Kejujuran Syekh Abdul Qodir al-Jailani Selamatkannya dari Segerombolan Perampok

0
1548

BincangSyariah.Com—Tersebutlah Syekh Abdul Qodir al-Jailani. Seorang Sufi sekaligus Ulama legendaris yang namanya sangat terkenal seantero negeri. Ia dilahirkan pada tahun 470 H di Jilan, Irak.

Tatkala menginjak usia belasan tahun, melalui perenungan yang sangat panjang, Syekh Abdul Qodir membulatkan keinginannya untuk dapat menuntut ilmu di Baghdad. Dengan sangat bersemangat, Syekh Abdul Qodir mendatangi ibunya dengan maksud meminta izin.

Ibu, titipkanlah diriku kepada Allah. Aku ingin menuntut ilmu di Baghdad”, pinta Syekh Abdul Qodir kecil.

Jika itu sudah tekadmu, maka berangkatlah. Ibu dengan sepenuh hati akan menitipkanmu kepada Allah”, jawab sang ibu dengan penuh haru.

Dahulu, sewaktu ayahmu meninggal dunia, ia sempat meninggalkan harta warisan sejumlah delapan puluh dinar. Warisan ini akan di bagi dua. Sejumlah empat puluh dinar untukmu dan empat puluh dinar lainnya untuk saudaramu”, lanjut sang ibu.

Dengan penuh kegembiraan, Syekh Abdul Qodir kemudian bergegas menyiapkan beberapa potong pakaiannya.

Waktu yang sangat ditunggu oleh Syekh Abdul Qodir pun tiba. Menjelang keberangkatannya, sang ibu kemudian memberikan warisan tersebut kepada Syekh Abdul Qodir untuk bekal hidup di daerah perantauan.

Karena merasa takut terjadi sesuatu terhadap anaknya dan juga perbekalannya tersebut, sang ibu berinisiatif untuk menjahitkan kantong pada baju yang dikenakan oleh Syekh Abdul Qodir tepat dibawah ketiaknya. Tidak lupa, sebaris doa dan juga nasehat terlontar dari mulut sang Ibu kepada Syekh Abdul Qodir kecil.

Wahai anakku, Muhammad Abdul Qodir, aku berpesan kepadamu. Janganlah engkau berdusta, janganlah engkau berbohong dalam segala keadaan. Jujurlah terhadap siapapun juga”, pesan sang ibu.

Baik bu, insyaAllah akan aku laksanakan segala pesan-pesan yang ibu berikan kepadaku”, jawab Syekh Abdul Qodir.

Baca Juga :  Gula dalam Sejarah Islam: Jadi Pemanis sampai Bahan Obat

Berangkatlah Syekh Abdul Qodir kecil beserta rombongan pedagang dengan mengendari kereta kuda menuju kota Baghdad. Perjalanan yang sangat damai sedikit dikacaukan dengan kehadiran segerombolan perampok di daerah Hamadan.

Seluruh penumpang dipaksa untuk turun. Dengan sangat teliti, segerombolan perampok tersebut menggeledah setiap jengkal dari kawanan pedagang tersebut dan mengambil seluruh harta bendanya.

Sempat dihiraukan karena mengenakan pakaian yang compang-camping, Syekh Abdul Qodir kecil kemudian di datangi oleh salah seorang dari segerombolan perampok tersebut seraya berkata, “Wahai anak kecil, siapakah namamu?”.

Namaku Muhammad Abdul Qodir, tuan”, jawab Syekh Abdul Qodir lembut.

Dari mana dan mau kemana gerangan kau, anak kecil?”, tanya sang perampok.

Saya dari Mekkah, tuan. Ini saya beserta rombongan tersebut ingin menuju kota Baghdad. Mereka dengan tujuan ingin berdagang, sementara saya inging menuntut ilmu, tuan”, jawab Syekh Abdul Qodir.

