Santri dan Kewajiban Shalat Tahajud

0
1586

BincangSyariah.Com – Shalat Tahajud hukumnya sunah muakkad. Sunah yang sangat dikokohkan. Dalam artian Rasulullah Saw. tidak pernah meninggalkannya. Bagi beliau, Shalat Tahajud hukumnya wajib, tapi bagi umatnya sunah. Mengenai Shalat Tahajud, Allah Swt. berfirman:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (Qs. Al-Isra (17) : 79)

Mengenai tafsir dari ayat tersebut, dijelaskan dalam Tafsir Jalalain, Juz 1/hal. 234 tentang lafadz “nafilatan laka“:

فريضة زائدة لك دون امتك او فضيلة على الصلوات المفروضة

Sebagai kewajiban tambahan bagimu, tidak untuk umatmu. Atau menjadi pelengkap (kesempurnaan) dari shalat lima waktu. (Baca: Tiga Keutamaan Shalat Tahajud)

Artinya, Allah Swt. mewajibkan Shalat Tahajud pada Baginda Nabi Muhammad Saw. sebagai tambahan kewajiban dari selain yang lima waktu. Ini khususiyah untuk nabi sehingga umatnya hanya dianjurkan saja (sunnatun muakkadatun) oleh beliau.

Shalat Tahajud adalah shalat sunah yang harus dikerjakan pada malam hari dengan syarat sudah melaksanakan Shalat Isya. Shalat Tahajud dilaksanakan sesudah tidur walau hanya sebentar.

Adapun dalam kehidupan santri di sebagain pesantren, Shalat Tahajud tidak lagi dihukumi sunah, tapi diwajibkan. Hukum dasarnya memang sunah, tapi ada aturan pesantren yang mewajibkannya. Namun, bukan berarti pengurus pesantren sok tahu karena telah mengubah hukum yang asalnya sunah menjadi wajib, tapi itu dilakukan sebagai upaya pembiasaan pada santri.

Selama aturan pesantren tidak berseberangan dengan aturan agama, juga tidak menimbulkan mafsadat, maka sah-sah saja. Yang haram tetap diharamkan dan yang wajib tetap diwajibkan.

Dalam hal Shalat Tahajud disebagian pesantren, bahkan santrinya bukan hanya cukup shalat sendirian, tapi juga diwajibkan berjamaah. Sekali lagi tujuannya untuk mengajari istiqomah dalam hal yang sunah. Ketika yang sunah terbiasa dilakukan, maka apalagi perkara yang wajib.

Baca Juga :  Menjelang Wafat, Imam Syafii Punya Karamah Prediksi Masa Depan Muridnya

Shalat berjamaah sendiri hanya dianjurkan dalam shalat sunah tertentu. Tidak semua shalat sunah juga disunahkan dilaksanakan secara berjamaah. Malah harus dikerjakan secara sendirian. Seperti halnya Shalat Tahajud, memang tidak sunah dilaksanakan secara berjamaah. Namun, ada para ulama yang membolehkan. Seperti halnya Imam Nawawi dalam kitabnya Almajmu’ Ala Syarhil Muhadzdzab, (juz 4/hal. 5):

قال اصحابنا تطوع الصلاة ضربان ضرب تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح على الأصح وضرب لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح وهو ما سوى ذلك

Shalat sunah dibagi dua. Pertama sunah dilaksanakan berjamaah, yaitu shalat i’ed, shalat gerhana, shalat istisqo’ dan shalat tarawih. Kedua tidak sunah dilaksanakan berjemaah, tapi tetap sah walaupun dilaksanakan secara berjemaah. Yaitu selain yang tersebut.

Jadi, aturan berjamaah dalam Shalat Tahajud di pesantren hukumnya sah-sah saja. Iya, memang pahala yang didapat bukan pahala berjamaah, tapi pahala shalatnya saja.

Pengurus pesantren tetap memberi pengertian pada semua santri bahwa Shalat Tahajud hukumnya sunah, bukan wajib. Tentunya hal ini berpahala sebagaimana yang dalam kitab Bughyatul Musytarsidin:

تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب نعم ان قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب واي ثواب بالنية الحسنة

Boleh dikerjakan secara berjamaah shalat sunah seperti halnya witir dan tasbih. Tidak ada kemakruhan walau tidak berpahala. Iya, ketika ditujukan untuk menajari dan memotivasi meteka, tentu berpahala. Karena pahala dapat diraih dengan niat yang baik.

Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here