Biografi Imam As-Syafi’i (150-204 H/767-820 M): Dari Pandai Berdebat sampai Senang Olahraga Panah

1
26

BincangSyariah.Com – Nama lengkap tokoh besar ini adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Hasyim bin al-Muthallib bin Abdi Manaf bin Qushay; kakek Nabi Muhammad saw. Panggilan sehari-harinya ialah Abu Abdullah.

Ada perbedaaan pendapat para ahli mengenai tempat kelahiran Imam as-Syafi’i. Sebagian mengatakan di Gaza berdasarkan suatu riwayat bahwa orang tuanya, Idris, pernah bermimpi merasa tidak cocok tinggal di Makkah. Karena itu ia pindah ke Gaza. Di tempat ini mereka tinggal untuk waktu yang cukup lama. Akan tetapi setelah as-Syafi’i lahir, ia meninggal dunia.

Sebagian lain berpendapat bahwa al Syafi’i lahir di ‘Asqalan (kini berada di wilayah Mesir). Pada usia dua tahun, ibunya merasa khawatir kehilangan kerabatnya. Karena itu ia segera menuju Makkah, tempat ayah dan moyangnya. Di tempat ini sang ibu mengasuh dan mendidik as-Syafi’i sampai usia belajar. Sesudahnya ia menyerahkan as-Syafi’i kecil kepada guru al-Qur’an. Akibat kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi, pendidikan As-Syafi’i kurang mendapatkan perhatian yang serius dari gurunya.

Untungnya, As-Syafi’i adalah anak ini sangat cerdas. Pelajaran yang diberikan gurunya dengan mudah diserap dengan baik. Tidak jarang ia mengajarkan kembali ilmu yang diperolehnya kepada teman-temannya begitu guru mereka meninggalkan kelas. Berkat kepandaian dan kebaikannya, ia dibebaskan dari biaya sekolahnya. Keadaan ini berlangsung sampai ia hafal Al-Qur’an di usia tujuh atau sembilan tahun.

Begitu tamat belajar, ia segera pergi ke kampung Hudzail yang terkenal dengan kehalusan bahasanya. Al Syafi’i dengan tekun mempelajari bahasa dan sastra Arab dari kampung ini. Melihat kecerdasan dan keseriusannya dalam menuntut ilmu, masyarakat menganjurkannya belajar ilmu fiqh. Dari sini ia  berangkat ke Makkah dan mulai belajar fiqh pada Muslim bin Khalid az-Zinji, Sufyan bin Uyaynah al-Hilali, dan ulama lainnya. Az-Zinji pernah mengatakan kepada as-Syafi’i, “hai Abu Abdillah, sekarang sudah waktunya  kamu  berfatwa.” Padahal usia as-Syafi’i waktu itu belum genap dua puluh tahun.

Belajar di Madinah

Popularitas kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik sudah didengar as-Syafi’i saat ia masih di Mekkah. Ia sangat berharap dapat memperoleh kitab itu dan menghafalkannya. As-Syafi’i pun sangat ingin bisa bertemu penyusunnya, al-Imam Malik bin Anas. Ia pun memohon pada gubernur Makkah agar bisa membantunya dengan memberikan rekomendasi yang akan memungkinkannya bertemu Malik bin Anas. Surat rekomendasi yang ditujukan kepada gubernur Madinah itu dibawa sendiri oleh as-Syafi’i.

Begitu surat itu diserahkan, as-Syafi’i sangat berharap agar sang gubernur dapat menghadirkan Malik bin Anas ke kediamannya. Gubernur Madinah memandang permintaan tersebut sangat memberatkan karena tidak ada seorangpun yang mampu melakukan hal tersebut. Sang Gubernur pun mengajak as-Syafi’i berkunjung ke rumah Imam Malik. Gubernur pun memperkenalkan as0Syafi’i kepada Malik dan menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah berlangsung pembicaraan yang cukup serius, Imam Malik  dapat mengetahui kecerdasan anak muda itu. Karena itu ia menerimanya dengan baik.

