Mengenal Kitab-Kitab Ilmu Hadis Dari Masa ke Masa

0
26

BincangSyariah.Com – Hemat penulis, sederhananya dalam konteks Indonesia, dalam 20 tahun terakhir ketika seseorang mengutip ayat Al-Quran atau hadis Nabi Saw., kita sangat ini mendengar atau perlu menjelaskan di mana sumbernya. Jika Al-Quran, maka di surah apa dan ayat berapa. Dan jika hadis Nabi Saw., kita ingin mengetahui di kitab apa hadis tersebut, ba dalam menjelaskan pandangan keagamaan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, kita mulai sering perlu menjelaskan atau berkeinginan mengetahui, sumber dari hadis tersebut. Bahkan, kita masih ingin mengetahui sejauh mana validitas yang disebut hadis Nabi Saw.

Pembicaraan mengenai validitas hadis Nabi Saw. yang melahirkan kesimpulan apakah sebuah hadis Nabi Saw. itu otentik (shahih), atau lemah bahkan palsu, adalah tema utama di dalam keilmuan yang disebut sebagai ilmu hadis. Ilmu hadis sendiri dapat didefinisikan sebagai seperangkat kaidah untuk menentukan tingkat validitas riwayat, utamanya apa yang disandarkan kepada Nabi Saw. atau para sahabat Nabi dan pengikutnya (taabi’in). Di dalamnya tercakup prasayarat apa saja yang dibutuhkan untuk menilai validitas periwayat, yaitu dari sisi jalur periwayatannya (sanad) dan konten riwayat (al-matn/matan).

Awalnya, apa yang disebut ‘ulum al-hadits ini adalah kaidah-kaidah yang tersebar dalam berbagai kitab atau masih menyatu dengan bahasan keilmuan tertentu. Untuk melihat perkembangan struktur dalam ilmu hadis tersebut, berikut ini adalah daftar kitab-kitab ilmu hadis dari masa ke masa,

1) al-Muhaddits al-Fashil baina ar-Rawi wa al-Wa’i

Buku ini disebut-sebut sebagai karya pertama di bidang ilmu hadis. Ditulis oleh seorang ulama di abad ke-4 hijriyah bernama Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Abd ar-Rahman bin Khallad ar-Ramahurmuzi (w. 306 H). Karya ini belum mencakup seluruh bahasan yang kini dikenal dalam ilmu hadis atau ‘Ilm Mustholah al-Hadits.

2) Ma’rifatu ‘Ulum al-Hadits

Buku ini ditulis oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdullah al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H). Dalam buku ini, juga belum mencakup bahasan atau topik-topik yang hari ini dikenal dalam ilmu hadis.

Baca Juga :  Lima Syarat agar Hadis Bisa Dikatakan Sahih

3) al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifati ‘Ulum al-Hadits

Buku ini ditulis oleh Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Ashbihaani (w. 430 H). Buku ini ditulis dalam rangka menambahkan apa yang belum dibahas oleh al-Hakim dalam Ma’rifatu “ulum al-Hadits. Abu Nu’aim sendiri adalah penulis prolifik dengan mengumpulkan berbagai macam riwayat, mulai dari Hilyatu al-Awliyaa’ (kumpulan riwayat-riwayat mereka yang dikategorikan sebagai waliyullah); Tarikh Ashbihaan (Sejarah Kota Ishfahan); dan Dalaail an-Nubuwwah (Riwayat-Riwayat terkait Tanda-Tanda Kenabian).

4) al-Kifayah fi Ma’rifati Ushul ar-Riwaayah

Buku ini ditulis oleh Abu Bakar Ahma bin ‘Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), seorang ulama yang tekun menulis berbagai tema dan bahasan dalam keilmuan hadis dalam kitab yang berbeda-beda. Kitab al-Kifayah adalah kitab yang menjadi pijakan awal sistematika ilmu hadis.

5) al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adaab as-Saami’

Buku ini juga ditulis oleh al-Khatib al-Baghdadi. Kitab ini diantara yang cukup lengkap membahas landasan dalam riwayat-riwayat hadis Nabi maupun pernyataan para tabi’in dan ulama salaf tentang landasan etika kegiatan belajar hadis atau mendapatkan hadis, baik sebagai guru maupun muridnya. Bahasan ini kelak akan menjadi bahasan wajib yang dibicarakan jika berbicarakan ilmu-ilmu hadis.

6) Al-Ilmaa’ ilaa Ma’rifati Ushul ar-Riwaayah wa Taqyiid as-Samaa’

Buku ini ditulis oleh al-Qadhi ‘Iyadh bin Musa al-Yahshobi (w. 544 H). Kitab ini tidak mencakup seluruh bahasan yang saat ini dikenal sebagai ilmu hadis atau mushtholah al-hadits. Namun, kitab ini sudah menyusun secara sistematis bahasan tentang cara periwayatan hadis (kaifiyyatu at-tahammul wa al-adaa’).

