Figur Ayah Qur’ani : Luqman Al-Hakim (1)

1
289

Bincangsyariah.com – Setelah sempat membahas 4 tokoh paling sayang Ayah versi Al-Qur’an, kini saatnya bicara tentang sosok sang ayah itu sendiri. Salah satu sosok yang disoroti sebagai versi terbaik sebagai figur seorang ayah adalah Luqman Al-Hakim, seorang yang disebut ahli hikmah (bijak bestari) dimana ada banyak versi tentang asal usulnya. Dalam Al-Bahr Al-Muhith misalkan, pendapat terkuat mengatakan bahwa Luqman al-Hakim adalah salah seorang anak dari Tanukh/’Azur ayah nabi Ibrahim. Hidup 1000 tahun lamanya, bahkan sampai pada masa Nabi Dawud. Pendapat terkuat mengatakan ia berkulit hitam, dan merupakan Qadhi/Hakim bagi rakyat Bani Israil.

Tapi yang menarik dari Luqman adalah, petuah – petuahnya kepada anaknya yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an. Dalam Tafsir Al-Qurthubi, disebutkan bahwa petuah-petuah yang tertulis dalam Al-Qur’an itu adalah Firman Allah yang dinukilkan dari nasihat Luqman semasa hidupnya. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari nasihat Luqman sebagai acuan kita dalam mendidik anak. Artikel ini kurang lebih akan membahas, Apa saja yang bisa kita ambil Ibrah atau pelajaran dari kisah interktif antara Luqman Al-Hakim dengan anaknya.

Pertama, sebelum kita mempelajari cara atau materi yang akan disampaikan, wajib bagi seorang ayah untuk menyayangi anaknya terlebih dahulu. Luqman pun demikian, ia sangat menyayangi anaknya, sebagian riwayat mengatakan bahwa anaknya bernama Tsaraan, ada yang mengatakan bernama Musykim, dan lain sebagainya. Dari mana kita tahu Luqman sangat menyayangi anaknya?

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Q.S Luqman : 13)

Contoh sederhana, adalah dari cara beliau memanggil putranya. Ya Bunayya dalam bahasa arab merupakan sighat tasghir (minimize) dari lafadz Ibnii. Kendati demikian, tidak serta merta Tasghir  disini bermaksud mengucilkan atau merendahkan. Imam Al-Qurthuby berpendapat dalam Tafsirnya :

Baca Juga :  Tauhid Menurut Abu Hasan Al Asy'ari

قوْلُهُ:” يَا بُنَيَّ” لَيْسَ هُوَ عَلَى حَقِيقَةِ التَّصْغِيرِ وَإِنْ كَانَ عَلَى لَفْظِهِ، وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى وَجْهِ التَّرْقِيقِ

Kata ‘Yaa Bunayya’ bukan sebenar-benarnya bermaksud untuk men-tasghir, walaupun secara tekstual demikian. Karena sebenarnya tujuannya adalah untuk tarqiq (memperlakukan dengan lembut)”

Pemilihan diksi Bunayya  adalah bukti rasa sayang Luqman kepada Anaknya. Setiap beliau memulai nasihat, beliau selalu memulainya dengan memanggil manja sang anak. Kalau di Indonesia, mungkin Bunayya  ini setara dengan panggilan “nak” yang biasa dipakai bapak – ibu kita ketika sedang ada kabar gembira. Panggilan ini menjadi penting, karena seperti yang kita ketahui  bahwa permulaan sesuatu sangat berpengaruh pada proses – proses selanjutnya.

Kedua, hal pertama yang hendaknya diajarkan kepada anak adalah Aqidah. Seperti yang sudah ditulis dalam paragraf sebelumnya. Bahwa nasihat Luqman pertama yang ditulis Al-Qur’an adalah soal menghindari kemusyrikan. Al-Qusyairi berpendapat dalam Tafsirnya Lathaif Al-Isyarat, bahwa Istri dan anak Luqman sebelumnya Kafir. Luqman tak kenal lelah terus menasehati mereka, hinga akhirnya keduanya masuk Islam. Mengajarkan Aqidah menjadi penting, karena itu adalah bekal yang di kemudian hari akan terus menjadi pegangan sang anak jika sedang tidak berada di sisi orang tua.

Luqman tak serta merta menasehati soal Aqidah. Tapi ia juga memberi alasan mengapa itu perlu dilakukan. Luqman menegaskan, mengapa tak boleh syirik? Karena Syirik merupakan kedzaliman yang agung. Sebagai orang tua, terutama ayah sangat penting untuk tidak sekedar memberikan informasi kepada sang anak, tapi juga alasan dan hikmah dibalik perintah tersebut. Sebagian pendapat mengatakan bahwa ayat ini punya relasi yang kuat dengan surat Al-An’am ayat 82.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمانَهُمْ بِظُلْمٍ……(الاية)

Baca Juga :  Penyebutan Malaikat dalam Al-Qur’an

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (Q.S Al-An’am : 82)

Kedzaliman yang dimaksud dalam ayat tersebut, adalah kemusyrikan yang dimaksud oleh ayat ke 13 surat Luqman. Itu sebabnya, ayat ini menjelaskan soal Iman yang sudah terkontaminasi dengan kedzaliman. Sedangkan kedzaliman yang dimaksud, disebutkan dalam surat Luqman dengan wujud kemusyrikan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here