Dengan penuh minat, as-Syafi’i mulai belajar. Di samping kepada Malik bin Anas, ia juga belajar pada Ibrahim bin Abi Yahya dan para ahli fikih yang ada di Madinah. Ini as-Syafi’i jalani sampai al-Imam Malik meninggal dunia tahun 179 H/795 M.

Ditugaskan ke Yaman sampai Dituduh Ingin Memberontak 

Meninggalnya al-Imam Malik, guru yang begitu dicintai as-Syafi’i membuatnya tidak kerasan berlama-lama untuk tetap di Madinah. Secara kebetulan, waktu itu, Gubernur Yaman akan ke Madinah. Orang-orang Quraisy pun memohon kepada gubernur Yaman agar membawa as-Syafi’i ikut serta untuk membantu beberapa pekerjaannya.

Di Yaman, as-Syafi’i dapat membantu tugas sang gubernur dengan sangat baik. Ia pun menjadi populer di masyarakat Yaman saat itu. Ia pun sempat bertemu seseorang bernama Mathraf bin Mazin dan ulama lainnya untuk mempelajari ilmu firasat sampai mahir. Namun, karena hampir menyita seluruh waktunya, ulama di masa itu menyarankan agar tidak lagi melanjutkan mempelajari

Popularitas dan kebesaran nama as-Syafi’i pun menimbulkan kecemburuan sebagian  pejabat di sana. Mereka khawatir kehilangan wibawa dan kekuasaannya. Melalui salah seorang pejabat tinggi, mereka berusaha menjatuhkan nama al Syafi’i dengan cara mengirim surat pengaduan yang sangat provokatif kepada Khalifah Harun al Rasyid. Menurut surat itu kaum Alawiyyin di bawah pimpinan as-Syafi’i melakukan gerakan menentang kekuasaan Baghdad. Berikut isi suratnya,

“Bersama mereka (kaum Alawiyyin) ada orang yang bernama Muhammad bin Idris. Ia sangat pandai bicara. Tak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya. Jika tuan ingin wilayah Hijaz tetap berada dalam kekuasaan tuan, maka sebaiknya tuan mengundang mereka ke hadapan tuan.”

Harun Ar-Rasyid mempercayai surat itu dan memerintahkan bawahannya untuk membawa yang disebut dalam surat tersebut, termasuk as-Syafi’i ke Irak. Sesampainya di Baghdad, mereka semua dibunuh, kecuali as-Syafi’i. Ini terjadi setelah as-Syafi’i berdebat seru dengan Harun Ar-Rasyid. As-Syafi’i ditemani Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani, sahabat Abu Hanifah yang sudah dikenal as-Syafi’i saat ia masih di Mekkah. Lewat bantuan as-Syaibani, as-Syafi’i berhasil dibebaskan Harusn Ar-Rasyid. Setelah peristiwa memilukan itu, as-Syafi’i tetap tinggal di Baghdad. Ia berguru kepada ‘Abdu al-Wahab bin ‘Abdu al-Majid al-Bashri, dan ulama lainnya.

Selamat dari Hukuman Mati Setelah Berdebat dengan Khalifah

Selama di Baghdad, ia menjadi tamu terhormat Muhammad bin al-Hasan. Lewat al-Hasan as-Syaibani juga as-Syafi’i memperoleh berbagai kemudahan hidup saat di Baghdad. Bahkan as-Syafi’i sempat meminta Muhammad bin al Hasan memperlihatkan buku-bukunya dan menyalinnya.

Wawasannya pun menjadi semakin luas. Pengetahuannya tentang pemikiran fiqh Abu Hanifah semakin bertambah, sama seperti pengetahuannya tentang fiqh Maliki sewaktu ia berada di Madinah. Semua pengetahuan ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan intelektualitasnya dikemudian hari. Dari sini ia mulai mengarang dan kembali mengajar. Tidaklah mengherankan jika pendapat-pendapat al Syafi’i dilihat orang sebagai perpaduan antara fiqh ahli hadits dan fiqh rasionalis.