7) ‘Ulum al-Hadits (Muqaddimah Ibn as-Shalah)

Bisa dikatakan, hampir seluruh bahasan di dalam apa yang disebut sebagai ‘ilm al-mustholah al-hadits pada hari ini seluruhnya bersumber dari susunan dalam kitab ‘Ulum al-Hadits atau yang lebih dikenal dengan nama Muqaddimah Ibn as-Shalah, sesuai dengan nama penulisnya, Ibn Shalah Abu ‘Amr ‘Utsman bin ‘Abd ar-Rahman as-Syahrazuri. Syahrazuri, adalah laqab (julukan) untuk orang yang berasal dari kota Shar-e Zur (kini masuk ke dalam wilayah Iran). Para ulama menyebut kalau Muqaddimah Ibn Shalah inilah yang menyusun bahasan-bahasan ilmu hadis yang diantaranya terpisah-pisah seperti dalam karya-karya al-Khatib al-Baghdadi. Kitab ini jugalah yang nantinya diapresiasi oleh para ulama selanjutnya dalam bentuk ringkasan (mukhtashar/ikhtishar); digubah menjadi syair keilmuan (nadham); atau diberikan anotasi dan penjelasan lebih panjang (syarh).

Baca Juga :  Dengan Ilmu Hadis, Baca Info di Media Sosial Bisa Lebih Bijak

8) at-Taqrib wa at-Taysir li Ma’rifati Sunan al-Basyir wa an-Nadziir

Kitab ini dikarang oleh pengarang prolifik dalam khazanah keislaman dan karya-karyanya seolah abadi masih dipelajari sampai saat ini, Abu Zakariyya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H). al-Imam an-Nawawi dalam kitab ini mampu meringkas bahasan yang panjang lebar dalam kitab Muqaddimah Ibn Shalah. Namun, ringkasan ini kelak menggerakkan as-Suyuthi, ulama abad 9 H untuk memberikan penjelasan terhadap karya an-Nawawi tersebut.

9) al-Baa’its al-Hatsiis Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits

Ditulis oleh Ibn Katsir ad-Dimasyqi, murid Ibn Taymiyyah yang juga penulis tafsir yang masyhur, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, kitab ini adalah produk ikhtisar lain dari kitab Muqaddimah Ibn Shalah. Para ulama menyebut beda karya Ibn Katsir dengan ringkasan Muqaddimah Ibn Shalah karya an-Nawawi adalah karya Ibn Katsir memiliki redaksi yang lebih lugas dan memberikan beberapa tambahan penjelasan.

9) at-Tabshirah wa at-Tadzkirah

Ditulis oleh Zaynuddin ‘Abd ar-Rahim bin al-Husain al-‘Iraqi (w. 806 H). Kitab ini adalah model apresiasi lain dari kitab Muqaddimah Ibn Shalah, dimana al-‘Iraqi mengalih wahana-kan dari deskripsi menjadi syair yang berjumlah 1000 bait, sehingga nama lainnya juga dikenal dengan Alfiyyatu al-‘Iraqi.

10) Fath al-Mughiits bi Syarh Alfiyyati al-Hadits

Ini ditulis oleh Muhammad bin ‘Abdurrahman as-Sakhawi (w. 902 H) sebagai syarah terhadap 1000 bait al-‘Iraqi.

11) Nukhbatu al-Fikar fi Mushtholah Ahl al-Atsar

Kitab ini ditulis Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) berisi penjelasan singkat terkait ilmu hadis. Buku ini bukan merupakan ringkasan dari kitab manapun. Ibn Hajar al-‘Asqalani kemudian mensyarahi kitab ini kembali dengan judul Nuzhatu an-Nadhar.

12) al-Manzhumah al-Baiquniyyah

Karya ‘Umar bin Muhammad al-Baiquni (w. 1080) ini bisa dikatakan sebagai bait paling ringkas di bidang ilmu hadis (tidak lebih dari 34 bait), dan menjadi syair pembelajaran ilmu hadis yang digunakan sebagai bahan pembelajaran di berbagai pesantren atau kursus di bidang ilmu hadis.

Baca Juga :  Jasa Imam Romahurmuzi dalam Kajian Islam

13) Qawaa’id at-Tahdiits

Buku ini bisa dikategorikan sebagai karya dengan pola yang berbeda dari karya-karya di bidang ilmu-ilmu hadis lainnya. Ditulis oleh ulama Suriah abad ke-19, Jamaluddin al-Qasimi (w. 1332 H/1914 M), ulama yang aktif menulis berbagai keilmuan keislaman dengan gaya bahasa yang sastrawi dan populer. Ia sendiri menulis tafsir Al-Quran yang sangat tebal berjudul Mahasin at-Ta’wiil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here