Mengenal K.H. Ali Mustafa Yaqub: Ahli Hadis Indonesia Abad ke-21

0
457

BincangSyariah.Com – Ali Mustafa Yaqub merupakan anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan H. Yaqub dan Hj. Habibah. Ia lahir di Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada tanggal 2 Maret 1952.

Masa kecil Ali ditempuhnya seperti anak-anak lain di kampungnya. Pada masa ia menempuh sekolah dasar, usai belajar di sekolah, ia habiskan untuk menemani kawan yang menggembala kerbau di lereng-lereng bukit pesisir utara Jawa Tengah. Kebiasaan Ali ini kelak membentuk karakter dan kepribadian Ali yang tegas, kritis, dan peduli.

Semula ia berminat menempuh pendidikan umum. Namun, ayahnya membelokkannya ke pesantren. Setelah belajar di SD dan SMP di desa tempat kelahirannya, dengan diantar ayahnya, ia mulai mondok untuk memperoleh ilmu agama di Pesantren Seblak, Jombang sampai tingkat Tsanawiyyah, dengan rentang waktu 1966-1969.

Kemudian ia nyantri lagi tahun 1969-1972 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang lokasinya hanya beberapa ratus meter saja dari pondok Seblak. Selanjutnya pada pertengahan tahun 1972 ia melanjutkan menuntut ilmu pada Program Studi Syariah di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang dan selesai pada tahun 1975. Di samping belajar, Ali Mustafa Yaqub juga mendapat tugas mengajar di almamaternya tersebut untuk kajian kitab-kitab kuning dan bahasa Arab, sampai awal tahun 1976.

Pada pertengahan tahun 1976, atas beasiswa penuh dari pemerintahan Arab Saudi, Ali Mustafa mencari ilmu lagi di Fakultas Syariah, Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, Saudi Arabia, sampai tamat dengan ijazah Licence (Lc) tahun 1980.

Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan studi lagi di Universitas King Sa’ud Departemen Studi Islam, Jurusan Tafsir Hadis sampai tamat dengan ijazah Master tahun 1985. Dipilihnya Fakultas Syariah (S1) dan Departemen Tafsir Hadis (S2) oleh Ali Mustafa Yaqub bukan sebuah kebetulan, tetapi karena dalam pandangannya, kedua ilmu ini (Syariah dan Hadis) sangat diperlukan masyarakat.

Pada tahun-tahun Ali Mustafa kuliah di Saudi, program doktor belum dibuka pada universitas-universitas di Riyadh. Hal tersebut karena rendahnya minat orang Arab Saudi untuk kuliah S3 waktu itu. Pihak universitas hanya bersedia membuka program doktor dengan syarat mahasiswa asli Saudi harus lebih dari 50 persen. Tetapi, saat itu 20 orang mahasiswa program S2 di Universitas King Saud Riyadh hanya 2 orang saja yang asli Saudi sehingga program S3 tidak bisa diadakan.

Kondisi ini membuat Ali Mustafa Yaqub tidak bisa langsung melanjutkan kuliahnya pada program doktor. Sehingga setelah lulus S2 ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Baru pada tahun 2005 Ali Mustafa Yaqub melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Nizamia Hyderabad India.

Baca Juga :  K.H. Ali Mustafa Yaqub: Jihad Bukan Terorisme dan Terorisme Bukan Jihad

Pada pertengahan tahun 2008, Ali Mustafa Yaqub mampu menyelesaikan program doktor pada konsentrasi Hukum Islam di universitas tersebut, dengan judul desertasi Ma’āyīr al-Ḥalāl wa al-Ḥarām fī al-Aṭ’imah wa al-Asyribah wa al-Adwiyah wa al-Mustakhḍarāt al Tajmīliyyah Alā Ḍaū‟ al-Kitāb wa al-Sunnah” di bawah bimbingan Muhammad Ḥasan Hitou, Direktur Lembaga Studi Islam Internasional di Frankfurt Jerman.

