Kisah Rasulullah Diminta Terapkan Hukum Had, Tapi Beliau Menolaknya

0
341

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah sabdanya Rasulullah SAW berkata “siapa yang menutupi aib saudaranya di dunia, maka Allah SWT akan menutupi aibnya baik di dunia maupun akhirat, Allah SWT akan senantiasa menolong seseorang, selama orang tersebut gemar menolong saudaranya. (HR. Abu Daud)

Hadis tersebut memberikan pelajaran kepada kita untuk senantiasa menutupi keburukan orang lain dan tidak menyebarluaskannya. Karena sejatinya yang demikian itu lebih baik di hadapan Allah SWT. Bahkan, Allah SWT berjanji akan menutupi keburukan seseorang yang menutupi dan tidak menyebarluaskan keburukan saudaranya, baik di dunia maupun di akhirat.

Jika menutupi keburukan seseorang memiliki nilai terpuji di hadapan Allah SWT, maka tidak mencari tahu tentang keburukan orang lain memiliki nilai istimewa tersendiri dalam ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW sebagai Nabi yang membawa rahmat bagi alam semesta. Keistimewaan sikap tidak selalu ingin tahu tentang keburukan oranglain, diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa interaksi beliau dengan para pelaku dosa yang datang kepada beliau, dan mengakui dosanya.

Diantara riwayat yang mendeskripsikan tentang keistimewaan tidak banyak mencari tahu tentang keburukan orang lain, adalah sebuah riwayat yang termaktub dalam kitab shahih bukhari dan muslim.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Umamah, “Ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW di masjid, (tiba-tiba) datang seorang lelaki, lalu ia berkata “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa yang mewajibkan hukum had bagiku, jatuhilah aku hukuman itu.”

Menanggapi hal tersebut Rasulullah SAW hanya diam, hingga akhirnya salat selesai dilaksanakan, Rasulullah SAW beranjak dari tempatnya, kemudian laki-laki tadi mengikuti Rasulullah SAW, aku pun mengikuti keduanya dari belakang karena rasa penasaran apa tanggapan Rasulullah SAW terhadap pengakuan laki-laki tersebut.

Hingga pada saat lelaki tersebut berhasil menyusul Rasulullah SAW, lelaki itu berkata kembali “Wahai Rasulullah SAW aku berhak untuk mendapatkan hukum had, maka jatuhilah aku hukuman itu.”

Rasulullah SAW pun akhirnya menjawab: “Bukankah ketika kamu keluar dari rumahmu (untuk menuju masjid) kamu telah berwudhu dan menyempurnakan wudhumu? Lelaki itu menjawab “Iya waha Rasul.”

Rasululllah SAW kembali bertanya “bukankah tadi kamu telah ikut salat berjamaah bersama kami? Lelaki itu menjawab “iya, wahai Rasul”, akhirnya Rasulullah SAW berkata kepada lelaki tersebut “Maka (dengan apa yang telah kamu kerjakan tersebut) sesungguhnya Allah SWT telah mengampuni dosamu” (HR. Bukhari, Muslim)

Dari riwayat tersebut kita bisa memetik, setidaknya dua pelajaran dari sikap Rasulullah SAW.

Baca Juga :  Opini: Kiprah NU terkait Desakan Pengesahan RUU PKS

Pertama, bahwasannya Rasulullah SAW tidak berusaha untuk mencari tahu apa dosa yang dilakukan lelaki tersebut meskipun lelaki tersebut bahwa ia telah melakukan dosa. Rasulullah SAW lebih memilih untuk diam sehingga lelaki tersebut melakukan hal-hal baik yang dapat menghapuskan dosanya.

Kedua, Terlihat dari riwayat tersebut bahwa Rasulullah SAW sebagai seorang hakim yang memutuskan lebih memilih jalur pertaubatan untuk menebus dosa orang yang bersungguh-sungguh ingin bertaubat melalui pengakuannya sendiri, dibandingkan menjatuhkan hukuman had kepadanya.

Dari sisi ini, kita bisa melihat sisi keluhuran budi Rasulullah SAW yang tidak tega jika harus melihat orang yang ingin bertaubat sungguh-sungguh, bahkan telah mengakui kesalahannya dan bersedia untuk dihukum, harus dihukum terlebih dahulu secara fisik, padahal ada jalan lain yang lebih manusiawi melalui jalur pertaubatan kepada Allah SWT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here