Filsafat Perennial Seyyed Hossein Nasr

1
754
Filsafat Perennial Seyyed Hossein Nasr
Filsafat Perennial Seyyed Hossein Nasr

BincangSyariah.Com – Kepopuleran Seyyed Hossein Nasr tak perlu diragukan lagi. Ada banyak sekali pemikirannya yang menjadi rujukan, baik di lembaga-lembaga pendidikan di seluruh dunia maupun dalam diskusi-diskusi informal.

Seyyed Hossein Nasr tercatat sebagai salah seorang pemikir Islam yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Ia diketahui menguasai filsafat, tasawuf, dan sains serta memiliki jasa yang sangat besar dalam mengembangkan gagasan-gagasan filosofisnya.

Gagasan-gagasan miliknya selalu merujuk pada wahyu. Landasan itulah yang membuat interpretasi-interpretasi pemikirannya pada masa kejayaan Islam terintergrasi sangat kuat di antara dimensi-dimensi spiritual dengan dimensi-dimensi rasional.

Kemampuan Nasr dalam merekatkan kedua dimensi tersebutlah yang membuat sebagian besar pemikir sering dipertentangkan. Hal tersebut membuatnya menjadi seorang pemikir khas yang benar-benar murni.

Kekhasannya tersebut membawa namanya menjadi lebih cepat dikenal dan membuat dia menjadi besar, dan mempercepat arus penyebaran gagasan-gagasannya, bukan saja di dunia Islam, tetapi juga di dunia Barat.

Kritik Tajam dan Berani

Sayyed Hossein Nasr dikenal sebagai kritikus yang tajam dan berani, khususnya terhadap Barat. Ia terkenal sangat kritis terhadap peradaban modern dan menganggap bahwa dunia Barat telah mengisolasi manusia dari hakikatnya melalui penyingkiran spiritualitas manusia sebagai tonggak kemanusiaan.

Pada saat manusia sudah tidak mampu lagi menjadikan sisi spiritualitas sebagai tonggak kemanusiaan, maka manusia telah menjadikan dirinya sebagai Tuhan yang dihiasi dengan absolutisme-absolutisme.

Bagi Nasr, apa pun alasannya, absennya spiritualitas dalam diri manusia akan berujung pada ketidaksadaran dalam ber-Tuhan, sekaligus melihat aturan Tuhan sebagai sesuatu yang semu.

Dalam kondisi tersebut, akan muncul penguasa-penguasa rakus, sinisme, dan muncullah kecurigaan yang mengantarkan masyarakat dunia pada keretakan, pertentangan, ketidakamanan dan ketidaknyamanan.

Dalam menghadapi realitas yang melanda manusia modern, Seyyed Hossein Nasr menawarkan sebuah pemecahan masalah baru yang disebut sebagai filsafat perennial.

Filsafat perennial adalah sebuah konsep yang berusaha membawa manusia pada sebuah kesadaran bahwa Tuhan-lah wujud yang absolut, sumber dari segala wujud termasuk pluralitas agama dan situs-situs keagamaan.

Seyyed Hossein Nasr adalah failasuf dan pemikir kontemporer yang paling berani mengemukakan gagasannya, baik di kalangan Islam ataupun di Barat. Lantaran logikanya yang jelas, ia jarang sekali mendapat tantangan ketidaksetujuan.

Nasr juga mampu mengemukakan pendapat baik dalam tulisan maupun lisan dengan bahasa dan logika yang sederhana tetapi jelas dalam pemikirannya tentang perpaduan antara dimensi spiritual dengan dimensi rasional.

Pemikirannya tersebut dianggap lebih layak dikembangkan untuk membangun kesadaran bersama tentang perlunya rasa aman dan rasa damai.

Filsafat Perennial

Filsafat perennial Nasr berpandangan bahwa kebenaran mutlak hanya satu. Tetapi karena agama muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda, maka pluralitas bentuk dan bahasan agama-agama itu tidak dapat dielakkan.

Maka, muatan-muatan agama selalu mempertimbangkan dan mengadposi nilai budaya komunitas di mana agama itu lahir dan berkembang. Menurut Nasr, titik temu agama-agama adalah pada level estoteris agama-agama di atas bumi ini lenyap, namun realitas ilahiyahnya bukan pada astmosfir manusia.

Seyyed Hossein Nasr dalam karyanya yang berjudul The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968). Dalam buku tersebut, Nasr menjelaskan tentang jawaban filsafat perenial atas krisis lingkungan.

Filsafat perenial merupakan metafisika yang mengakui realitas ilahi yang bersifat substansial bagi dunia benda-benda, hidup dan pikiran; merupakan psikologi yang menemukan sesuatu yang sama di dalam jiwa bahkan identik dengan realitas illahi.

Fisalafat perennial juga bisa diartikan sebagai etika yang menempatkan tujuan akhir manusia pada pengetahuan tentang “dasar” yang imanen maupun transenden dari segala yang ada.

Unsur-unsur filsafat perenial dapat ditemukan pada tradisi bangsa primitif dalam setiap agama dunia dan pada bentuk-bentuk yang berkembang secara penuh pada setiap hal dari agama-agama yang lebih tinggi.

Ia menawarkan jalan alternatif untuk dapat keluar dari krisis yang terjadi. Penjelasannya mencakup tuntutan perkembangan teknologi dan ekonomi yang benar-benar tidak sejalan dengan keinginan lingkungan akan lingkungan yang damai dan bersih.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa krisis lingkungan dan sosial yang dihadapi manusia modern adalah hasil “ketidakseimbangan” antara manusia dan Tuhan.