Dalam perkembangan intelektual Ali Mustafa, guru-gurunya sangat berpengaruh dalam hidupnya. Selama berada di Tebuireng Jombang, ia banyak menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai senior antara lain: Idris Kamali, Adhlan Ali, Shobari, dan Syamsuri Baidawi. Di Tebuireng, dia juga pernah belajar dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk bidang studi Bahasa Arab dan kitab Qatr al-Nadā pada tahun 1971.

Selain itu, tokoh yang sangat berpengaruh dalam intelektualnya khususnya di bidang hadis adalah Muhammad Muṣṭafā al-A‟ẓāmī. Guru hadisnya di Universitas King Saud Riyadh. Ulama kontemporer pakar fiqh dan Tafsir Waḥbah al-Zuhailī juga merupakan gurunya. Dari beliau pula Ali Mustafa belajar untuk produktif dalam menulis.

Selama 9 tahun kuliah di Arab Saudi, Ali Mustafa juga rajin menghadiri halaqah-halaqah di luar kampus, misalnya halaqah hadis kutub al-sittah yang diasuh oleh Abdul ‘Azīz bin Abdullah bin Bāz (w.1999 M.) yang berjarak 30 km dari tempat tinggal Ali di Riyadh. Nampaknya, dari interaksi dengan halaqah inilah Ali Mustafa mendapat inspirasi untuk mendirikan pesantren khusus hadis kemudian hari di tanah air. Di samping itu, Ali Mustafa juga menghadiri perkuliahan-perkuliahan yang dibawakan oleh al-Aziz ‘Alū Syaīkh dan tokoh-tokoh lain.

Pentingnya dakwah mendorong kuat Ali Mustafa untuk mendedikasikan seluruh tenaganya untuk aktivitas dakwah Islam. Sehingga sepulang dari Timur Tengah, Ali ingin mengabdikan diri berdakwah di Indonesia Timur (Papua), tetapi takdir berkata lain.

Pertemuannya dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika pulang dari belajar di Saudi Arabia pada tahun 1985 di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengubah paradigma berpikir Ali Mustafa sejak masa kuliahnya itu. Menurut Gus Dur, berdakwah tidak mesti harus ke Papua (Irian Jaya) apalagi Timur-Timur. Jakarta adalah medan dakwah yang juga butuh perhatian khusus.

Setelah pertemuan tahun 1985 dengan Gus Dur tersebut, Ali Mustafa mengajar di Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta untuk mata kuliah Hadis dan Ilmu Hadis. Ia juga pernah mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Pengajian Tinggi Islam Masjid Istiqlal Jakarta, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Agama Islam Shalahuddin al-Ayyubi (INNISA) Tambun Bekasi, Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI,  Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyyah Jakarta. Selain itu, ia juga aktif mengajar hadis dan ilmu hadis di berbagai tempat. Dan pada tahun 1989, ia bersama keluarganya mendirikan pesantren Darussalam di desa kelahirannya, Kemiri.

Baca Juga :  Tiga Ritual yang Perlu Dilakukan saat Anak Baru Lahir

Dalam dunia organisasi, ia pernah menjadi Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh. Setelah kembali ke Indonesia ia pernah menjadi pengasuh Pesantren al-Hamidiyyah Depok (1995-1997) dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyyah Jakarta (1991-1997). Di samping  itu, tahun 1990-1996 ia diamanahi menjadi Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighin.

Kemudian untuk periode kepengurusan 1996-2000 ia diamanahi menjadi Ketua Dewan Pakar, merangkap ketua Departemen Luar Negeri DPP Ittihadul Muballighin. Ia juga aktif sebagai anggota Komisi Fatwa MUI Pusat sejak 1986-2005, Ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LepHi), pengasuh rubrik Hadis majalah Amanah Jakarta, dan pengasuh rubrik mudzakaroh majalah Panji Masyarakat dan Wakil Ketua Dewan Syari’ah Nasional. Sementara pada tahun 1997 ia mendirikan Pesantren Darussunnah di Pisangan Barat Ciputat yang spesialis mempelajari Hadis dan Ilmu Hadis untuk mahasiswa.

