Bagaimana Bentuk Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Quran dan Hadis ?

1
834

BincangSyariah.Com – Sebenarnya seperti apa konsep atau bentuk kerukunan umat dalam Perspektif Al-Quran dan Hadis? Umat yang dimaksud disini, bukan hanya internal satu umat, misalnya umat Islam saja. Tapi mencakup bagaimana interaksi antar umat lain. Dalam khazanah Islam dan masih kuat digunakan sampai sekarang, klasifikasi yang digunakan untuk kata umat adalah berdasarkan agama yang dipeluknya, misalnya Umat Yahudi, Nasrani. Termasuk juga agama yang secara tekstual tidak disebut dalam Al-Qur’an, misalnya umat Hindu, umat Budha, dan lain sebagainya.

Diantaranya literatur yang menurut saya menarik untuk diperbicangkan adalah buku berjudul “Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis”, ditulis oleh mendiang Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, MA. Beliau adalah Profesor di Bidang Hadis dan Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Quran Jakarta, pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal (2005-2015), dan Pengasuh pondok pesantren yang beliau dirikan di wilayah Ciputat,Tangerang Selatan, Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences hingga akhir hayat beliau di tahun 2016. Buku ini dirilis pada setting 20 tahun yang lalu, yaitu tahun 2000.

Mengapa buku Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis ini menjadi penting? Seperti beliau sampaikan dalam pengantar buku ini,

pertama, saat beliau mengkajian kutub as-sittah bersama para mahasantri di Pesantren, beliau menemukan bahwa sebenarnya relasi Nabi Saw. dengan umat liyan, itu tidak seperti yang menjadi prasangka sebagian orang, yaitu pasti dan terus menerus bermusuhan. Misalnya yang beliau jadikan contoh, ada momen ketika ibunda Aisyah sedang duduk-duduk bersama sejumlah wanita Yahudi di rumah Nabi Saw. Lalu Nabi Saw. berhutang gandum kepada seorang pria Yahudi bernama Abu Syahm. Sehingga, fakta ini menjadi gambaran untuk mengkritik pandangan sebagian muslimin yang mengira kalau orang sudah berbeda agama, berarti mutlak musuh bebuyutan. Dan yang lebih parah, sebagian bahkan mengatakan mutlak halal darahnya (h. 9-10).

Baca Juga :  Buya Syafii Maarif: Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Harus Satu Napas

Kedua, buku ini merupakan hasil pengembangan dari teks ceramah Nuzulul al-Qur’an di Masjid Istiqlal pada tanggal 17 Ramadan 1420 H/24 Desember 1999 M. Waktu itu, Indonesia dipimpin oleh K.H. Abdurrahman Wahid-Megawati Soekarnoputri. Judul yang diminta agar Prof. Ali Mustafa sampaikan adalah Dengan Hikmah Nuzul al-Qur’an Kita Tingkatkan Kerukunan dan Persatuan Bangsa. Kyai Ali, selanjutnya menjelaskan bahwa judul tersebut hadir dalam situasi yang sangat tepat. Selain disampaikan menjelang hari raya Natal, di masa itu konflik di Aceh dan Ambon sedang panas-panasnya. Dalam catatan Kyai Ali, beliau mengatakan,

“Sungguh kita amat bersedih dan air mata kita berlinang ketika mendengar saudara-saudara kita umat Islam di Ambon dan Maluku dibantai oleh kelompok-kelompok yang tidak suka kepada meeka ketika mereka sedang shalat berjamaah di masjid. Tetapi kita lebih menangis mendengar bahwa yang membantai orang-orang Islam yang sedang shalat berjamaah di Aceh itu justru saudara-saudara mereka sendiri, orang-orang Islam.” (h. 10-11)

Jadi, buku ini hadir dalam konteks yang tepat sekali, di satu sisi merupakan pengembangan dari pemahaman lebih dalam bagaimana pada praktiknya relasi Nabi Saw. dengan yang beragama lain rupanya tidak tegang, justru sebenarnya cair apalagi yang berkaitan dengan muamalah sehari-hari. Kedua, buku ini, oleh Kyai Ali di masa itu diharapkan menjadi oase ditengah konflik antar suku dan agama di Ambon dan Aceh yang begitu memanas pada waktu itu. Sebagai informasi tambahan, konflik di Ambon waktu itu orang yang menyatakan diri sebagai mujahid sudah menggunakan Internet sebagai media propagandanya, padahal waktu itu pengguna Internet di Indonesia (tahun 1999-2000) sangat terbatas sekali. Ini dijelaskan oleh Birgit Brauchler dalam penelitian berjudul Islamic Radicalism Online: The Moluccan Mission of the Laskar Jihad in Cyberspace.

Konten Buku

Baca Juga :  Buku Gratis: 30 Hari Menuju Takwa, Wawasan dan Panduan Bulan Suci Ramadhan

Buku ini setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar, pertama isi buku itu sendiri yang merupakan hasil dari ceramah Nuzul al-Qur’an. Menurut Kyai Ali, saat buku ini hendak diterbitkan beliau mengembangkan pembahasan tambahan yaitu soal teori Jizyah dan Dzimmah serta makanan dan wanita Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani).

