Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 22: Perumpamaan Orang Kafir dan Mukmin

1
1597

BincangSyariah.Com – Jika pada ayat sebelumnya 19-21 telah dijelaskan tentang tiga hal yang patut direnungkan manusia, maka pada ayat ini Allah ingin memberikan gambaran kepada kita bagaimana karakteristik orang beriman dan orang kafir dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan (amstal). Salah satu perumpamaan orang kafir dan beriman termaktub dalam firman-Nya Q.S. al-Mulk [67]: 22,

اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهِ اَهْدٰىٓ اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (Q.S. al-Mulk [67]: 22)

Tafsir Surah Al Mulk Ayat 22

Ibnu Katsir, Jalaluddin al-Suyuthi, al-Baghawi, al-Qurthubi sepakat bahwa ayat ini menjelaskan perumpamaan keadaan orang kafir dan beriman baik di dunia maupun akhirat. Al-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain membagi ayat ini pada dua klausa, klausa pertama afamay yamsyi mukibban ‘ala wajhihi, klausa kedua ammay yamsyi sawiyyan ‘ala shiratin mustaqim. Klausa pertama menandai perumpamaan orang kafir, sedangkan klausa kedua merupakan perumpamaan orang beriman.

Penafsiran selanjutnya datang dari al-Baghawi dalam Tafsir al-Baghawi, menguraikan bahwa redaksi afamay yamsyi mukibban ‘ala wajhihi bermakna mereka (orang kafir) menunggangi kepalanya dengan dhalalah (kesesatan) dan jihalah (kebodohan), buta hati dan mata, tidak dapat melihat mana arah kanan atau kiri itulah perumpamaan orang kafir. Qatadah berkata, “Inilah keadaan di akhirat. Allah akan mengumpulkann orang-orang kafir dalam keadaan telungkup di atas wajah mereka, sedangkan orang beriman akan berjalan tegak lurus.” Adapun redaksi ammay yamsyi sawiyyan ‘ala shiratin mustaqim bermakna bahwa orang beriman berjalan tegap ketika hari kiamat nanti meskipun tanpa melihat jalan sebab mereka berada dalam jalan yang lurus. Ibnu Katsir menafsirkan redaksi shiratin mustaqim dengan jalan yang tampak jelas, terang benderang. Jalan itu sendiri memang jalan yang lurus, tidak ada yang belok sama sekali (thariquhu mustaqimah).

Baca Juga :  Sejarah Kemunculan Wahabi dan Perbedaannya dengan Gerakan Salafi

Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik r.a, “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad al-Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Qatadah, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik r.a., sesungguhnya seseorang bertanya? “Wahai Nabi Allah, bagaimana orang kafir bisa dikumpulkan dalam kondisi berjalan di atas kepalanya di hari kiamat?” Nabi saw. bersabda, “Bukankah Zat yang menjadikan (orang kafir) berjalan dengan kakinya ketika di dunia, Mahakuasa untuk menjadikan dia (orang kafir) berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat.” Qatadah berkata, “tentu, Maha Agung Rabb kami.” (H.R. Bukhari No. 4760 dan Muslim No. 2656)

Beda Nasib Orang Kafir dengan Orang Beriman

Pada ayat ini Allah memberikan perumpamaan kepada manusia bagaimana perjalanan hidup yang ditempuh orang-orang kafir dengan orang beriman. Perumpamaan tersebut dikemukakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Kalimat pertanyaan dalam ayat ini tidak dimaksudkan untuk menanyakan sesuatu yang tidak diketahui, justru menyatakan suatu maksud bahwa perbuatan orang-orang kafir itu adalah perbuatan yang tidak benar.

Mereka (orang kafir) selalu terjerembab, tersungkur dan tersandung tatkala berjalan melewati jalan yang berbatu-batu dan berlubang, ia tidak mungkin selamat dan berjalan lebih cepat mencapai tujuan dibanding mereka yang berjalan dengan penuh rasa aman dan ketenangan, di atas jalan yang lurus. Sedangkan orang beriman menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridhai Allah swt, ia tidak akan tersesat dalam menapaki kehidupan di dunia ini dan lebih cepat sampai tujuan yang diridhai-Nya. Di akhirat nanti, mereka akan menempati surga yang penuh kenikmatan bagi mereka yang bertakwa.

Maka, hikmah yang bisa kita petik dari perumpamaan di atas adalah tatkala melaksanakan sesuatu atau pekerjaan, menunaikan kewajibannya hendaklah berdasarkan pada koridor ajaran agama Islam, petunjuk ilmu pengetahuan, akal pikiran yang sehat dan pengalaman serta hasil riset atau penelitian dari para pakar. Di mana bertujuan agar usaha dan pekerjaan yang kita lakukan membuahkan hasil yang baik. Janganlah kemudian membabi-buta semaunya saja, karena yang demikian itu hanya akan mengundang kegagalan dan bencana, baik untuk dirinya maupun orang lain. Wallahu A’lam.

Baca Juga :  Perdebatan Soal Tauhid antara Sayyid Usman bin Yahya Syaikh Ismail Abdul Wahab Tanjungbalai

 

1 KOMENTAR

  1. […] Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, ayat ini menggambarkan berbagai macam nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada kita, di antaranya adalah tiga nikmat yang tanpa disadari telah kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu nikmat pendengaran, penglihatan, dan hati nurani/ akal. Ibnu Asyur menambahkan, ayat ini pula terkandung makna bahasa pengkhususan atau personal (qashr ifrad) yang bertujuan mematahkan perkataan orang kafir yang mempercayai bahwa patung-patung sesembahan mereka include tatkala manusia diciptakan Allah swt serta ikut memberikan indera pendengaran, penglihatan dan akal. (Baca: Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 22: Perumpamaan Orang Kafir dan Mukmin) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here