Kisah-Kisah Perjalanan Spiritual Ibnu Arabi

1
12

BincangSyariah.Com – Penulis A. Rofi’ Usmani dalam Tokoh-Tokoh Muslim Pengukir Zaman menyebutkan bahwa Pada 590 H/1193 M, ketika pikiran-pikiran Ibnu Arabi telah mengkristal untuk persoalan spiritual, ia berkelana mengelilingi Andalusia. Perjalanan spiritual Ibnu Arabi dimulai ketika ia menuju kota Murur untuk menemui Syekh Abu Muḥammad al-Mawruri.

Selanjutnya ia meneruskan perjalanannya ke Cordova dan Granada. Setelah itu ia menyeberangi lautan dan menuju daratan lain.

Dari Spanyol ke Mengelilingi Afrika Bagian Utara

Ia pun pergi ke Bejayah (Bugia), Aljazair untuk mengunjungi Shaikh Abu Madyan, seorang pendiri aliran tasawuf yang barangkali adalah shaikh paling terkemuka pada zamannya.

Melalui Abu Madyan, kecenderungan Ibnu Arabi teradap sufi khas Maghrib benar-benar kentara. R.W J. Austin dalam Sufi-Sufi Andalusia menjelaskan bahwa Abu Madyan adalah seorang yang sangat berpengaruh pada diri Ibnu Arabi. Hal ini terlihat dari kisah-kisah yang ditulisnya sendiri mengenai tokoh-tokoh spiritual pada zamannya.

Meskipun keinginannya untuk bertemu dengan Abu Madyan secara fisik tidak pernah tercapai, akan tetapi Ibnu Arabi meyakini bahwa Abu Madyan mengenalnya, bahkan telah menemuinya berkali-kali secara spiritual. Tokoh inilah yang kerap kali disebut-sebut sebagai salah satu mata rantai yang menghubungkan Ibnu Arabi dengan aliran Neo-Platonisme.

Dari Bugia, Ibnu Arabi meneruskan perjalanannya ke Tunisia. Di sana ia mengkaji karya seorang sufi sekaligus politisi, Abu al-Qasim Ibn Qusai, yakni Khal al-Na’layn (melepas kedua sandal). Tokoh ini terkenal karena pembelotannya terhadap Dinasti al-Murabitun di Andalusia Barat.

Selain mengkaji karya tersebut, pada tahun yang sama Ibnu Arabi juga mengunjungi beberapa murid Abu Madyan, seperti Abdul Aziz al-Mahdawi dan Abu Muḥammad Abdallah al-Kinani. Kepada al-Mahdawi ia mempelajari karya Ibn Barrajan, yakni al-Hikmah.

Dituturkan bahwa selama berada di Tunisia, Ibnu Arabi bertemu dengan Nabi Khiḍir. Pertemuan kemudian terjadi lagi ketika pada akhir 1194 M Ibnu Arabi kembali ke Andalusia. Dengan demikian sebanyak tiga kali telah ditemui oleh Khiḍir dalam tingkatan yang berada secara fisik.

  1. Pertemuan pertama berlangsung di daratan, di jalan kota pada siang hari, di mana ia menekankan kepasrahan lahiriah kepada guru duniawi.
  2. Pertemuan kedua terjadi di air, sebuah pertemuan pribadi di bawah cahaya bulan purnama.
  3. Dan pertemuan ketiga, Khiḍir memperlihatkan diri di atas udara.

Tampaklah bahwa ada tahapan dari ajaran Khiḍir dalam bahasa yang khusus untuk menuntun Ibnu Arabi ke dalam pengetahuan misteri Ilahi dan mendorongnya untuk merenungkan kualitas dari pendidikan tersebut.

Sejak saat itu ia memulai aktifitas menulis, menuangkan ilham atau inspirasi yang diterimanya ke dalam tulisan agar bisa dibaca para sahabatnya. Di akhir 1194 M, setelah kembali ke Andalusia, ia menulis salah satu karya besarnya, Maqasid al-Asrar, untuk sahabat-sahabat dari Mahdawi.

Pada sekitar tahun yang sama ia menyusun at-Tadbiiraat al-Ilaahiyyah untuk al-Mawruri. Dalam periode sepuluh tahun sejak pengunduran dirinya dari pemerintahan al-Muwahhidin dan memasuki jalan rohani, Ibnu Arabi melakukan perjalanan yang menandai masa instruksi dalam kebijaksanaan kenabian. Ia memulai sebagai Isawi, kemudian menjadi Musawi, dan setelah bertemu dengan Nabi Hud as, dan semua nabi, ia akhirnya sampai pada warisan Muhammad saw. Terkadang proses ini berada di bawah bimbingan para guru spiritual, terkadang melalui campur tangan langsung dari para nabi itu sendiri.