Di negara ini pula as-Syafi’i akhirnya mendapat penghormatan yang sangat baik dari para ulama dan penguasa. Setelah itu ia kembali ke Makkah dan tinggal di sana untuk beberapa waktu sambil tetap menyebarkan pikiran-pikirannya kepada kaum muslimin dari berbagai pelosok dunia yang kebetulan sedang menunaikan haji.

Tahun 195 H, ia kembali lagi ke Baghdad. Persinggahannya yang kedua di kota ini berlangsung selama dua tahun. Di tempat ini ia juga melanjutkan  mengajar kepada para ulama besar dan kecil dari berbagai aliran, mulai dari barisan ahli hadis sampai kaum rasionalis. Tidak ahli hadits, kaum rasionalis dan lainnya. Tidak sedikit para ulama yang kemudian menarik kembali pendapat yang dianut sebelumnya dan berganti mengikuti pendapat al Syafi’i. Sesudah itu ia kembali lagi ke Makkah. Tahun 198 H ia ke Baghdad lagi untuk ketiga kalinya. Tetapi tidak lama kemudian ia berangkat ke Mesir.

Pindah ke Mesir

Sudah menjadi kebiasaan jama’ah haji Mesir pada waktu itu, apabila mereka telah selesai menunaikan hajinya di Makkah, ia berziarah ke makam Rasulullah saw. di Madinah. Kesempatan itu juga mereka manfaatkan untuk mengaji kitab al-Muwattha’ di masjid Nabawi. Kitab ini sebelumnya telah mereka kenal ketika di Mesir melalui para ulamanya, antara lain Abdullah bin ‘Abd al-Hakam, Asyhab, Ibn al-Qasim dan al-Laits bin Sa’ad. Para ulama ini sebenarnya mendengar kitab tersebut dari Imam al Syafi’i. Sebaliknya sang Imam juga telah mendengar, meskipun serba sedikit, tentang Mesir dan kehidupan masyarakatnya. Ia berharap dengan penuh antusias bisa mengunjungi dan menetap di kota itu untuk menyampaikan pikiran-pikirannya.

Dengan ditemani Abbas bin Abdullah bin Abbas bin Musa bin Abdullah bin Abbas, gubernur Mesir waktu itu, ia berangkat. Sekitar tahun 199 H atau 200 H, ia sampai di Mesir. Imam al-Laits bin Sa’ad waktu itu sudah wafat. Kedatangan Imam al Syafi’i  disambut dengan sangat gembira oleh masyarakat di kota itu. Mereka berkeyakikan bahwa Allah menganugerahi masyarakat Mesir setelah kepergian al-Laits bin Sa’ad dengan menghadirkan as-Syafi’i. Di kota ini al Syafi’i tinggal bersama keluarganya dari kabilah Uzd.

Mengajar di Masjid ‘Amr bin ‘Ash

Jadwal kegiatan Imam al Syafi’i sehari-hari di masjid Amr bin Ash ini adalah sebagai berikut : Sesudah shalat subuh sampai matahari terbit mengajar al Qur-an dan ilmu-ilmu al Quran. Dari terbit matahari sampai jam 09.00 mengajar ilmu Hadits kepada para mahasiswa. Begitu selesai, teman-temannya datang untuk berdisksusi. Kemudian dilanjutkan dengan pengajaran bahasa dan sastra Arab. Ini berlangsung sampai tengah hari. Setelah itu ia pulang bersama teman-teman dan mahasiswa-mahasiswa pasca sarjana. Mereka antara lain adalah : Muhamad bin Abdullah bin Abd al Hakam, Rabi’ bin Sulaiman al Jizi dan al Muzani.

Al Syafi’i termasuk ulama yang menyukai kebebasan berpikir. Kepada para mahasiswanya ia selalu mengatakan : “ apabila argumen-argumenku kurang tepat menurut kalian, maka tidak perlu kalian terima, karena akal pikiran tidak bisa dipaksa untuk menerima kebenaran seseorang “.