Jawaban Nasr terhadap persoalan yang hangat tentang bagaimana menghindari perang dan bagaimana mempertahakan martabat manusia di hadapan ancaman perang total terletak dalam keinginan dalam diri manusia untuk berdamai dengan alam.

Dalam hal ini, dapat diciptakan sebuah hubungan yang harmonis bagi mereka yang dapat memahami dan menangkap pengetahuan metafisik yang menyebabkan cinta dan penghormatan pada alam.

Dalam penutupnya, Nasr menekankan bahwa tidak mungkin ada perdamaian antarorang kecuali jika ada perdamaian dan harmoni dengan alam.

Selanjutnya, agar dapat menciptakan perdamaian dan harmoni dengan alam, orang harus berharmoni dan berselaras dengan Langit, dengan Sumber dan Asal Usul segala makhluk yakni Allah Swt.

Bagi Nasr, siapa pun yang mampu berdamai dengan Tuhan, maka ia juga akan mampu berdamai dengan ciptaan-Nya, yakni dengan alam dan dengan manusia.

Kritik Terhadap Modernitas

Menurut Seyyed Hossein  Nasr, pemisahan antara ilmu dengan agama di Barat yang adalah dampak dari hegemoni rasionalisme telah melahirkan modernisasi dalam berbagai kehidupan.

Modernisasi dianggap telah mendatangkan kemudahan hidup manusia akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Modernisme dianggap telah melahirkan babak baru dalam sejarah peradaban manusia yang ditandai oleh tiga hal penting, yaitu kemerdekaan manusia, degradasi fungsi agama dan revolusi ilmu pengetahuan.

Agama tidak lagi mengikat atau mewarnai kehidupan, bahkan menjadi hal yang marginali. Nasr menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena sakralisasi ilmu pengetahuan setelah mencabutnya dari akar keagamaan.

Maka, apa yang kemudian terjadi adalah pemujaan pada ilmu pengetahuan yang serba mekanistis. Pemujaan tersebut membuat kehidupan diukur dengan efisiensi mekanis, produktivitas yang dihasilkan science dan kekuatan serta jelajah otak manusia.

Sekularisasi tersebut mengakibatkan keringnya jiwa manusia, gelap dan gelisah. Agama disisihkan dan membuat jiwa yang sudah gelap menjadi kotor. Maka, munculah kesombongan dan keangkuhan yang sesungguhnya merugikan manusia sendiri.

Fenomena tersebut adalah malapetaka yang secara serius mengancam kehidupan manusia. Secara spesifik malapetaka yang akan menimpa manusia, dalam hal ini adalah rasa aman, kedamaian keberlangsungan hidup, kerusakan ekosistem, integrasi sosial, keadilan ekonomi. Kini, manusia telah terasing dari dirinya sendiri.

Ada realitas di balik realitas yang tampak dan sesungguhnya menjadi awal dan menjadi hakikat dari seluruh realitas. Semua realitas yang tampak berawal dan kembali ke realitas utama.

Itulah Tuhan, yang merupakan realitas hakiki. Dan itulah nilai universal Islam. Nasr berpendapat bahwa memahami, menyakini dan berbuat sesuai dengan kehendak realitas hakiki (Tuhan) itulah yang dinamakan nilai universal yang mampu menentramkan dan menyelamatkan manusia dari kehancurannya.

Oleh sebab itu, manusia tidak bisa melepaskan diri dari agama dengan segala aturan dan tata caranya.Sebab, agama dalam arti menyeluruh (dari syariat hingga ke tasawuf) membuat manusia bebas dari jeratan materialisme menuju ke kemanusiaanya.

Pemikiran seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Pemikiran Nasr sebagai seorang intelektual Iran, dipengaruhi oleh paling tidak tiga faktor.

Pertama, kondisi keluarganya yang agamais sekaligus akademis. Ayahnya selain sebagai seorang ulama juga sebagai seorang pendidik dan dokter. Hal ini tentu sangat berpengaruh bagi pembinaan, selain bagi semangat keilmuannya, juga bagi pandangan-pandangan keagamaanya yang cukup luas.

Kedua, pemikiran Nasr umumnya berada dalam tradisi-tradisi ulama khususnya pada mullah, apalagi imam, yang dianggap dan dipercaya memiliki kemampuan khusus dalam bidang keagamaan, sehingga menjadi contoh dan teladan.

Tradisi tersebut memiliki pengaruh besar dan memperkokoh tradisi keislaman Nasr yang sangat berharga bagi konsistensinya dalam menerima pemikiran-pemikiran guru besar di Barat.

Ketiga, pemikiran-pemikiran filsafat yang diterima Nasr dari berbagai tokoh yang membimbinganya seperti Titus Gurchhardt, F. Jane I Smith, dan lain sebagainya.

Maka, ada kemungkinan filsafat perennial yang didalami oleh Nasr berasal dari tokoh-tokoh tokoh-tokoh tersebut meskipun telah Nasr selaraskan dengan pandangan-pandangan dalam Islam.[]

Baca: Seyyed Hossein Nasr; Intelektual Islam Modern dari Iran

Artikel SebelumnyaHukum Membaca Doa Penolak Wabah dari Selain Rasulullah, Apakah Boleh?
Artikel SelanjutnyaHukum Menambah Shalawat di Akhir Kalimat Takbir

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini