Hadis Kelima Kitab “Al-Mawaidh Al-‘Ushfuriyah”; Keutamaan Rutin Baca Kalimat Tahlil

0
314

BincangSyariah.Com – Hadis ini dari Abi Dzar Al-Ghifari ra. Hadis yang menjelaskan tentang keutamaan kalimat tahlil; lailaha illaallhu. Hadis ini berangkat dari dialog antara Abi Dzar ra. dengan Rasulullah Saw. Hadisnya adalah sebagai berikut,

قلت يا رسول الله علمني عملا يقربني الى الجنة ويباعدني من النار قال اذا عملت سيئة فاتبعها حسنة قلت امن الحسنات قول لااله الا الله قال نعم هي احسن الحسنات

Wahai Rasulullah Saw., ajarilah saya amalan yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Rasulullah Saw. menjawab: kalau kamu berbuat keburukan, maka segera ikuti  dengan kebaikan. Abi Dzar bertanya lagi, apakah kalimat tahlil termasuk bagian dari kebaikan? Rasulullah Saw. menjawab: iya, bahkan ia termasuk paling baiknya kebaikan.

Sebaik apa pun manusia, pasti memiliki sisi buruk. Sebaliknya, seburuk apapun manusia pasti memiliki sisi baik. Karena iman manusia terkadang naik dan juga turun. Ada saatnya rajin beribadah, namun kadang pula tergelincir pada kemaksiatan. Manusia berbuat salah itu hal biasa, namun ketika membiasakan kesalahan tersebut, maka itu bukanlah sifat manusia. Karena hanya setan yang terus menerus bermaksiat.

Dalam hadis di atas, Rasulullah Saw. menegaskan bahwa masih ada jalan perbaikan bagi mereka yang berbuat keburukan. Akuilah kesalahan tersebut, lalu tobatlah. Kemudian ikuti dengan kebaikan. Niscaya keburukan tersebut akan terhapuskan.

Misal, kita berkata kotor, maka segera ikuti dengan istighfar. Kadang sebagian orang saat dikejutkan oleh orang lain, tanpa sengaja ia menyebut kemaluan sendiri atau lawan jenis. Maka, sadarilah bahwa itu keliru. Dan segera lakukan perbaikan, misal dengan berdzikir. Allah Swt. berfirman dalam Qs. Hud (11) : 114,

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذَّاكِرِيْنَ

Baca Juga :  Moderasi Beragama: Tidak Ekstrem dan Tidak Pula Menggampangkan

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).

Dalam Tafsir Jalalain Juz 1/hal. 189 disebutkan bahwa asbabunnuzul ayat tersebut adalah dikarenakan ada sesorang yang mencium perempuan bukan mahromnya. Ia menuturkan pada Nabi Muhammad Saw. perihal itu. Lalu nabi menyampaikan firman Allah Swt. di atas. Kemudian nabi ditanya oleh sahabat yang lain, apakah ayat ini khusus orang tersebut? Tidak, tapi untuk seluruh umatku. Jawab beliau.

Intinya setiap selesai berbuat salah, segera ikuti dengan usaha islah. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berbuat baik. Bahkan kalimat thoyyibah juga termasuk kebaikan. Khususnya lafadz lailaha illaallahu, sebagaimana hadis di atas, ia merupakan paling baiknya kebaikan. Memperbanyak kalimat tahlil berarti memperbanyak jalan perbaikan diri. Namun, hanya dosa-dosa kecil saja yang dapat diampuni dengan diikuti semisal berdzikir.

Imam Muhammad Bin Abu Bakar mencantumkan 2 kisah penuh hikmah di dalam hadis ini. Kedua cerita ini berkaitan dengan kedahsyatan lailaha illaallahu.

Kisah Pertama

Ada sesorang laki-laki sedang wukuf di Arafah. Ditangannya ada 7 buah batu yang dibacakan 2 kalimat syahadat, Asyhadu an lailaha illaallahu waanna muhammadan rosulullahi. Ia tertidur, lalu bermimpi kiamat sudah terjadi. Dia digiring ke neraka. Tapi ketika sampai di pintu pertama, datanglah batu yang dibacai syahadat. Batu itu menutupinya. Para malaikat mencoba mengangkatnya, namun tidak mampu.

Lalu dipindahkan ke pintu nereka yang lain, namun lagi-lagi tertutup batu hingga tujuh pintu neraka tertutup oleh 7 batu yang dipegangnya saat wukuf. Akhirnya ia dibawa ke surga walaupun awalnya terkunci. Namun, kalimat tahlil itu datang membukanya.

Baca Juga :  Gapai Kebahagiaan dengan Qalbun Syakirun (Hati yang Bersyukur)

Kisah Kedua

Kisah kedua ini juga berkaitan dengan kedahsyatan kalimat lailaha illaallahu. Cerita ini dikisahkan oleh Imam Az-Zahid Sayyidi Al-Mufti.

Suatu saat Nabi Musa As. melakukan munajat. Beliau bertanya mengapa Allah menciptakan manusia, memberi mereka rizki, lalu di akhirat mereka dimasukkan ke neraka.

Allah Swt. menyuruh beliau untuk bertani. Saat sudah musim panen, beliau ditanya perihal tanamannya. Nabi Musa As. menjawab, yang baik diambil. Yang tidak ada baiknya sama sekali ditinggalkan. “Begitu juga, Aku masukkan manusia yang tidak ada kebaikannya sama sekali ke neraka”, firman-Nya.

Nabi Musa As. bertanya lagi, siapakah manusia yang tidak memiliki kebaikan sama sekali? “Orang yang tidak memiliki kebaikan sedikitpun adalah mereka yang enggan mengucapkan lailaha illaallahu muhammadun Rasulullahi“, firman-Nya.

Oleh karena itu, marilah perbanyak membaca tahlil dan sholawat. Tutupi keburukan kita dengan kebaikan. Semua dosa (kecil) akan terampuni dengan kebaikan yang dilakukan walau hanya dengan dzikrullah. Wallahualam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here