Selain itu, pada tahun 1997-2010 ia menjadi Wakil Ketua Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tahun 2005-2010 sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat. Dan pada tahun 2005 pula Ali Mustafa diangkat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal hingga Januari tahun 2016. Tahun 2010 ia juga diangkat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Fatwa hingga tahun 2015.

Ali juga dipercaya sebagai Penasihat Syariah Halal Transactions of Omaha Amerika Serikat tahun 2010 hingga 2016. Pada tahun 2013 hingga 2016, Ali Mustafa juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM). Dan pada tahun 2014, ia mendirikan Pesantren dan Madrasah Darussunnah 6 tahun untuk tingkat Tsanawiyyah dan Aliyah.

Ali Mustafa juga tercatat sebagai Guru Besar Hadis pada Institut Ilmu alQur’an (IIQ) Jakarta (1998-2016), Guru Besar Hadis dan Ilmu Hadis Program Magister Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2012-2016), Guru Besar Hadis dan Ilmu Hadis Program Magister STAIN Pekalongan Jawa Tengah (2012-2016), Advisor to Darul Uloom, New York, USA (2013-2016), Anggota Lajnah Pentashih al-Qur’an Depag RI, anggota Dewan Syariah Majelis al Zikra, Anggota Dewan Syariah Bank Bukopin Syariah, dan lain-lain.

Baca Juga :  Albani dalam Pandangan Ali Mustafa Yaqub

Selain berkiprah di dalam negeri, tokoh hadis yang pernah mendapatkan penghargaan Setyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2008 ini juga sering melakukan tugas luar negeri. Di antaranya adalah menjadi anggota Delegasi MUI untuk mengaudit pemotongan hewan di Amerika (2000), anggota Delegasi Departemen Agama RI untuk Studi Banding tentang Metode Pelestarian al-Qur’an di Iran, Mesir, dan Saudi Arabia (2005), dan menjadi peserta sekaligus pemakalah dalam Konferensi Internasional tentang Penerapan Fatwa di Kuala Lumpur, Malaysia (2006).

Sementara itu, sampai akhir hayatnya pada hari Kamis subuh, 28 April 2016 di Ciputat, dalam usia 64 tahun, Ali Mustafa selain mengasuh Pesantren Darus Sunnah juga mengajar hadis di Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari Kamis, di Masjid Agung Attin setiap bulan di hari Sabtu pertama, Masjid Istiqlal setiap Ahad kedua, dan di Masjid Raya Pondok Indah setiap Ahad pertama dengan menggunakan kitab pegangan Hadis al-Arbaīn al-Nawawī.

Ia wafat dengan meninggalkan seorang istri benama Ulfah Uswatun Hasanah, yang merupakan salah satu muridnya di Institut Ilmu al-Qur‟an (IIQ), yang dinikahinya pada 5 Mei 1990. Ia juga meninggalkan Zia Ul Haramain, putra semata wayangnya yang kini meneruskan Pondok Pesantren Darus Sunnah yang telah dirintis Ali Mustafa.

Selain menjadi pendakwah, pengajar, dan pengasuh pesantren, Ali Mustafa juga termasuk produktif dalam menulis. Ia memiliki sebuah filosofi yang menjadi penyemangatnya untuk terus berkarya yaitu, “Walā Tamūtunna Illā Wa AntumKātibūn”,“Janganlah kalian meninggal dunia sebelum menjadi penulis”.

Menurutnya, tulisan akan menjadi guru lintas generasi; sedang kata-kata hanya untuk orang dan waktu yang terbatas. Sementara buku akan selalu bisa dibaca oleh banyak orang di setiap waktu. Dalam sebuah syair yang ia gubah, Ali Mustafa mengungkapkan:

Alkhattu yabqa zamanan ba’da shahibih # wa katibul khatti tahtal ardli madfunun

“Karya-karya tulis akan kekal sepanjang masa # Sementara penulisnya hancur terkubur di bawah tanah.”

Maka buku-bukunya seperti kritik hadis, hadis-hadis bermasalah tetap dibaca masyarakat luas meskipun beliau telah dipanggil Allah. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.