Rasisme di Masa Lalu: Sahabat Nabi Ubadah bin Shamit Diejek Raja Mesir Karena Berkulit Hitam

0
1382

BincangSyariah.com – Rasisme sudah menjadi permasalahan utama umat manusia sejak ribuan tahun lalu. Soal warna kulit, agama, nasab sering kali dijadikan tolak ukur tingginya derajat seseorang. Kalangan putih lebih tinggi derajatnya dibanding hitam. Majikan lebih tinggi derajatnya dibanding budak. Nasib naas pun menghinggapi kaum berkulit hitam, mereka dianggap hina sehingga seolah – olah layak diperjualbelikan sebagai budak.

Dalam sejarah Islam, kasus memandang rendah ras hitam pernah terjadi saat penaklukan Mesir. Pada saat itu Amr bin Ash mengirim 10 delegasinya untuk berunding dengan raja Muqauqis, penguasa Mesir. Rombongan delegasi ini dikepalai oleh Ubadah bin Shamit yang merangkap sebagai juru bicara. Ubadah sendiri adalah tokoh kaum Anshar yang telah mengikuti beragam peristiwa penting bersama Rasulullah Saw.

Diejek Berkulit Hitam

Kisah Ubadah bin Shamit diejek Raja Mesir karena berkulit hitam dicatat oleh Wahbah Zuhaili dalam karyanya, Ubadah bin Shamit Sahabi Kabir wa Fatih Mujtahid. Dalam catatan Syaikh Wahbah, tergambar bagai sosok Ubadah bin Shamit dalam menunjukkan sikap ketenangan, kecerdasan dan keteguhan hati, pantang mengingkari amanah, dan percaya diri. Padahal yang dihadapi adalah seorang raja besar Mesir.

Saat Ubadah maju menghadap Muqauqis, sang raja tampak ketakutan melihat sosok berkulit gelap dengan postur yang menjulang tinggi itu. Kemudian ia berkata “Jauhkan si hitam ini dariku, majulah satu diantara kalian selain dia untuk berbicara denganku”.

Kemudian delegasi lainnya menyahut, “Sesungguhnya orang hitam ini adalah yang terbaik diantara kami ilmu serta pandangannya. Ia adalah pimpinan kami. Ia telah diperintahkan oleh Amir dengan sesuatu yang diperintahkan kepadanya, dan kami diperintahkan untuk tidak menyangkal pendapat serta perkataannya”.  Muqauqis merespon, “Bagaimana kalian rela pria hitam ini menjadi yang terbaik diantara kalian?”.

Baca Juga :  Mengambil Nasehat dari Setan

Para delegasi menjawab, “Betul, walaupun ia adalah seorang yang hitam seperti yang anda lihat, namun ia adalah yang terbaik posisinya  diantara kami, ia juga yang terbaik akal dan pandanganya, dan kami tidak mempermasalahkan kulit hitamnya”. Lalu Muqauqis berkata, “Kemarilah wahai orang hitam dan berbicaralah dengan lemah lembut. Sesungguhnya aku takut terhadap kehitamanmu, jika kata-kata mu kasar maka ketakutan ini akan bertambah”.

Menurut Wahbah Zuhaili, warna kulit Ubadah sebenarnya tidak hitam melainkan coklat. Bahkan ia adalah pria berwajah tampan. Hanya saja pada saat itu tampak hitam karena telah menempuh perjalanan jauh.

Perundingan berlanjut, Ubadah menjelaskan tentang misi prajurit Muslim yang tengah berjuang untuk menaklukan Mesir. Ia mengatakan bahwa yang diinginkan oleh dia dan teman-temannya bukanlah harta kekayaan atau kekuasan politik, melainkan jihad di jalan Allah. Berupaya untuk menggapai rida Allah.

Oleh karena itu, mereka tidak peduli apakah akan mendapat barang rampasan sedikit atau banyak karena itu bukanlah tujuan. Ia pun menjelaskan bahwa dunia dicukupkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan sekiranya tidak kelaparan. Kesejahteraan di dunia tidak ada apa – apanya dibanding kenikmatan di akhirat kelak. Begitulah pandangan mereka terhadap kehidupan.

