Karakter Pesantren

0
390

BincangSyariah.Com – Aku masih mengingat penuh satu momen yang mengesankan. Di hadapan para kiai pondok pesantren yang hadir dalam seminar kepesantrenan, 26 Juni 2014 di hotel Soll Marina, Serpong, aku diminta bicara tentang apa yang dimiliki dan harus dijaga dan dirawat oleh pesantren.

Ini adalah pertanyaan yang menarik sekaligus menukik. Ia seperti menyimpan kegelisahan panjang yang ingin dijawab segera tentang peran dan sumbangan pesantren kini dan mendatang bagi negeri ini. Aku mencoba menawarkan gagasan saja. Boleh jadi tak juga memuaskan.

Pada awal adanya, pesantren dimaksudkan sebagai institusi sosial dengan visi-misi profetik (cita-cita kenabian). Cita-cita ini tidak lain adalah cita-cita kemanusiaan. Ia adalah memutus mata rantai penindasan manusia atas manusia, membebaskan manusia dari struktur sosial tiranik yang membodohi dan memarginalkan mereka, mengajarkan pengetahuan dan menegakkan keadilan. Visi ini diungkapkan secara eksplisit oleh Alquran:

الَر كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S. Ibrahim [14]: 1).

Ketika saya belajar di pesantren, kiai mengatakan, “Belajar dan mengaji itu untuk menghilangkan kebodohan.” Kalimat ini tampak amat sederhana memang, tetapi ia amat mendasar dan prinsipil. Kebodohan adalah kegelapan. Permusuhan lebih sering akibat dari kebodohan atau ketidakmengertian. Jadi kebodohan berpotensi melahirkan kezaliman. Ini dari satu sisi.

Pada sisi yang lain, misi profetik itu adalah mewujudkan sistem kehidupan yang diliputi oleh kesalingan merahmati (menyayangi), saling mencintai dan menegakkan moralitas luhur atau akhlak karimah. Allah mengatakan:

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Arabi tentang Tragedi Pembantaian Imam Husen

وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

 Aku tidak mengutusmu (Hai, Muhammad), kecuali sebagai pembawa misi kasih sayang bagi semua manusia dan alam. (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107).

Nabi mengatakan:

بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلاَخْلَاقِ.

Aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti luhur.

Dari sumber keagamaan paling otoritatif di atas itulah, lalu para pendiri pesantren menanamkan sejumlah nilai kehidupan profetik bagi komunitasnya. Ia antara lain adalah: keikhlasan, kemandirian, kebersamaan, kanaah (menerima apa adanya pemberian Tuhan), dan zuhud (keberagamaan hidup).

Salah seorang pendiri pondok pesantren “modern” Gontor, K.H. Imam Zarkasyi, menyebut “Panca Jiwa”: keikhlasan, kesederhanaan, persaudaraan, kemandirian, dan kebebasan.

Keikhlasan adalah yang pertama dan utama. Keikhlasan dimaknai ketulusan mengabdi tanpa berharap imbalan apa-apa. Bekerja baik dengan ikhlas adalah bekerja karena pekerjaan itu semata-mata baik. Di dunia pesantren, “bekerja dengan ikhlas” sering diterjemahkan sebagai bekerja lillah ta’ala, bekerja karena Allah semata-mata, bukan karena manusia atau hal-hal lain. Dan kerja ikhlas inilah yang diterima oleh Allah.

Pada masa lalu, para kiai sangat menganjurkan atau bahkan melarang santrinya untuk menjadi pegawai negeri. “Jika kamu bekerja untuk Allah,” dawuh mereka, “jangan takut tidak makan. Allah pasti menjamin hidupmu.” Nabi Muhammad saw. bersabda,

مَنْ تَفَقَّهَ فِى دِينِ اللهِ كَفَاهُ اللهُ هَمَّهُ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

Barangsiapa yang belajar agama, maka Allah akan cukupi keperluannya dan Dia memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga.

Kemandirian adalah ketaktergantungan pada orang lain, kepada manusia. Ketergantungan manusia hanya kepada Allah saja karena semua yang ada di alam semesta adalah milik-Nya. Pikiran ketergantungan kepada kekuasaan (pemerintah) atau kepada ‘orang kaya’ hanya akan merendahkan dirinya dan pada saatnya boleh jadi harus menerima kooptasi mereka. Karena ajaran inilah, pesantren (pada masa lalu) tidak berharap meminta bantuan pemerintah.

Baca Juga :  Cak Nur dan Modernisasi Pesantren: Refleksi Buku "Bilik-bilik Pesantren" Nurcholish Madjid

“Jangan berharap kepada manusia,” kata para kiai menasihati para santri,” karena mereka akan mengecewakanmu. Tetapi berharaplah hanya kepada Allah karena Dia akan memberikan yang terbaik untukmu. Dialah pemilik segala yang ada di jagat raya ini. Manusia tidak punya apa-apa.”

Para pendiri pesantren memosisikan dirinya sebagai partner pemerintah yang kritis tetapi konstruktif. Pesantren akan mendukung kekuasaan yang adil dan memihak kepada mereka yang termarjinalkan, tersisih, dan tak beruntung. Para ulama pesantren selalu berada di samping rakyat yang tertindas, yang kelaparan dan yang lugu. Pesantren hanya menggantungkan diri kepada Tuhan.

Karena itu, pesantren pada awalnya sengaja didirikan di tempat yang jauh dari pusat keramaian kota. Ia ada di desa-desa agar bisa hidup bersama orang-orang yang sering tak dinyatakan ‘ada’, yang kesepian, yang teralienasi dari pusaran hiruk-pikuk ambisi dan berlomba meraih kenikmatan-kenikmatan sesaat. Para kiai pendiri pesantren hadir untuk mendampingi mereka sekaligus mengajak untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Rakyat diajak untuk mengerti diri, orang lain, dan lingkungan hidupnya.

Nilai-nilai di atas adalah karakter pesantren yang harus selalu ada dan menyertai hidup dan kehidupan pesantren dan komunitasnya. Jika nilai-nilai ini hilang dari institusi keagamaan ini, maka ia telah kehilangan jati dirinya, kehilangan jiwanya.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.