasti ini sebagai Dinasti Ubaidiyun, keturunan Ubaidillah al-Mahdi (khalifah I Fatimiah; 909-934). Bahkan ada yang menuduh mereka keturunan Yahudi, sebagaimana tuduhan kepada Ubaidillah sendiri.

Kota Kairo yang akhirnya menjadi pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah mulanya didirikan oleh al-Muiz bersama panglima Jauhar al-Katib yang berhasil menguasai Mesir pada tahun 969 M. Ia berkuasa di Mesir setelah merasa bahwa kekuasaan di Tunis sudah menguat. Penamaan al-Qahirah (Kairo) oleh al-Muiz adalah untuk menjadikan Kairo sebagai kota kemenangan karena al-Qohiroh maknanya adalah kemenangan. Dari Mesir inilah, dinasti ini memperluas wilayah kekuasaanya sampai ke Palestina dan Suriah serta mengambil alih penjagaan atas tempat suci di Hedzjaz.

Dinasti Fatimiyah memilki peran besar atas kemajuan kota Mesir. Universitas al-Azhar yang terletak di Kairo merupakan lembaga pendidikan yang dibangun pada masa dinasti ini berdiri. Al-Azhar menjadi lembaga pendidikan yang legendaris hingga saat ini. Ia melahirkan banyak tokoh dan pemikir besar dunia.

Baca Juga :  Kerajaan Sanhajiah: Kerajaan Islam Milik Pemuka Kaum Amazigh

Mendirikan Al-Azhar

Al-Azhar diambil dari nama julukan Sayyidah Fatimah yaitu, a-Zahra. Lembaga ini dibangun 970 M. Mulanya lembaga ini berupa masjid yang tidak hanya digunakan untuk beribadah melainkan juga untuk pertemuan majlis-majlis ilmu dari kalangan Syiah maupun Sunni, hingga kahirnya ia berkembang menjadi universitas. Kini, banyak sekali mahasiswa dari penjuru dunia yang belajar siini.

Pendirian al-Azhar menandakan kemajuan Dinasti Fatimiyah yang berada di bawah kepemimpinan al-Muiz. Ia memerintah setelah kepemimpinan al-Mansur, al-Qaun dan Ubaidillah al-Mahdi. Setelah kepemimpinan al-Muiz yang memerintah sampai tahun 975. Kemajuan dinasti ini masih berlangsung terutama masa kepemimpinan al-Aziz dan al-Hakim.

Kemajuan dan Kebijakan Pemerintahan Dinasti Fatimiyah

Terdapat kurang lebih 20.000 toko yang berada di bawah kontrol pemerintahan yang penuh dengan barang dagangan dari dalam dan luar negeri. Selain itu juga terdapat sarana umum berupa tempat pemandian. Istana khaliifah tidak hanya dihuni oleh keluarga, melainkan juga pembantu yang berjumlah 2.000 dan pengawal kuda yang kurang lebih berjumlah 1.000.

Pada saat pemerintahan Khlaifah al-Muiz, ia melakukan tiga kebijakan besar yaitu, pembaruan di bidang administrasi, pembangunan, ekonomi, dan toleransi beragama. Ia mengangkat wazir (menteri) untuk mengatur administrasi. Ia menggaji tentara demi memajukan perekonomian mereka. ia juga membentuk lembaga peradilan yang tidak hanya diperuntukkan untuk Syiah tetapi juga Sunni. Al-Muiz juga membangun masjid, jembatan, istana dan kanal

Kemajuan di bidang pendidikan juga ditandai dengan pembangunan Darul Hikmah, sebuah lembaga pusat pengkajian dan pengajaran ilmu kedokteran dan astronomi pada masa kepemimpinan Khalifah al-Hakm. Ia juga membangun Darul ‘Ilmi, sebuah perpustakaan yang menjadi tempat berkumpulnya para ilmuan untuk melakukan diskusi.

Pada masa inilah muncul Ibnu Yunus (958-1009), seorang astronom besar yang menemukan pendulum dan alat ukuran waktu. Sebuah kitab yang merupakan karya dari Ibnu Yunus berjudul Zij al-Akbar al-Hakimi sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Penemuannya juga diteruskan oleh Ibnu an-Nabdi dan Hasan Ibn Haitsam (965-1039) M seorang astronom, ahli fisika, dan ahli politik.

Baca Juga :  Belajar dari Gus Dur

Era Kemunduran Kemunculan Dinasti Ayyubiyah

Kemunduran dinasti ini bermula dari ketidaksanggupan Khalifah az-Zafir yang mulai memerintah tahun 1149 atas serangan tentara Salib. Akhirnya ia meminta bantuan kepada penguasa Suriah yang berada di bawah kekuasaan Abbasiyah, Nuruddin Zangki untuk mengirim bala tentara ke Mesir. Pasukan tersebut berada di bawah komando panglima Syirkuh dan Salahuddin al-Ayyubi. Mereka berhasil membendung serangan tentara Salib di sana.

Sejak saat itulah nama Salahuddin mulai naik daun dan mendapat dukungan dari masyarakat Sunni. Saat Khalfah al-Adid sedang sakit, terjadi perebutan posisi wazir di kalangan elite Fatimiyah. Suasana ini dijadikan kesempatan oleh Salahuddin untuk menghidupkan Abbasiyah di Mesir. Sejak saat itulah kekuasaan Dinasti Fatimiyah berakhir di bawah kepemimpinan al-Adid dan muncullah Dinasti Ayyubiyah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here