Ibnu Arabi dengan jelas melihat seluruh proses perkembangan spiritual dan kewalian dari segi kebijaksanaan khusus dari para Nabi dan Rasul. Baginya, kebijaksanaan-kebijaksanaan itu tidak lain adalah ekspresi integral dan menyatukan kebijaksanaan Muhammad. Warisan kenabian ini membentuk basis riil dari semua tulisannya. Ia mulai sebagai pengikut Yesus Kristus, menekankan pada penarikan diri, dan kemudian di dalam jalan spiritual Musa, saat cahaya wahyu diturunkan. Setelah melalui tempat-tempat wahyu diwakili oleh masing-masing nabi, ia akhirnya sampai pada warisan sempurna dari Muhammad.

Ketika ayahnya meninggal dunia, lalu disusul ibunya beberapa bulan kemudian, Ibnu Arabi harus merawat kedua saudarinya, yakni Ummu Sa’ad dan Ummu Ala. Hal ini membuat  ia harus meninggalkan kehidupan spiritualnya. Desakan duniawi juga muncul, ketika terjadi ketegangan politik antara al-Muwaḥḥidīn di Sevilla dan Raja Alfonso VIII dari Castile. Ibnu Arabi mendapat tawaran pekerjaan dalam pasukan pengawal Sultan. Karena teringat ucapan Salih al-Adawi, Ibnu Arabi menolak tawaran itu. Kemudian ia meninggalkan Sevilla membawa kedua saudarinya menuju Fez dan tinggal di sana untuk beberapa tahun. Setelah kedua adiknya mendapatkan suami, ia kembali mencurahkan diri pada jalan spiritual.

Stephen Hirtenstein dalam Dari Keragaman ke Kesatuan Wujud: Ajaran dan Kehidupan Spiritual Syaikh Al-Akbar Ibn ‘Arabi menyebutkan bahwa Fez tampaknya menandai periode kebahagiaan yang luar biasa dalam kehidupan Ibnu Arabi, di mana ia bisa mengabdikan dirinya secara penuh kepada kegiatan  spiritual dan bergaul dengan orang-orang yang sepaham dan memiliki aspirasi yang sama. Dia bukan hanya bertemu dengan para wali yang merupakan pewaris ajaran Nabi Muḥammad, namun juga masuk semakin dalam pada warisan ajaran tersebut.

Di masjid al-Azhar, Fez, ia memasuki tingkatan baru dari visi di dalam bentuk cahaya. Visi cahaya ini adalah sejenis rasa pendahuluan dari perjalanan cahaya yang besar. Di tahun berikutnya, pada usia 33 tahun, Ibnu Arabi mengalami suatu perjalanan yang luar biasa dari semuanya, yaitu pendakian (mi’raj) yang mencerminkan perjalanan malam Nabi Muhammad yang terkenal. Perjalanan ini kemudian tertuang dalam karya al-Isra’.

Perjalanan ini merupakan perjalanan spiritual ke atas langit  perjalanan yang membawa peziarah melampaui sekat-sekat geografis menuju hadirat Ilahi, sebagaimana firman Allah “yang berjarak dua busur atau lebih dekat” (Q.S. Al-Najm: 9). Bagi para wali, meneladani Nabi berpuncak dalam “perjalanan malam” ini.

Setelah dianugerahi visi yang paling terang tentang takdirnya, Ibnu Arabi kembali ke semenanjung liberia untuk terakhir kalinya pada tahun 1198 M. Di bulan Desember tahun itu ia berada di Kordova saat pemakaman Ibn Rusyd. Kemudian dari Kordova, bersama sahabat dekatnya al-Habshi mereka menuju ke Granada dan kembali bertemu dengan Abdullah al-Mawruri. Pada bulan Januari 1199 M di Granada Ibnu Arabi mendapat visi yang memperkuat makna dari penutup para wali. Dari Granada mereka menuju Murcia. Setelah dua tahun berada di negeri kelahirannya ini, mereka pergi ke Marakesy. Pada awal 1201 M (597 H) dari kota ini mereka menuju Bugia lagi, setelah itu berkelana ke Tripoli, Tunisia, Mesir dan kemudian menuju Makkah.

