Biografi Imam Malik bin Anas (93-197 H/712 – 795 M): Alim dari Madinah yang Jadi Guru Anak-Anak Khalifah

0
8

BincangSyariah.Com – Yang kini selalu disebut sebagai “pendiri” salah satu mazhab fikih, mazhab Maliki, bernama Malik bin Anas bin Malik bin Abu ‘Amir bin Amr al-Ashbahi al-Madani. Ia dijuluki al-Imam Dar al-Hijrah karena hidupnya sebagian besar hidup di Madinah. Malik juga biasa dipanggil Abu Abdullah dan Al-Ashbahi, nama julukan kakeknya.

Nama aslinya sebenarnya adalah Al-Harits. Silsilahnya sampai pada Ya’rab bin Qahthan, satu kabilah besar di Yaman. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H. Sangat masyhur dalam literatur sejarah keislaman disebutkan kalau Imam Malik tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali hanya untuk berhaji ke Mekkah.

Masa Belajar dan Kredibilitas Keilmuan

Malik bin Anas lahir di Madinah tahun 93 H. Sejak usia sangat beliau ia sudah hafal Al-Quran dan sangat nampak minatnya kepada ilmu. Ini seperti tergambar dalam dialog antara Imam Malik dan ibunya, Menginjak usia dewasa ia sudah hafal al-Quran dan sudah nampak minatnya dalam ilmu pengetahuan. Mengenai hal ini ia sendiri menceritakan bahwa suatu hari ia meminta izin ibunya untuk bisa pergi menuntut ilmu dan bisa menulis. Sang ibu mengatakan, “kemarilah anakku, kamu harus pakai baju ilmu.“  Lalu beliau mengenakan pakaian untukku dan meletakkan bangku di kepalaku. Di atasnya diletakkan pula sorban. Setelah itu ibu mengatakan, “Sekarang kamu boleh berangkat dan menulis. Pergilah kepada Rabi’ah. Sebelum belajar ilmu lebih dahulu kamu harus belajar tatakrama (al-adaab).”

Sejak saat itu Malik sering menemui Rabiah dan Abdul Rahman bin Hurmuz untuk mendengarkan hadis-hadis Nabi saw. Di samping kepada dua orang itu, ia juga belajar hadits pada Az-Zuhri dan Nafi’ maula Ibn Umar. Ia juga belajar ilmu Qira’at kepada Nafi’ bin Abi Nu’aim.

Selama menuntut ilmu itu, Malik dikenal sangat sabar. Tidak jarang ia menemui kesulitan dan penderitaan. Ibnu al Qasim pernah mengatakan, “penderitaan Malik selama menunut ilmu sedemikian rupa sampai-sampai ia pernah terpaksa harus memotong kayu atap rumahnya, kemudian dijual ke pasar. Tetapi setelah itu dunia berpaling kepadanya.”

Imam Malik dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu hadis dan fikih. Tentang penguasaannya dalam hadits ia sendiri pernah mengatakan, “aku telah menulis dengan tanganku sendiri 100.000 hadis.”

Pada kesempatan lain ia mengatakan, “aku datang kepada Sa’id bin al Musayyab, Urwah, al Qasim, Abu Salamah, Humaid dan Salim secara bergiliran, untuk mendengarkan hadits. Dari masing-masing aku terima 50-100 hadits. Sesudah itu aku pulang dan aku telah dapat menghafalnya tanpa keliru sedikitpun.”

Sufyan bin ‘Uyaynah mengatakan, “aku tidak pernah melihat ada orang yang begitu bagus dalam belajar seperti Malik. Ia juga begitu dekat dengan para Ulama dan tokoh-tokoh terkemuka.“ Pada saat lain ia menceritakan peristiwa diskusi yang berlangsung di tempat pengajian Rabi’ah. Di situ Rabi’ah mengemukakan pendapatnya. Ketika Malik menyanggah pendapatnya, Rabi’ah balik menyerangnya dengan kata-kata tidak pantas didengar orang. Ketika itu Malik diam saja, demi menghormati gurunya. Setelah itu Imam Malik pulang.

Baca Juga :  Belajar Islam dan Politik dari Abdullah ibn Umar

Ketika tiba waktu shalat Zhuhur, al-Imam Malik shalat di masjid. Begitu selesai, ia duduk sendirian jauh dari tempat pengajian Rabi’ah. Lalu beberapa orang mendatanginya untuk memintanya memberikan pelajaran. Setelah shalat Maghrib, lebih dari 50 orang mengerumuninya dan mendengarkan pengajiannya. Esok hari masyarakat yang ingin mengaji padanya semakin banyak. Meskipun Malik pada saat itu baru berusia 17 tahun, tetapi ia terkenal jujur dalam periwayatannya. Dan sejak itu keadaan masyarakat menjadi hidup dan bersemangat.

