Mariyah Al-Qibthiyah; Wanita Jelita Asal Mesir yang Dipersunting Rasulullah

0
1161

BincangSyariah.Com – Adalah Mariyah bin Syama’un. Wanita cantik jelita ini lahir di Hafn, sebuah dataran tinggi Mesir di kota kuno bernama Ansha atau Anshina di timur sungai Nil. Ayahnya berasal dari suku Qibthi. Sementara ibunya adalah penganut agama Kristen asal Romawi. Dari ibunya ini lah kecantikan paras Mariyah diwariskan. (Baca: Fitnah yang Menimpa Mariyah Al-Qibtiyah Istri Rasulullah)

Di masa kanak – kanak, Mariyah tinggal di tanah kelahirannya, Hafn. Lalu seiring bertambahnya usia, Mariyah bersama saudara perempuannya Sirin berpindah ke istana penguasa Mesir, Muqauqis. Sebab, kedua kakak beradik ini memiliki kedudukan yang agung di tengah warga Qibthi.

Adapun awal kisah antara Nabi Muhammad Saw dan Mariyah dimulai tatkala Rasul mengirim surat kepada beberapa raja dan kepala suku di berbagai belahan dunia berisi ajakan memeluk agama Islam. Termasuk diantaranya adalah Raja Muqauqis. Sementara orang yang bertugas sebagai penyampai pesan kepada sang raja ialah Hathib bin Balta’ah.

Setelah Hathib sampai di istana, Raja Muqauqis dengan senang hati menerima tamunya itu dan menyuruhnya masuk ke dalam istana. Raja membaca surat tersebut lalu menyimpannya. Kemudian ia bertanya tentang Nabi Muhammad Saw. Apa saja yang beliau dan pengikutnya lakukan dan bagaimana sikap, perangai serta akhlak beliau. Hathib pun menjelaskannya setiap pertanyaan raja.

Sang raja mendengarkan kisahnya dengan seksama. Sebenarnya, ia telah mengetahui akan diutusnya seorang Nabi ke muka bumi. Namun, ia mengira Nabi tersebut akan muncul di Palestina sebagaimana telah diutus sejumlah Nabi di sana. Dugaannya kurang tepat, ternyata utusan Allah itu lahir di tanah Arab.

Lalu Raja Muqauqis memberi keputusan tidak memeluk ajaran Nabi Muhammad Saw, sebab masyarakat Qibthi akan menolaknya dan khawatir kelak mereka justru berpaling dari kerajaannya. Sebagaimana suku Qibhti sendiri dikenal sangat memegang teguh paham agama yang telah mereka yakini.

Muhammad Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat-nya menjelaskan, tahun 7 H ketika menerima surat dari Rasul, Raja Muqauqis kemudian memberikan surat balasan beserta hadiah kepada Rasulullah Saw berupa dua orang hamba sahaya yaitu Mariyah Al-Qibthiyyah dan saudarinya Sirin, seribu mistqal emas, lengkap dengan hewan tunggangan.

Baca Juga :  Kecemburuan Istri-istri Rasulullah terhadap Shafiyyah

Selain itu, dikirim juga dalam rombongan tersebut seorang pemuka yang tidak lain adalah saudaranya Mariyah. Namanya Khasiy, namun ada juga yang menamakanya Mabur. Dalam karyanya Ibnu Sa’ad juga mengisahkan betapa cantiknya sosok Mariyah. Disebutkan Mariyah memiliki kulit putih bersih. Siti Aisyah istri Rasul pun mengakui kecantikan si putri Mesir ini.

Adapun soal latar belakang diutusnya Mariyah, para ahli berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bertujuan untuk  menjalin hubungan baik dengan Rasulullah Saw. Namun ada juga yang berpendapat, Mariyah ditugasi untuk melihat langsung apakah benar Nabi Muhammad Saw adalah seorang utusan Allah atau hanya seorang raja biasa.

Keislaman Mariyah

Berpisah ribuan kilometer dari tanah air, tentu membuat hati terasa begitu pilu. Dalam perjalan, kesedihan pasca meninggalkan kampung halamannya tampak begitu jelas tercermin dari kedua kakak beradik itu. Apalagi yang dituju merupakan tempat baru yang belum pernah mereka jajaki. Berbeda suku, berbeda budaya dan asing. Rasa takut dan khawatir pun bersemayam dalam diri mereka.

Hathib cukup peka melihat situasi. Ia merasakan adanya jiwa – jiwa yang sedang larut dalam kegelisahan. Lantas beliau bercerita soal negeri yang mereka tuju, Madinah. Tak lupa ia kisahkan soal figur manusia terbaik yang akan mereka temui. Rasulullah Saw pemilik akhlak paling mulia yang dididik melalui didikan rabbani langsung dari Sang Pencipta Alam Semesta, Allah Swt.

Penjelasan Hathib cukup menghibur keduanya, sehingga perlahan – lahan kesedihan mereka mulai terangkat. Sebaliknya, optimisme untuk meneruskan hidup di tanah rantau kian meningkat. Sedikit demi sedikit pemahaman mereka terhadap ajaran tauhid  pun sudah mulai tumbuh.