Mekkah dan Baghdad

Di akhir perjalanan panjangnya dari barat, Ibnu Arabi akhirnya tiba di Makkah pada pertengahan 1202 M. Di kota ini namanya mencuat, para tokoh dan ilmuwan pun sering menemuinya. Di antara mereka adalah Abu Syuja’ al-Imam al-Muwakkil yang mempunyai seorang putri cantik dan cerdas bernama Nizam. Gadis ini memunculkan inspirasi pada diri Ibnu Arabi sehingga lahirlah karyanya Turjuman al-Ashwaaq.

J. Austin menuturkan bahwa Pada tahun 601 H/1204 M, Ibnu Arabi meninggalkan Makkah menuju Baghdad dan tinggal selama 12 hari, lalu melanjutkan perjalanan ke Mosul. Selama tinggal di Mosul ini ia berhasil menyelesaikan tiga karya, yaitu Tanazzulat, al-Mawsiliyyah, dan al-Jalal wa al-Jamal.

Di Konya

Dari Mosul, di tahun 1205 M (602 H). Ibnu Arabi dan Habashī berangkat ke utara melalui Dyarbakir dan Malatya sampai Konya. Pada tahun ini Ibnu Arabi menyusun karya Risalat al-Anwar (Risalah Cahaya). Dan untuk pertama kalinya berhubungan dengan Awhad al-Din al-Kirmani, seorang guru spiritual dari Iran.

Pada tahun 1206 M Ibnu Arabi menuju ke Yerussalem lalu Hebron, di sini berhasil menulis karya al-Yaqin dan menunaikan ibadah haji di Makkah pada bulan Juli 1206 M. Menjelang 1207 M mereka kembali berada di Kairo, berkumpul bersama sahabat lama Ibnu Arabi dari Andalusia, yaitu al-Khayyat dan al-Mawruri. Sayangnya, lingkungan baru di kairo itu tidak bersimpati kepada Ibnu Arabi karena ajarannya dianggap menyimpang dan dituduh melakukan bid’ah. Mereka merasa tertekan dengan keadaan ini hingga pada akhir tahun 1207 M Ibnu Arabi kembali ke Makkah untuk melanjutkan belajar hadis dan juga mengunjungi keluarga Abu Syuja’ bin Rustam.

Setelah tinggal di Makkah sekitar satu tahun, ia lalu pergi menuju utara menuju Asia kecil dan tiba lagi di Konya pada tahun 1210 M (607 H). Di sana ia disambut baik oleh penguasa Kay Kaus dan orang-orang di sana.

Pada tahun 1212 M (609 H) Ibnu Arabi kembali mengunjungi Baghdad. Di sana dia bertemu dengan guru sufi terkenal Shihabuddin ‘Umar al-Suhrawardi, pengarang karya ‘Awarif al-Ma’arif.

Pada periode antara 1213 M – 1221 M Ibnu Arabi berkelana lagi ke Aleppo, Makkah, Anatolia, Malatya dan kembali ke Aleppo lagi. Sewaktu tinggal di Malatya, Ibnu Arabi sempat menulis istilah-istilah as-Sufiyyah.

Pada tahun 1221 M di Aleppo, Majduddin Ishaq wafat dan Ibnu Arabi mengambil tugas membesarkan dan mendidik putranya, yakni, Sadruddin Qunawi yang saat itu berusia sekitar 7 tahun. Tidak berapa lama kemudian sahabatnya al-Habashi juga wafat.

Ibnu Arabi wafat di Damaskus

Pada tahun 1223 M/620 H Ibnu Arabi menetap di Damaskus hingga akhir hayatnya, kecuali sekedar kunjungan singkat ke Aleppo pada tahun 1231 M. Perjalanan yang panjang, proses penulisan karya yang luar biasa, kefakiran dan kemiskinan yang menjadi panggilan hidupnya, semuanya itu telah menggerogoti kesehatannya.

Dia amat terkenal dan dihormati di mana-mana. Penguasa Damaskus al-Malik al-‘Adl pernah menawarinya untuk tinggal di istana. Di sini Ibnu Arabi merampungkan karya besarnya al-Futuhat al-Makkiyyah dan juga Fusus al-Hikam sebagai ikhtisar ajaran-ajarannya. Selain itu menyelesaikan puisinya Diwan al-Akbar.

Pada 16 November 1240 M/28 Rabiul Tsani 638 H, Ibnu Arabi meninggal dalam usia 76 tahun di Damaskus. Diantara yang melakukan upacara pemakamannnya ialah Sadruddin al-Qunawi yang telah dibesarkan dan dididiknya selalu mendampinginya dengan setia, bersama dengan Auhaduddin Kirmani, sahabat Ibnu Arabi sekaligus guru Qunawi. Kedua orang tersebut ditemani oleh Qadli ketua di Damaskus.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here