Ibn ‘Abd al-Hakam mengatakan, “Malik sudah memberikan fatwa bersama-sama para gurunya: Yahya bin Sa’id, Rabi’ah dan Nafi’.“ Bahkan menurut Mush’ab, majlis yang diselenggarakan Malik lebih besar dari majlis Nafi’. Malik sendiri pernah mengatakan, “jika aku memberikan fatwa dan pelajaran, maka tidak kurang dari 70 ulama ikut menghadirinya.“ Menurut Malik, orang yang benar-benar ahli niscaya dikenal masyarakatnya.

Para syeikh di Madinah mengatakan, “tidak ada lagi orang di atas bumi ini yang paling mengerti tentang hadits-hadits Nabi saw. kecuali kamu, Malik!“

Abu Daud mengatakan, “hadis paling sahih adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Abdullah bin ‘Umar ra. Sesudah itu adalah hadits dari Malik dari az-Zuhri dari Salim dari ayahnya. Berikutnya adalah hadis dari Malik dari Abu Zanad dari A’raj dari Abu Hurairah.”

Abu Daud tidak menyebutkan transmisi atau sanad selain dari Imam Malik. Ia mengatakan, “hadis mursal Malik lebih sahih daripada Mursal Sa’id bin Musayyab atau Hasan Basri. Hadits Mursal Malik paling sahih.“

Sufyan mengatakan, “Jika Malik sudah mengatakan : “ balaghani “, telah sampai kepadaku,  niscaya  isnad  hadits tersebut kuat.”

Imam Malik dalam Perdebatan para Ulama

Suatu hari terjadi perdebatan antara al-Imam as-Syafi’i dan salah seorang Murid Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan as-Syaibani. as-Syaibani bertanya kepada as-Syafi’i, “Menurut anda siapa yang paling pandai, sahabat saya (Abu Hanifah) atau sahabat anda (Malik bin Anas)?”

“Apakah anda menanyakan hal itu secara jujur ?“ tanya as-Syafi’i.

“ya!“, jawab Muhammad bin Hasan As-Syaibani.

As-Syafi’i kembali bertanya, “siapa menurut anda orang yang paling mengerti al-Qur’an, sahabat saya atau sahabat anda ?“

“Saya kira sahabat anda (Malik bin Anas)“, jawab Muhammad.

Baca Juga :  K.H. Abbas Buntet: Komandan Laskar Jihad Santri Melawan Sekutu

“Sekarang siapa orang yang paling faham hadis Rasulullah saw.; sahabat saya atau sahabat anda?”, tanya As-Syafi’i lagi.

“Saya kira juga sahabat anda“, kata Muhammad.

As-Syafi’i kemudian mengatakan, “yang tersisa tinggal Qiyas, ya kecuali soal Qiyas.“

Mendengar jawaban itu, Muhammad bin Hasan as-Syaibani diam.

Dari Tidak Mau Naik Unta di Madinah Sampai Dipukul 80 Kali

Hari-hari Malik dilalui dengan sikap taqwa, rajin shalat, melayat orang-orang yang mati, membezuk yang sakit, memenuhi semua kewajibannya, i’tikaf di masjid dan berkumpul dengan teman-temannya dan menjawab persoalan-persoalan yang masuk. Ia sangat hati-hati baik dalam menyampaikan hadis maupun memberikan fatwa. Hadits yang diterima hanyalah jika disampaikan oleh orang yang terpercaya. Dan fatwa diberikan setelah yakin.

Majlis tempat ia mengaji sangat tenang dan kewibawaan al-Imam Malik begitu besar di dalamnya. Ini dibuktikan ketika Khalifah Harun al-Rasyid menulis surat supaya ia datang ke istananya untuk berbincang-bincang. Akan tetapi al-Imam Malik menyampaikan ungkapan yang sangat masyhur, “ilmu harus didatangi “ (al-‘ilmu yu’taa). Dengan ucapan ini ia bermaksud agar Harunlah yang datang kepadanya. Sesudah itu Harun memang datang dan duduk bersandar di tembok . Malik mengatakan :  “Tuan Khalifah, jika anda menghormati Rasulullah, maka hormatilah ilmu.” Sesudah mendengar itu, Khalifah duduk dihadapannya dalam posisi sama.

Sudah dikenal orang bahwa kalau Malik akan menyampaikan hadits, ia lebih dulu mengambil wudhu dan duduk dengan tenang, lalu menyisir jenggotnya. Sewaktu hal itu ditanyakan, ia menjawab, “saya senang menghormati hadits Rasulullah saw.“.

