Daftar 6 Keluarga Besar Muslim yang Pernah Menduduki Portugal

2
94

BincangSyariah.Com – Meskipun kini pergerakan umat Islam di Portugal tidak begitu mentereng, namun ternyata sacara historis Portugal memiliki relasi cukup erat dengan umat Islam. Bagaimana tidak, wilayah yang dulu disebut sebagai Barat Andalusia ini pernah dihuni umat Islam selama lebih dari lima ratus tahun lamanya.

Kontribusi umat Muslim untuk kemajuan perdaban Portugal pun tidak dapat dielakan. Bahkan fakta mencatat, ratusan kata bahasa Portugal adalah serapan dari bahasa Arab. (Baca: Ibnu al-Afthos: Sastrawan Penerus Kerajaan Islam di Portugal era Andalusia)

Adapun mengenai situasi geo-politik Portugal di masa Muslim terbilang fluktuatif. Lazimnya, kerajaan yang kuat akan berkuasa sebaliknya yang lemah akan tergerus. Maka tidak mengherankan jika peralihan kekuasan kala itu, terus bergulir mengikuti zamannya.

Secara umum, kekuasaan Muslim Portugal terbagi kedalam tiga fase yakni Wullat (Gubernur), Dinasti Umayyah II Andalusia dan Muluk Thawaif (Kerajaan – kerajaan kecil).

Dalam catatan Falih Handzal dari bukunya al-Arab wal Portugal Fi Tarikh terhitung dalam tiga fase ini, enam keluarga besar Muslim pernah diberi mandat untuk menduduki Portugal. Ke enam keluarga itu adalah :

  1. Keluarga Bani Umayah

Kedatangan Abdurrahman ad-Dakhil ke Cordoba (755 M) mengawali babak baru pemerintahan Andalusia.  Sebab, sejak era inilah wilayah Islam di Semenanjung Iberia ini secara resmi menyatakan pelepasannya dari pusat Kekhilafahan Dinasti Abbasyiah di Baghdad.

Dalam sejarahnya, tercatat keluarga ini telah memimpin lebih dari dua abad lamanya (755 – 1009 M). Dalam kurun waktu tersebut peralihan kekuasaan bersifat monarchi diwariskan dari ayah kepada anak cucunya.

Meskipun terbilang suskes dalam mengelola negara, namun hal ini nyatanya sama sekali tidak mengendurkan karsa suku Norman untuk unjuk gigi di negeri subur ini. Mereka melakukan operasi militer secara intens terhadap Portugal selaku target sentral penyerangan.

Baca Juga :  Tradisi Khalwat; Sunah Nabi yang Terlupakan

Beruntung setiap serbuan ini dapat dipatahkan. Tidak lain berkat kekuatan militer yang mumpuni dan kokohnya hubungan luar negeri Bani Umayyah baik dengan wilayah Muslim maupun Non Muslim.

  1. Keluarga Bani Amir

Melemahnya, pemerintahan Dinasti Umayyah II di Andalusia, tidak di sia – siakan Muhammad bin Abi Amir untuk melegitimasi kekuasaan. Pengendalian ini berawal ketika jabatan gubernur dipegang oleh Hisyam bin Hakam II, anak kecil yang baru berusia 11 tahun.

Karena usianya masih belia dan belum memahami betul tata cara pengelolaan negara, maka tugas piminan di wakilkan kepada Muhammad bin Abi Amir yang pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri. Para ahli sejarah menamai periode ini dengan istilah periode Bani Amir.

Bani Amir memimpin Andalusia selama dua puluh tahun. Dalam kurun waktu tersebut, puncak pimpinan telah dipegang tiga raja yakni Muhammad bin Abi Amir lalu dilanjutkan putranya Abdul Malik al-Mudzaffar, kemudian turun kepada putra lainnya yakni Abdurrahman Syanjul. Dengan meninggal nya Syanjul selaku raja terakhir, berkahirlah era kekhilafahan dan beralih menuju babak baru, Muluk Thawaif.

Kendati sacara administratif 20 tahun Portugal berada dibawah kuasa Bani Amir, namun karena sibuk menstabilkan kondisi sosial politik yang cenderung terus memburuk, keluarga ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan peradaban Portugal.

  1. Keluarga Bani al-Afthas

Beberapa ahli menyebut di era Muluk Thawaif Andalusia setidaknya terbagi kedalam 20 kerajaan kecil. Di periode ini awalnya seluruh wilayah Portugal dikuasai Bani al-Afthas. Namun setelah kedatangan Mu’tamid bin Abbad, area selatan Portugal bergabung dengan kerajaan Sevilla.

Bani Afthas menjadikan sebuah kawasan di perbatasan Spanyol dan Portugal yakni Badajoz sebagai ibukota pemerintahan. Keluarga ini dipimpin oleh Maslamah bin Afthas selaku pendiri awal kemudian dilanjutkan oleh keturunannya.