Adakah yang engkau bawa atau mempunyai uang?”, tanya sang perampok.

Ada tuan. Sebelum keberangkatanku, ibu menjahitkan sebuah kantong tepat dibawah ketiakku. Ia sengaja menjahitkan kantong tersebut untuk menyimpan uang perbekalanku sebanyak empat puluh dinar”, jawab Syekh Abdul Qodir dengan polos sembari menunjuk ke arah ketiaknya.

Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Syekh Abdul Qodir kecil, sang perampok kemudian membawanya untuk bertemu langsung dengan pimpinannya.  “Ayo ikut menghadap ketua”, kata sang perampok sembari menggandeng tangan Syekh Abdul Qodir kecil.

Wahai ketua, apakah anak kecil ini terlihat mempunyai uang?”, tanya sang perampok.

Hah? Mana mungkin anak kecil ini mempunyai uang. Lihat saja, pakaiannya saja compang-camping!”, jawab sang ketua sedikit menahan tawa.

Baca Juga :  Ilmu Debat Dalam Khazanah Islam

Akan tetapi ia tadi mengaku kepada saya bahwa ia memiliki sejumlah empat puluh dinar, ketua. Coba engkau tanya kepadanya”, kata sang perampok.

Hai anak kecil, apakah yang engkau bawa dalam perjalanan ini? Mau kemana kah engkau?”, tanya sang ketua dengan tegas.

Wahai tuan, saya membawa sejumlah empat puluh dinar, warisan yang diberikan ayahku untuk perbekalanku di Baghdad selama menuntut ilmu nanti. Ibuku menjahitkan sebuah kantong di bajuku tepat di bawah ketiakku agar aman dari kawanan perampok”, jawab Syekh Abdul Qodir dengan polos tanpa rasa takut sedikit pun sembari menunjukkan uangnya tersebut.

Lantas, mengapa engkau beritahu kami? disaat mereka yang kami rampok menyembunyikan dengan rapi harta bendanya?”, tanya sang ketua dengan heran.

Ini adalah wasiat ibuku. Ia berpesan kepadaku untuk senantiasa jujur dalam keadaan apapun dan berhadapan dengan siapapun, tuan. Dan itu tidak akan aku khianati, tuan”, jawab Syekh Abdul Qodir kecil.

Sejenak sang ketua hanya bisa terdiam mendengar jawaban Syekh Abdul Qodir kecil. “Sungguh mulia anak ini. Ia rela kehilangan segalanya demi tidak menghianati ibunya. Sedangkan aku selalu melanggar janji kepada Allah dengan merampok”, gumam sang ketua dalam hati.

Tidak terlalu lama setelah itu, terdengar sang ketua mulai menangis. Air mata mulai membasahi pipinya. Kemudian pandangannya menghadap ke arah langit sembari berdoa, “Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu lantaran anak kecil ini”.

Setelah berseru demikian, sang ketua kemudian mengarahkan pandangannya kepada anak-anak buahnya seraya berkata, “Bagaimana dengan kalian? Ikut denganku atau berpisah sampai di sini?

Baca Juga :  NU Jajaki Kerjasama dengan Lembaga Sosial di Bosnia

Sempat berunding sejenak, salah seorang dari mereka berkata, “Dahulu engkau memimpin kami dalam merampok. Sekarang pimpinlah kami untuk turut bertobat kepada-Nya

Setelah kejadian tersebut, segerombolan perampok kemudian bergegas mengikuti Syekh Abdul Qodir untuk menuntut ilmu di kota Baghdad.

Kisah di atas disarikan dari 80 wasiat Syekh Abdul Qodir Jailani karya Ny. Kholilah Marjihanto. Melalui kisah tersebut, kita belajar bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang sangat berharga dibandingkan harta dunia. Sebab, melalui kejujuran akan menyelamatkan kita baik di dunia maupun di akhirat.

Wallahu’alam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here