Di Madinah, Malik tidak pernah naik kendaraan, meskipun usianya sudah tua dan lemah. Ia mengatakan, “di Madinah ini di mana terdapat makam Rasulullah saw. aku tidak akan naik kendaraan apapun.“

Kemudian waktu ditanya mengenai sumpah orang yang dipaksa, ia mengatakan, “sumpah itu tidak berarti.“ Lalu hal itu dilaporkan kepada Ja’far bin Sulaiman, penguasa Madinah, paman khalifah al-Manshur. Pernyataan Malik bin Anas tadi difahami bahwa pembaiatan kepada Ja’far tidak sah. Ja’far kemudian memanggil dan memukulnya sebanyak 80 kali sampai tulangnya retak. Tetapi pemukulan ini justru semakin menunjukkan kebesarannya di hadapan masyarakatnya.   

Murid-Murid Imam Malik

Malik mempunyai banyak murid yang terdiri dari antara lain para ulama. Hampir tak ada seorang ulama di masanya yang tidak belajar kepadanya, baik guru-gurunya sendiri maupun teman-temannya.

al-Qadhi ‘Iyadh menyebutkan lebih dari seribu orang ulama terkenal yang menjadi murid Imam Malik. Beberapa di antaranya adalah

  1. Muhammad bin Muslim al Zuhri yang meninggal 55 tahun sebelum Mali.
  2. Rabi’ah bin Abdurrahman, meninggal 33 tahun sebelum Malik.
  3. Yahya bin Sa’id al Anshari, 43 tahun sebelumnya.
  4. Musa bin Uqbah.
  5. Hisyam bin Urwah.
  6. Nafi’ bin Abi Nu’aim al Anshari.
  7. Muhammad bin ‘Ajlan.
  8. Salim bin Abi Umayyah.
  9. Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Dziab.
  10. Abdul Malik bin Juraih.
  11. Muhammad bin Ishaq, pengarang buku  al Maghazi  dan Sulaiman bin Mahran al A’masy.
  12. Sufyan At-Tsauri
  13. Laits bin Sa’ad al-Mishri
  14. Al-Awza’i
  15. Sufyan bin ‘Uyaynah
  16. Abu Hanifah serta putranya, Hammad
  17. al-Qadhi Abu Yusuf
  18. al-Imam as-Syafi’i
  19. Abdullah bin Mubarak
Baca Juga :  Usia Nabi Muhammad Saat Ibunya Meninggal

Ada juga murid-murid yang kemudian dikenal sebagai sahabat dekat al-Imam Malik, dan kelak akan banyak disebut dalam literatur mazhab Maliki

  1. Abdullah bin Wahb
  2. Abdurrahman bin Qasim (biasa disebut Ibn Qasim murid al-Imam Malik
  3. Asyhab bin ‘Abdul Aziz
  4. Abdul Malik bin Abdul Aziz al-Majsyun
  5. Abu Hasan bin Ali bin Ziyad at-Tunisi
  6. Yahya bin Katsir Al-Laitsi
  7. Usd bin Furat

Karya-Karya

Karya Malik yang paling populer adalah Al-Muwatha. Buku ini ditulis atas permintaan Khalifah Abu Ja’far al Manshur. Kitab ini menurut Khalifah dimaksudkan agar dapat dijadikan sumber legislasi negara. Di bagian pinggir kitab ini terdapat beberapa kitab lain, yaitu Syadaaid Ibnu Umar (pendapat-pendapat Ibnu Umar yang ketat ), Rukhash Abdullah bin Abbas ( pendapat-pendapat Ibnu Abbas yang ringan) dan Syawadz Abdullah bin Mas’ud (pendapat-pendapat kontroversial Ibnu  Mas’ud).

Pada waktu permintaan itu diajukan, Malik hanya mengatakan, “sahabat-sahabat Rasulullah saw. telah tersebar di berbagai daerah. Masing-masing berfatwa sesuai dengan pikirannya“

Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya  yang meminta Malik mengerjakan hal itu juga adalah Khalifah al Mahdi. Imam Malik tidak setuju jika semua orang harus mengikuti pendapatnya. Dari peristiwa ini ia kemudian menulis kitab di atas.

Selain Al-Muwattha’, ia juga menulis beberapa karangan yang cukup besar. Kebanyakan dikemukakan dengan menyebut sanad yang sahih. Yang populer diantaranya,

  1. Risalah fi al-Qadr.
  2. ar-Radd ‘ala al Qadariyah
  3. Kitab fi an-Nujum wa Hisab Madar al Zaman
  4. Risalah fi Aqdhiyah (terdiri dari 10 volume)
  5. Risalah fi al-Qadar, buku yang ditujukan kepada Abi Ghassan Muhammad bin Mathraf, berisi fatwa-fatwa.
  6. Buku yang berisi nasehat-nasehat dan etika yang ditujukan kepada Harun al-Rasyid. Buku ini juga cukup populer.
  7. Tafsir Gharib al Qur-an
  8. Ijma’ Ahl al-Madinah , sebuah risalah kepada Laits bin Sa’d.

Wafat

al-Imam Malik meninggal tahun 179 H di Madinah. Beberapa orang yang ikut menyalatinya adalah, aAbdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, gubernur Madinah waktu itu. Ia ikut mengantar dan mengusung jenazahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here