Dikagumi Muqauqis, Dicoba untuk Disuap

Mendengar penjelasan Ubadah, Muqauqis terkagum-kagum. Jika mental yang diterapkan seperti yang diucapkan Ubadah, pasukan ini punya potensi besar untuk menguasai seluruh wilayahnya. Lalu Muqauqis menakut-nakuti bahwa pasukan Muslim tengah dalam bahaya, sebab pasukan Romawi dalam jumlah amat besar akan segera datang ke Mesir.

Muqauqis menilai pasukan Muslim sudah berkurang jumlahnya, ditambah pastinya telah mengalamai kelekahan dan kelaparan karena telah berbulan-bulan tinggal di luar wilayah. Oleh karenanya, ia menawarkan agar korps militer Muslim pulang dan tidak meneruskan pembebasan.

Baca Juga :  Ummu Sulaim dan Lika-Liku Hidupnya

Sebagai imbalan, setiap prajurit akan mendapat masing-masing dua dinar, kemudian panglima mendapat seratus dinar, sedangkan untuk khalifah akan diberi seribu dinar. Bermodal propagandanya itu, ia menyarankan agar Ubadah mengambil kesempatan tersebut sebelum semuanya terlambat.

Namun tekad Ubadah telah bulat. Ia tetap memegang teguh tiga opsi yang diamanatkan kepadanya. Tiga opsi ini yakni agar warga Mesir masuk Islam dimana hal dan kewajiban nantinya akan sama dengan Muslim lainnya, berdamai dan tetap memeluk ajaran yang diyakini  dengan membayar pajak atau jika tidak keduanya jalan akhir adalah berperang. Ia diminta pimpinannya yakni Amr bin Ash untuk tidak memberi opsi selain dari yang tiga tadi.

Soal sangkaan bahwa pasukan Muslim telah kelahan ditampik Ubadah. Ia justru mengatakan bahwa pasukan Islam berada dalam kondisi sebaliknya. Kemudian jika memang akan tiba pasukan Romawi, alih-alih takut, Ubadah justru senang jika memang itu yang terjadi. Lahannya untuk berjihad akan lebih terbuka lebar. Kematian pun bagi pasukan Muslim bukan sesuatu yang perlu ditakuti sebab surga telah menunggu mereka.

Muqauqis masih belum menentukan keputusan dari tiga opsi yang ditawarkan. Kemudian ia bertanya “Apakah tidak ada tawaran lain selain tiga opsi tadi?”. “Tidak”, ucap Ubadah sambil mengangkat kedua tangannya. Setelah bermusyawarah dengan rekan-rekannya, Muqauqis berkesimpulan untuk tidak memilih apapun yang ditawarkan Ubadah.

Muqaiqis Menyerah

Tidak menemui titik temu, kedua belah kubu kemudian bertempur. Muqauqis dan para prajuritnya tunggang langgang menyelamatkan diri, pasukannya tidak kuasa menahan serangan dari pasukan Muslim. Pada akhirnya, ia pun memilih untuk berdamai dan membayar pajak seperti opsi kedua yang pernah ditawarkan Ubadah.

Dari kisah ini Ubadah dinobatkan sebagai salah satu delegasi terbaik dalam sejarah politik Muslim. Mayoritas ulama Mesir menyatakan bahwa Mesir dibebaskan melalui kesepakatan damai. Dalam hal ini peran Ubadah amat berarti, terlebih saat dipercaya sebagai diplomat Muslim untuk berunding dengan raja Muqauqis. Kebijaksanaan dan ketepatan pengambilan keputusan serta sikap elegannya tidak terlepas dari pemahaman mendalamanya tentang ajaran agama Islam.

Baca Juga :  Umamah binti Abu Al-Ash: Cucu Perempuan Kesayangan Rasulullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here