Mengenal Keturunan Nabi Muhammad

1
38595

BincangSyariah.Com – Rasulullah semasa 62 tahun rentang hidupnya memiliki beberapa orang istri. Bahkan istri Rasulullah lebih dari empat. Hal ini tentu hanya berlaku bagi Rasulullah. Dalam hukum Islam ini disebutkan khususiyyah Rasul, yaitu hal-hal yang hanya boleh dilakukan Rasul dan tidak berlaku bagi umatnya. Dari sekian banyak istri, keturunan Nabi Muhammad hanya berasal dari dua orang istri: Sayidah Khadijah dan Sayyidah Mariyah Qibtiyyah.

Dari dua sosok ummahatul mukminin itu, keturunan Nabi Muhammad berjumlah tujuh orang: empat perempuan dan tiga laki-laki. Sejarah singkat ketujuh orang tersebut adalah sebagai berikut:

Keturunan Nabi Muhammad berkelamin laki-laki

Pertama, Qasim, beliau anak dari Siti Khadijah dan wafat dua tahun setelah kelahirannya. Karenanya, Rasulullah sering dijuluki dengan Abu Qasim.

Kedua, Abdullah, beliau juga anak dari Khadijah. Dia wafat dalam usia belia ketika Rasul masih berada di Madinah.

Ketiga, Ibrahim, beliau wafat menjelang akhir hayat Rasulullah. Dia anak satu-satunya dari Mariya Qibtiyyah. Ibrahim wafat kisaran satu setengah tahun setelah kelahirannya.

Ketiga anak laki-laki Rasulullah ini meninggal ketika usia mereka masih kecil. Tentunya, Rasulullah sangat sedih dengan kepergian ketiga putranya ini.

Keturunan Nabi Muhammad berkelamin perempuan

Pertama, Zainab, dia adalah putri Rasulullah yang paling tua. Beliau anak dari Khadijah. Suaminya bernama Abu al-‘Ash bin Rabi’, yang masuk Islam setelah Zainab. Pasangan suami istri ini memiliki putri bernama Umamah. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa cucu Rasulullah dari Zainab ini sering dibawa kakeknya saat shalat.

Kedua, Ruqayyah, beliau anak Rasul yang dinikahkan dengan Sahabat Utsman bin Affan. Mereka menikah di kota Mekah, sebelum kemudian juga ikut hijrah ke Habasyah.

Ketiga, Ummu Kultsum, beliau anak ketiga Rasulullah dari Siti Khadijah. Beliau juga menjadi istri Utsman bin Affan setelah Ruqayyah wafat.

Baca Juga :  Amal Saleh Ditentukan Bukan karena Keturunan

Keempat, Fathimah. Fathimah ini adalah anak Rasul yang paling kecil dari Siti Khadijah. Saat dewasa Fathimah kemudian dinikahkan dengan sahabat Nabi, Ali bin Abu Thalib. Dari perkawinan kedua orang ini, lahirlah Hasan dan Husain.

1 KOMENTAR

  1. APAKAH ADA ISTILAH KETURUNAN AHLUL BAIUT, KETURUNAN NABI ATAU KETURUNAN RASUL?

    Dalam Al Quran yang menyebut kata ‘ahlulbait’, ada 3 (tiga) ayat pada 3 surat pada hakikatnya penyebutan ahlul bait tidak saja ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW saja tapi pada seluruh keluarga para nabi dan rasul Allah.

    1. QS. 11:73: Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlul baitnya bisa mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika dikaitkan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    Ahlul Bait para nabi terdiri dari:

    1. Kedua orang tua kandung;
    2. Saudara kandung;
    3. Isteri-isteri dan
    4.Anak-anak kandungnya.

    Uraiannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW bisa jadi sbb.:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sebagai ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki, sayangnya khusus anak-anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’ atau keturunan-nya, tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa dan berkeluarga, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan ‘pewaris’ keturunannya.

    Jadi dikaitkan dengan rumusan ahlul bait di atas maka keturunan Ali bin Abi Thalib tidak dapat disebut ‘keturunan’ ahlul bait atau keturunan (baca keturunan) Muhammad SAW seperti orang-orang yang ngaku-ngaku dia atau mereka adalah ‘keturunan’ nabi atau ahlul bait atau terlebih lagi mengaku keturunan rasul?

    Istilah keturunan nabi dan keturunan rasul itu tidak dikenal di dalam Al Quran karena kata nabi dan rasul itu nama jabatan sama halnya dengan nama jabatan presiden, raja, sultan. Sebagai contoh, apakah anak-anak Pak Presiden Joko Widodo atau Pak Susilo Bambang Yudhoyono mau disebut KETURUNAN PRESIDEN atau anaknya Pak Anies Baswedan disebut KETURUNAN GUBERNUR??? Begitu juga anak-anak para nabi dan rasul pun tidak mau disebut mereka adalah keturunan nabi atau keturunan rasul.

    Oleh karena itu di dalam Al Quran tidak ada ketiga istilah keturunan itu dan bahkan telah mencontohkan bagaimana penulisannya, simak QS. 19:58 disebut keturunan Adam, keturunan Ibrahim dll. jadi bukan disebut semua keturunan nabi atau keturnan rasul.

    Kalau begitu, apakah ada istilah KETURUNAN MUHAMMAD? Istilah Keturunan Muhammad tidak DIABADIKAN di dalam Al Quran sama halnya tidak adanya istilah KETURUNAN NUH (QS. 19:58), mengapa demikian? Ya memang karena yang berhak ‘bernasab’ yakni ahlul bait, anak kandung lelaki dari kedua nabi tersebut telah diputus oleh Allah SWT. Bedanya?

    Kalau ahlul bait, anak kandung dari Nabi Nuh As diputus hak nasabnya oleh Allah SWT karena durhaka (QS. 11:42-46) maka tidak tersebut atau diabadikan istilah KETURUNAN NUH di dalam QS. 19:58. Sedangkan, terhadap Nabi Muhammad SAW, nasabnya pun diputus oleh Allah SWT karena ahlul bait, anak lelaki beliau diwafatkan Allah SWT ketika mereka masih kecil-kecil.

    Kalau pun Nabi Muhammad SAW berkeinginan mempunyai pewaris keturunannya, maka di dalam Al Quran pun ada contoh nabi yang memohonkan pewarisnya, Nabi Zakaria As (QS. 21:89) lalu dianugerahi anaknya sebagai nabi juga ya Nabi Yahya As.

    Dalam Al Quran soal nasab perempuan hanya dialami oleh Nabi Isa Al Masih sehingga beliau boleh menggunakan istilah IBNU MARYAM (QS. 19:34) sesudah itu tidak ada lagi yang terjadi seperti ini. Karena sesuai dengan QS. 33:4-5 telah diberikan sinyal bahwa nasab itu hanya ada pada pihak lelaki bukan pihak perempuan.

    Dengan demikian, dugaan adanya nasab melalui Bunda Fatimah bin Muhammad karena anak-anak beliau dengan suaminya Ali bin Abi Thalib seperti Hasan dan Husein pun tidaklah bisa beralih nasab sehingga menjadi HASAN IBNU FATIMAH ataupun HUSEIN BIN FATIMAH seperti apa yang dialami oleh Isa ibnu Maryam. Oleh karena itu, baik Hasan maupun Husein tetap menggunakan istilah BIN ALI bin Abi Thalib.

    https://bacadanbagikanilmu.blogspot.com/2016/12/bisakah-membuktikan-seseorang-keturunan.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here