Seyyed Hossein Nasr; Intelektual Islam Modern dari Iran

0
261

BincangSyariah.Com – Seyyed Hossein Nasr terkenal lantaran pemikirannya tentang masyarakat modern. Bagi Nasr, masyarakat modern adalah sekelompok manusia yang tertata dalam struktur intelektual dan melalui premis-premis positivistik, tanpa mencoba mencari garis penghubung antara alam dan manusia.

Karena itulah dan manusia saling bersaing untuk membentuk struktur alamnya sendiri. Pada gilirannya, manusia hari pada masa ini akan hidup dalam arus urbanisasi yang selalu merasakan pengapnya alam sebab kepekaan intuitif manusia yang hilang terhadap fenomena alam di sekitarnya.

Menurut Nasr, manusia seperti kehilangan kebebasan untuk bergerak dan berekspresi akibat eksploitasi manusia sendiri terhadap alam sekitarnya. Akibatnya, manusia modern pun seperti hidup di luar eksistensi dirinya. Padahal sebenarnya manusialah yang bertanggungjawab mengatur kelestarian alam di dunia. (Baca: Ancaman Islam bagi Perusak Lingkungan)

Siapakah Seyyed Hossein Nasr dan mengapa ia memiliki konsep demikian?

Nasr adalah seorang pemikir Islam modern yang lahir di kota Teheran, Iran, pada tanggal 7 April 1933. Sang ayah merupakan seorang ulama terkenal di Iran dan juga merupakan seorang guru dan dokter pada masa dinasti Qajar bernama Seyyed Valiullah Nasr. Sebutan dengan gelar Seyyed adalah sebutan kebangsawanaan yang dianugerahkan oleh raja Syah Reza Pahlevi kepada keduanya.

Dalam The Complete Bibliografi Seyyed Hossein Nasr from 1958 through April 1993 (1994), William C. Chittick mencatat bahwa latar belakang keagamaan keluarga Nasr adalah penganut aliran Syiah tradisional yang memang menjadi aliran teologi Islam yang paling banyak dianut oleh penduduk di negara Iran.

Sebelum pindah ke Amerika Serikat untuk menempuh belajar formal ilmu modern pada umur 13 tahun, sebelumnya Nasr pernah memperoleh pendidikan tradisional di Iran. Pendidikan tradisional tersebut diperolehnya secara informal dan formal. Pendidikan informal ia dapatkan dari keluarganya, terutama dari sang ayah.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 46-49; Takbir Mimpi Sapi Betina Gemuk

Sementara dalam pendidikan tradisional formal, ia peroleh dari madrasah di Teheran. Ia juga dikirim ayahnya untuk belajar di lembaga atau madrasah pendidikan di Qûm yang untuk belajar filsafat, teologi dan tasawuf dan diberi pelajaran tentang hafalan al-Qur‟ân dan pendidikan tentang seni Persia klasik.

Obsesi sang ayah, Valiullah Nasr, yang menginginkan Nasr menjadi orang yang memperjuangkan kaum tradisional dan nilai-nilai ketimuran dimulai saat memasukkkan Hossein Nasr ke Peddie School di Hightstown, New Jersey. Ia berhasil lulus pada 1950 dan melanjutkan ke Massacheusetts Institute of Technology (MIT).

Dalam institusi pendidikan yang ia tempuh, Nasr mendapatkan pendidikan tentang ilmu-ilmu fisika dan matematika teoretis di bawah bimbingan Bertrand Russel yang dikenal sebagai seorang filsuf modern. Nasr juga banyak memperoleh pengetahuan tentang filsafat modern.

Selain bertemu dengan Bertrand Russel, Nasr pun bertemu dengan seorang ahli metafisika bernama Geogio De Santillana. Kedua tokoh inilah yang membuat Nasr banyak mendapat informasi dan pengetahuan tentang filsafat Timur, khususnya apa yang berhubungan dengan metafisika.

Nasr sangat dekat tradisi keberagamaan di Timur, sebagai misal tentang Hinduisme. Nasr juga diperkenalkan dengan pemikiran-pemikiran para peneliti Timur, salah satu yang sangat berpengaruh dalam pemikirannya adalah pemikiran Frithjof Schuon tentang perenialisme.

Tak sampai di situ, ia juga berkenalan dengan pemikiran Rene Guenon, A. K. Coomaraswamy, Titus Burchardt, Luis Massignon dan Martin Lings. Pada 1956, Nasr berhasil meraih gelar Master di MIT dalam bidang geologi yang khusus fokus pada geofisika.

Nasr menulis disertasi tentang sejarah ilmu pengetahuan dengan melanjutkan studinya di Harvard University. Dalam masa penyusunan disertasi, Nasr dibimbing oleh George Sarton. Sayangnya, George lebih dulu meninggal dunia sehingga Nasr mendapatkan bimbingan berikutnya oleh tiga orang professor, yaitu Bernard Cohen, Hammilton Gibb dan Harry Wolfson.

Baca Juga :  Menjelajahi Warisan Peradaban Islam di Kota Tua Tunisia

Disertasi Nasr selesai dan diberi judul “Conceptions of Nature in Islamic Thought” yang dipublikasikan oleh Harvard University Press 1964 dengan judul “An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines”. Disertasi tersebut membawa Nasr menyandang gelar Philosophy of Doctor (Ph.D) dalam usia yang sangat muda yaitu 25 tahun tepatnya pada 1958.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here