Kedua, setelah beliau menyampaikan ceramah Nuzul al-Qur’an tersebut, karena disiarkan di 6 stasiun televisi waktu itu, banyak yang menyaksikan kemudian menghubungi beliau untuk bertanya dan mengajak diskusi. Apalagi setelah banyak yang meminta salinan pidato beliau, lalu Kyai Ali berinisiatif meminta harian Republika untuk memuatnya, semakin banyak lagi yang mengajak bertanya dan berdiskusi. Bahkan salah seorang pendeta di wilayah Sunter, Jakarta Utara, mengundang salah satu santri beliau untuk membacakan ulang ceramah Kyai Ali tersebut di depan sejumlah jamaah di Yayasan . Walhasil, Kyai Ali sempat beberapa kali menerima ajakan diskusi tersebut, dan sebagian pertanyaan-pertanyaannya dibuat pada bab “Diskusi Bersama Kawan.”

Pada bagian isi utama, Kyai Ali, menurut hemat saya, berhasil menjelaskan dengan baik bahwa sebenarnya dalam persoalan muamalah, tidak ada sama sekali permasalahan berinteraksi dengan yang berbeda agama. Kyai Ali berhasil memberikan contoh, bahwa justru yang memberikan insight bahwa ada ciri-ciri kenabian pada Nabi Muhammad adalah Waraqah bin Naufal, pendeta Nasrani yang tak lain adalah sepupu istri Nabi, Khadijah. Contoh kedua adalah kaum Nasrani, tepatnya penduduk Habsyah yang beragama Nasrani, adalah yang pertama kali memberikan uluran tangan memberi suaka kepada umat muslim generasi awal yang ditekan masyarakat kafir Quraisy di masa itu. Contoh terakhir adalah ketika Nabi Saw. sudah tinggal dengan aman di Madinah, Nabi Saw. kedatangan utusan penganut Nasrani dari wilayah Najran, wilayah yang berdekatan dengan Yaman. Saat mereka datang, lalu mereka menyatakan ingin melaksanakan kebaktian, justru Nabi Saw. kemudian mengizinkan dan setelahnya mereka berdiskusi soal ketuhanan. Setelah diskusi tersebut, mereka kembali dengan tidak ada seorangpun yang kemudian langsung menganut agama Islam. Baru kemudian beberapa orang menemui Nabi Saw. untuk menyatakan masuk Islam. (h. 33-37)

Baca Juga :  Resensi Buku Wacana Ideologi Negara Islam

Relasi dengan kaum Yahudi menarik juga untuk dicatat. Nabi Saw. di Perang Uhud, justru memiliki orang Yahudi yang membantu baik secara materiil maupun ikut serta langsung bernama Mukhairiq. Mukhairiq berada di pihak Nabi Saw. saat perang Uhud, lalu ia terbunuh. Mukhairiq meninggalkan sejumlah harta berupa kebun-kebun di Madinah, yang kemudian Nabi Saw. wakafkan untuk kepentingan Islam. Nabi Saw. kemudian bersabda: “sebaik-baik orang Yahudi adalah Mukhairiq.” (h. 38)

Dari penjelasan diatas mungkin sebagian kita ada gagasan, mungkin pembicaraan dari segi kerukunan secara muamalah antar umat beragama, buku karya Kyai Ali ini bisa menjadi jawaban. Tapi dalam penjelasannya, ada kesan tetap saja pada akhirnya yang diakui baik kalau orang-orang non-muslim membantu kaum muslim, tidak dengan sebaliknya.

Untuk menjawab pernyataan itu, di bagian diskusi bersama kawan, menurut saya ada diskusi yang menarik soal itu. Yaitu bagaimana dengan persoalan jizyah dan dzimmah di Indonesia. Apakah kaum non-muslim di Indonesia dapat dikategorikan Ahl adz-Dzimmah? Kalau ya, masuk kategori mana? Harbi (diperangi), dzimmi (penduduk yang mendapatkan jaminan keamanan), atau musta’man (didatangkan dari negara lain untuk keperluan tertentu dan dijamin keberlangsungan hidupnya).

Kyai Ali kemudian merespon bahwa di Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan itu mungkin secara literal “tidak sesuai harapan” terwujudnya aturan ahl adz-dzimmah itu. Namun secara moral Kyai Ali justru menegaskan bahwa Proklamasi menjadi titik hidup berdampingannya muslim dan non-muslim di Indonesia. Dan, tidak dibenarkan kelompok mayoritas menzalimi yang minoritas (h. 74-75). Artinya, Kyai Ali justru disini mengkritik apa yang disebut dengan sikap mayoritarianisme.

Semoga bermanfaat.

1 KOMENTAR

  1. […] Ini merupakan problem besar bagi masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural. Bagaimana mungkin kita tidak mengenal saudara sesama anak bangsa yang berbeda agama dan keyakinan? Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Bisa jadi kecurigaan yang mencokol di sebagian masyarakat kita terhadap orang atau kelompok yang berbeda karena tidak mengenalnya dengan baik. (Baca: Bagaimana Bentuk Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Quran dan Hadis?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here