Ia juga orang yang selalu menganjurkan perlunya  spesialisasi ilmu. Kepada para mahasiswanya ia seringkali mengemukakan hal ini . Katanya : “ Aku selalu kalah berdebat apabila berhadapan dengan seorang spesialis. Sebaliknya, aku dapat mengalahkan dengan mudah seorang generalis “.

Sosok as-Syafi’i: Argumennya Selalu Kuat dan Pandai Memanah

Pada waktu al-Imam as-Syafi’i tiba di Mesir, Abdullah bin al-Hakam menggambarkan as-Syafi’i dengan kata-kata ini, “Ia selalu bersibak, tubuhnya cukup tinggi dan suaranya terang. Kalau bicara ia selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar. Nampak pada dirinya tanda-tanda keberanian. Pandangan-pandangannya sangat jauh. Meskipun mukanya tipis, tetapi lengan, paha dan betisnya cukup besar.”

As-Syafi’i pandai memanah. Beliau sendiri pernah mengatakan, “dulu aku mempunyai dua cita-cita; menjadi pemanah dan ilmuwan. Ternyata aku memang bisa memanah. Kalau aku memanah 10 kali, maka sembilan dari anak panah itu mengenai sasaran.”

Al-Muzani pernah menceritakan pengalamannya bersama as-Syafi’i yang hobi memanah. “Suatu hari aku berjalan-jalan bersama Syafi’i. Di tengah jalan kami menjumpai seorang laki-laki yang sedang memanah dengan anak panah buatan Arab. AsSyafi’i berhenti. Orang itu lalu membidikkan anak panahnya dan dengan tepat  mengenai sasaran. “Anda hebat !“ kata Syafi’i memuji. Sesudah itu, as-Syafi’i berbisik kepadaku apakah aku punya uang. Ketika aku jawab bahwa aku hanya punya tiga dinar, AsSyafi’i memintaku untuk menyerahkan kepada pemanah itu. “Maaf, aku hanya bisa memberikan sejumlah ini !“ kata as-Syafi’i kepada laki-laki pemanah tadi.”

As-Syafi’i dikenal sangat cerdas. Dalam diskusi-diskusi yang diikutinya, ia selalu menang dengan argumen yang sangat kuat. Sewaktu berdiskusi dengan teman yang sekaligus juga gurunya, Muhammad bin al Hasan as-Syaibani, As-Syafi’i dapat mengalahkannya. Mendengar berita ini, Khalifah Harun ar-Rasyid sampai berkomentar, “pengetahuan Muhammad bin al-Hasan akan kalah jika berdebat dengan laki-laki dari Quraisy. Nabi saw. pernah mengatakan, “Dahulukan Quraisy dan jangan mendahului mereka. Belajarlah dari mereka dan jangan mengajari. Pengetahuan orang alim dari mereka meliputi lapisan-lapisan bumi.”

Murid-Murid As-Syafi’i

Sejak masa muda Imam besar ini sudah aktif belajar, mengajar dan berfatwa. Ia pernah mengajar di masjid Nabawi di Madinah, Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Amr bin Ash di Fustat, Mesir dan masjid-masjid di Irak. Sejumlah ulama besar yang lahir dari didikan al Syafi’i yang dapat dicatat antara lain:

  1. Ahmad bin Khalid al Khalal,
  2. Ahmad bin Hanbal,
  3. Ahmad bin Muhammad bin Sa’id as-Shairafi,
  4. Muhammad bin Abdullah bin ‘Abd al-Hakam,
  5. Muhammad bin Imam as-Syafi’i (putranya sendiri),
  6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid bin al Yaman,
  7. Ishaq bin Rahawaih,
  8. Ismail bin Yahya al-Muzani atau yang biasa dipanggil Abu Ibrahim,
  9. Al-Hasan bin Muhammad bin Shabah al Baghdadi al Za’farani,
  10. al-Husein bin Ali bin Yazid al-Karabisi,
  11. Harmalah bin Yahya bin Abdullah al Tajibi,
  12. Rabi’ bin Sulaiman bin Daud al Jizi,
  13. Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi,
  14. Abu Bakar al Humaidi,
  15. Yusuf bin Yahya al Buwaithi,
  16. Yunus bin Abd al A’la.
  17. Dari kalangan murid perempuan tercatat antara lain saudara perempuan al Muzani. Mereka adalah para cendekiawan besar dalam bidang pemikiran Islam dengan sejumlah besar bukunya baik dalam fiqh maupun lainnya.