Baca Juga :  Pendapat Ulama Mengenai Keberadaan Nabi Perempuan

Salah satu peristiwa figur heroik keluarga ini adalah Abu Muhammad Umar (Mutawakkil ‘ala Allah). Selain berhasil merekonsiliasi Portugal pasca dualisme kepemimpinan, sosok yang semasa dengan Mu’tamid bin Abad ini menjadi tokoh berpengaruh saat  membujuk raja Maghrib, Yusuf ibn Tasyfin untuk menolong Andalusia melawan barisan kerajaan Nasrani dan koloni – koloninya.

  1. Keluarga Bani ‘Abbad

Sebelum melebarkan sayap menuju Portugal, sejarah Bani Abad berawal sebagai keluarga kenamaan di Sevilla. Pendirinya adalah Ismail bin Muhammad bin Abbad al-Lakhami atau yang dikenal dengan Abu Walid.

Upaya pelebaran wilayah ke Portugal secara intensif dilakukan di periode al-Mu’tadadh. Kendati telah mengerahkan segala kemampuannya untuk menduduki Portugal, namun cita – cita pria bernama lengkap Umar Abbad bin Muhammad ini belum sempat terealisasikan sebab ajal menjemput terlebih dahulu di tahun 1069 M.

Tampuk kekuasaan kemudian beralih kepada putranya Abu al-Qasim Muhammad bin Abbad (Al-Mu’tamad ‘ala Allah). Para ahli sejarah mengatakan bahwa ia terlahir di Silves, Portugal. Nah, di masanya inilah Portugal Selatan tergabung ke dalam kekuasaan Bani Abbad.

Dalam beberapa literatur ditemukan bahwa Bani ‘Abbad juga pernah memberikan mandat pada keluarga Bani Muzin untuk menjadi kaki tangannya di dua wilayah di Portugal yakni, Beja dan Silves.

  1. Keluarga Bani Murabithun

Bani Murabithun memegang kendali Portugal selama empat puluh dua tahun terhitung sejak 1092 M hingga 1134 M. Sebenarnya Bani Murabithun adalah keluarga kerajaaan yang berpusat di Marrakesh, Maroko. Adapun kedatangan nya ke Andalusia adalah dalam misi menghadapi raja Nasrani, Alfonso yang perlahan – lahan mampu mengintervensi sejumlah wilayah Muslim di Andalusia.

Setidaknya ada dua pertempuran vital yang dimenangkan Bani Muwahhidun atas kerjaan Nasrani. Sayangnya setelah itu, kerajaan – kerajaan kecil di Andalusia justru dilanda badai keterpurukan. Bahkan beberapa raja malah berkoloni dengan raja Nasrani sekedar untuk mengikuti syahwat politik.

Baca Juga :  Hikmah Penahapan Penerapan Syariat Islam Masa Nabi

Hal ini yang kemudian mendorong Yusuf bin Tasyfin kembali ke Andalusia, guna menyatukan kawasan Semenanjung Iberia dalam genggamannya. Angan – angannya tercapai, sejumlah kerajaan turut bergabung dalam barisannya termasuk dua pasak kunci Portugal yakni Bani Abbad dan Bani al-Afthas.

Kendati tidak lama berkuasa, Bani Murabithun berhasil menarik kembali pecahan – pecahan wilayah Portugal yang sebelumnya diduduki bala tentara Nasrani. Bani Murabithun kehilangan kendali atas Portugal pasca tak kuasa membendung gempuran bertubi – tubi dari pasukan gabungan Eropa dibawah pimpinan Don Afonso Henrik.

  1. Keluarga Bani Muwahhidun

Seperti halnya Murabithun, Bani Muwahhidun terlahir di sekitar Maroko. Awalnya hanya berbentuk komunitas agama pengusung konsep fundamentalisme, kemudian tumbuh pesat hingga mampu berkuasa di Maghrib dan Andalusia. Kelompok ini didirikan oleh sosok kontroversial, Abu Abdullah al-Mahdi Muhammad bin Tumart yang sekaligus  menjadi pimpinan pertama.

Adapun kisah Murabithun dan Portugal mulai bersemi di periode  Abdul Mu’min bin Ali al-Kumi. Ia didaulat sebagai pimpinan tertinggi tidak berselang lama pasca jatuhnya Lisbon ke tangan Nasrani. Maka tidak mengherankan jika sorotan utama Abdul Mu’min jatuh ke arah Andalusia khususnya Portugal.

Tahun 1147 M Abdul Mu’min memimpin ekspedisi Muwahhidun menuju Andalusia. Dalam perjalanan ini pula,   seluruh wilayah Portugal berhasil ditaklukan termasuk kota – kota sentral seperti  Silves, Beja dan Badajoz. Dominasi Muwahidun di Portugal mulai runtuh pasca kekalahan memilukan di perang ‘iqab (1212 M) saat menghadapi raja Alfonso VIII dan sekutunya.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here