Mencukur Kumis Model Kumis ala Adolf Hitler atau Charlie Chaplin Dijawab di Buku Ini

0
4

BincangSyariah.Com – Habib Salim bin Jindan, ulama besar betawi sekaligus kakek dari dua kakak beradik habib Jindan dan Habib Ahmad, pernah menjawab pertanyaan bolehkah mencukur kumis hanya pada batas lubang hidung saja, seperti yang dilakukan para pemuda masa kini? Pertanyaan tersebut terekam dalam salah satu karya beliau, al-Ilmam bi Ma’rifat al-Fatawa wa al-Ahkam, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Fatwa Habib Salim bin Jindan tentang agama dan budaya.

Saya langsung terlintas bahwa yang dimaksud adalah model kumis ala Adolf Hitler atau Charlie Chaplin, kumis tebal yang tetap terjaga di bawah hidung. Terlepas Habib Salim mengetahui Hitler atau Chaplin, itu bukan yang perlu ditelusuri namun ketiganya hidup di masa yang sama, yaitu awal abad ke-20 (Habib Salim: w. 1969; Hitler: w. 1945; Chaplin: w. 1977). Dan, Habib Salim jelas menyadari bahwa model mencukur kumis dengan seperti itu sedang menjadi tren di masyarakat, termasuk berkembang di Hindia Belanda saat itu.

Habib Salim bin Jindan memberikan kesimpulan jawaban bahwa mencukur kumis dengan model seperti itu (hanya seukuran lubang hidung atau kurang dari itu) diperbolehkan. Yang terpenting, menurut beliau, penekanan dalil dari hadis Rasulullah Saw. yang menyebutkan kalau “orang yang tidak mencukur kumisnya itu bukan termasuk bagian dari kita” (disebutkan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan al-Baihaqi) adalah mencukur kumis agar sekiranya terlihat indah dalam pandangan mata.

Ada 85 fatwa yang Habib Salim dalam karyanya tersebut, tersebar dari persoalan mencukur kumis, sampai persoalan yang hangat diperdebatkan di masa itu soal hukum memakai jas, hukum sekolah di sekolah Eropa, atau hukum memakan daging kalengan yang diimpor dari Eropa.

Baca Juga :  Inilah Tujuh Nama dari Golongan Jin yang Pertama Masuk Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here