Ibnu Sa’ad membahas perihal keislaman Mariyah. Dikisahkan Hathib menawarkan Islam kepada rombongan dari Mesir ini. Lalu Mariyah berserta Sirin menerimanya dan berislam. Sementara Khusay tetap memeluk agama sebelumnya kemudian berislam di Madinah masih di era Rasulullah.

Baca Juga :  Ini Alasan Ibnu Khaldun Tak Percaya Soal Kemunculan Imam Mahdi

Saat mereka tiba di Madinah, Nabi Muhammad Saw kemudian menerima hadiah beserta surat jawaban dari Raja Muqauqis. Beliau mengagumi sosok Mariah Al-Qibthiyyah lalu memilihnya. Sementara Sirin diberikan kepada Hassan bin Tsabit. Di awal kedatangannya ini Mariyah dititipkan di rumah Haritsah bin Nu’man yang kebetulan adalah tetangga Siti Aisyah.

Hadirnya Mariyah yang memiliki paras jelita ini lantas membuat istri – itsri Nabi lainnya cemburu. Terutama Siti Aisyah dan Hafsah. Dikisahkan salah satu penyebabnya adalah perhatian Nabi terhadap Mariyah. Padahal statusnya hanya seorang hamba sahaya yang datang dari negeri asing (Mesir) yang dihadiahkan dari pimpinannya kepada Nabi Muhammad Saw.

Dalam perjalanan selanjutnya, Mariyah merasakan kenyamanan serta ketenganan jiwa pasca menjadi bagian hidup Rasulullah Saw. Mariyah menjelma menjadi figur Muslimah yang begitu patuh dan taat serta tidak pernah berbuat onar.

Setiap petunjuk Rasullullah tidak pernah  disepelekan. Meski sebagian pendapat menyatakan bahwa Mariyah berstatus sebagai sariyyah (selir). Namun tetap ikhlas saat Rasul memintanya untuk berhijab seperti istri beliau yang lain.

Soal status apakah Mariyah seorang istri Nabi atau bukan, para ulama memiliki pandangan masing – masing. Sebagain ulama berpendapat bahwa Mariyah adalah istri Nabi. Namun sebagian lainnya seperti Ibnu Hisyam dan Ibnu Sa’ad mengategorikan Mariyah bukan sebagai istri tapi sebagai selir.

Kelahiran Sayyid Ibrahim

Suatu hari Mariyah merasakan gejala hamil, namun ia tidak mau berharap banyak sebelum ada kejelasan ril perihal kandunganya tersebut. Berbulan – bulan ia menyembunyikan kondisinya itu. Mariyah lalu bercerita kepada Sirin soal gejala yang ia rasakan. Sirin pun meyakinkan kalau memang ada janin di dalam perut saudara nya itu.

Setelah kondisi kehamilannya semakin jelas, barulah Mariah berani memberi tahu Rasul. Rasul mengingat gejala itu mirip seperti saat Khadijah mengandung. Ini kabar gembira, Nabi Muhammad Saw bersyukur kepada Alloh Swt seraya memanjatkan doa. Kabar ini tersiar begitu cepat, para Sahabat pun  ikut gembira mendengar adanya janin Rasulullah itu.

Baca Juga :  Bayi yang Diprediksi Jadi Kiai

Untuk menjaga kesehatan kandunganya, Rasul memindahkan Mariyah ke dataran tinggi di dekat Madinah. Sejumlah ahli sejarah menyebut tempat ini dengan nama Masyrabah Ibnu Ibrahim. Sebab, disini lah putra Nabi bernama Ibrahim dilahirkan. Disini udaranya lebih segar sehingga selir Nabi bisa beristirahat dengan tenang. Selama masa kepindahan, Mariyah ditemani saudari setanah airnya, Sirin.

Pada bulan Dzulhijjah tahun 8 H, bayi yang telah ditunggu – tunggu Rasul lahir. Beliau sangat bahagia dengan kelahiran putra laki – lakinya tersebut. Kemudian sang anak diberi nama Ibrahim. Dalam hal ini Ibnu Sa’ad bercerita, “Saat Mariyah melahirkan Ibrahim, malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan berkata : Assalamu ‘Alaika wahai ayah Ibrahim. Dengan begitu Rasulullah pun merasa tenang”.

Ibnu Jauzi menuturkan dalam Al-Muntadzim bahwa Rasulullah mengakikahi putranya di hari ke tujuh, menggunting rambutnya serta bersedekah kepada fakir miskin. Lalu sejumlah perempuan Anshar sangat berharap dapat menyusui putra Rasulullah. Kemudian beliau memilih Ummu Burdah binti  Mundzir istri  Al – Barra bin Aus untuk menyusui Ibrahim.

Kebahagiaan Nabi Muhammad dan Mariyah tidak berlangsung lama. Ibrahim yang belum genap usia nya dua tahun telah berpulang akibat sakit yang dideranya. Baik sang ayah maupun ibu Ibrahim tidak kuasa menahan kesedihannya. Putra laki – laki Nabi ini kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Setelah Rasul wafat, Mariyah dibiayai oleh Abu Bakar As – Shiddiq lalu Umar bin Khattab. Sebelum kemudian Mariah wafat di masa khilafah Umar pada bulan Muharram tahun 16 H. Sang khalifah mengumpulkan jamaah lalu menyolati jenazahnya kemudian di makamkan di pemakaman Baqi’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here