Kisah Kalajengking, Katak, dan Seorang Pemabuk

0
17

BincangSyariah.Com — Tersebutlah Abul Faidh Dzunnun bin Ibrahim Al-Mishri atau biasa disebut Dzunnun Al-Mishri (w. 245 H)—Allah Yarham—, seorang guru sufi yang terkenal dengan sebutan Bapak Paham Ma’rifah. Ia lahir di Nubia, sebuah desa di wilayah Mesir. Kisah mengenai kalajengking, katak, dan seorang pemabuk ini, sebagaimana tercantum dalam Jejak-jejak Para Sufi, terjadi di sebuah Pantai Gadir, konon dahulu sebuah pantai yang terletak di wilayah Mesir, tatkala sedang menyusuri bersama sahabatnya, Yusuh bin Husein.

Suatu saat, ketika keduanya sedang asik menyusuri Pantai Gadir sambil berbincang-bincang santai, keduanya dikejutkan dengan kehadiran seekor kalajengking yang teramat besarnya. Tanpa disangka, sesaat keduanya melihat kalajengking besar tersebut, sesuatu keanehan terjadi. Keduanya melihat seekor kalajengking tersebut melompot ke atas punggung katak yang tidak kalah besar dan berlalu pergi.

Sontak, melihat kejadian aneh tersebut menjadikan Dzunnun Al-Mishri dan Yusuh Husein menghentikan perjalanannya. “Pada kejadian tersebut, antara seekor kalajengking dan katak sesungguhnya menyimpan sebuah hikmat yang tersembunyi. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan”, kata Dzunnun Al-Mishri.

Mendengar pernyataan Dzunnun Al-Mishri, Yusuh Husein yang sedari tadi masih menyimpan rasa heran yang besar mengikuti langkah Dzunnun Al-Mishri melanjutkan perjalanan menyusuri Pantai Gadir.

Di tengah perjalanan, keduanya kembali terhenti dengan adanya seorang pemabuk yang berjalan sempoyongan dan kemudian jatuh tergeletak di atas pasir dengan seekor ular berbisa yang telah siap untuk mengigit dan mematuknya. Tanpa disangka, kalajengking dan katak yang sedari tadi telah mereka lihat sebelumnya muncul menyengat ular berbisa tersebut hingga mati dan kembali berlalu pergi meninggalkan Dzunnun Al-Mishri, Yusuh Husein, dan seorang pemabuk yang tergeletak serta ular yang telah mati.

Baca Juga :  11 Dampak Buruk yang Ditimbulkan Maksiat

“Itulah di antara  hikmah tersembunyi yang pernah saya katakan tadi. Sekarang mari kita rawat seorang pemabuk tersebut. Mungkin akan ada hikmah selanjutnya yang akan hadir”, kata Dzunnun Al-Mishri.

Keduanya lantas bergegas membangunkan seorang pemabuk tersebut dan berkata, “Wahai pemuda! Lihatlah bagaimana Allah telah menyelamatkanmu. Kalajengking dan katak besar itu datang untuk membunuh ular berbisa yang telah siap mematukmu!”.

“Wahai orang lalai yang tetap mendapat penjagaan Tuhannya dari segala gangguan yang datang. Bagaimana mata ini bisa terpejam sementara secara terus menerus melihat kebesaran-Nya?”, lanjut Dzunnun Al-Mishri.

Seorang pemabuk yang baru saja tersadar dari pengaruh alkoholnya sontak terkejut mendengar pernyataan Dzunnun Al-Mishri. Ia kemudia berkata, “Ya Tuhanku! Engkau telah menyelamatkan hamba yang jelas-jelas telah berbuat durhaka kepada-Mu. Lalu bagaimana Engkau tetap menyayangi orang-orang yang sama sekali tidak berbuat durhaka kepada-Mu?”.

Sontak, setelah berkata demikian, seorang pemabuk tersebut bergegas meninggalkan Dzunnun Al-Mishri dan Yusuh Husein. “Mau kemana kau, wahai pemuda?”, tanya Dzunnun Al-Mishri.

“Ke Baitullah!”, jawab seorang pemabuk tersebut. (Baca: Ketika Sudah Dekat dengan Baitullah, Bacalah Doa Ini)

“Inilah hikmah lainnya yang tersembunyi sebagaimana telah aku katakan tadi”, kata Dzunnun Al-Mishri kepada Yusuh Husein kemudian melanjutkan perjalanan. Wallahu’alam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here