Karya-Karya

Di Baghdad, Irak, al Syafi’i menulis bukunya yang terkenal Al-Hujjah (argumentasi). Menurut penulis buku Kasyf al Zhunun, “buku Syafi’i tersebut (al-Hujjah) terdiri dari satu jilid tebal. Kalau orang menyebut al-Qaul al-Qadim (pendapat as-Syafi’i sebelum berpindah ke Mesir), maka yang dimaksud adalah pendapat-pendapat al Syafi’i yang terdapat dalam kitab itu.”

Di Baghdad juga ia menulis karya pertama yang disebut sebagai karya pertama yang kelak menjadi keilmuan ushul al-fiqh, kitab ar-Risalah. Kitab ini membahas persoalan-persoalan bagaimana memahami Al-Quran dan Hadis yang mengandung redaksi perintah (Amr) atau larangan (Nahy), kedudukan hadis Nabi, keabsahan Qiyas, dan persoalan-persoalan yang dikenal dalam kajian Ushul al-Fiqh. Disebutkan, ketika di Mesir, ia merevisi beberapa pendapat dalam kitab tersebut.

Selain menulis ar-Risalah, ia juga menulis sejumlah kitab lain. Mulai dari Ahkam al-Qur’an (hukum-hukum dalam Al-Quran); Ikhtilaf al-Hadits (hadis-hadis yang diperselisihkan maknanya oleh ulama); Ibthol al-Istihsan (kekeliruan metode Istihsan) ia juga menulis kitab :  Ahkam al Qur-an  ( hukum-hukum dalam al Qur-an ),  Ikhtilaf al Hadits  ( hadits-hadits yang diperdebatkan )  Ibthal al Istihsan  ( kekeliruan metoda Istihsan ),  Jima al ‘Ilm  ( kumpulan ilmu ) dan  Kitab al Qiyas  ( metoda analogi ).

Karangannya yang lain : Al Mabsuth  ( fiqh ), demikian menurut Rabi’ bin Sulaiman dan al Za’farani. Kemudian ;  Ikhtilaf Malik wa al Syafi’i  ( perbedaan antara Malik dan Syafi’i ),  Al Sabq wa al Ramyu  (pertandingan dan bermain panah),  Fadha-il  Quraisy            (keunggulan Quraisy), Al Radd ‘ala Muhammad bin al Hasan, (sanggahan terhadap Muhammad bin al Hasan ) dan  Al Umm  ( kitab induk ).

Puisi-Puisi al Syafi’i

Untuk kajian bidang bahasa dan sastra, termasuk puisi (as-syi’r), ia memang sangat berbakat. Melalui puisi-puisinya juga as-Syafi’i leluasa menyampaikan pikiran-pikirannya. Isinya sarat dengan pesan-pesan moral dan sufistik. Berikut beberapa puisinya,

[1]

Si kaya yang tak bersyukur adalah sesat

Kedermawanan mendekatkan yang jauh

Kedermawanan membuka semua pintu yang terkunci

Jika kau dengar dia, konon, dermawan

Percayalah hanya jika tangannya berbuah

[2]

Jika kau dengar dia konon pelit

Percayalah hanya kalau dia membawa air minum

Lalu dia minum sendiri

Bila uang diperoleh dari rekayasa

Lihatlah

Aku akan bergantung pada bintang-bintang di langit

[3]

Sang cendekiawan hidupnya miskin

Si kaya dan sang cendekiawan memang beda

Adalah Kuasa Tuhan juga

Bila si pintar melarat

Si dungu bermegah-megah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here