Benarkah Bulan Sabit adalah Simbol Islam?

0
619

BincangSyariah.Com – Benarkah bulan sabit adalah simbol Islam? Indonesia memang baru merayakan 75 tahun kemerdekaannya. Namun, kemarin, momen mensyukuri 75 Tahun kelahiran bangsa Indonesia tersebut terwarnai, katakanlah seperti itu, dengan pandangan yang mengatakan bahwa seperangkat logo 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang secara resmi dirilis pemerintah, dianggap memiliki unsur salib. Wacana yang lagi-lagi digulirkan dimulai dari sosial media ini, kemudian menimbulkan dampak kepada sebagian masyarakat untuk mencoba menghilangkan apa yang disebut sebagai simbol yang mirip salib tersebut. Tentang bentuk, susunan, yang dianggap “salib” sehingga dianggap berpotensi “mengganggu keimanan”, saya sudah pernah tuliskan. Tapi pada kesempatan ini, saya jadi ingin bertanya lagi, apakah bulan sabit dan bintang itu bisa dikategorikan juga sebagai simbol Islam?

Dalam penelusuran penulis, disebut-sebut bahwa penggunaan bulan sabit dan bintang yang keduanya dikategorikan sebagai simbol keislaman, adalah sesuatu yang sebenarnya tidak murni berasal dari ketetapan atau sabda Nabi Saw., atau bersumber dari penafsiran dari ayat Al-Quran. Secara historis, penggunaan bulan sabit dan bintang sebagai simbol keagamaan sudah digunakan jauh sebelum Islam – dalam definisinya sebagai ajaran agama yang bersumber dari Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw.

Telaah historis misalnya dilakukan oleh Micahel R. Molnar dalam bukunya The Star of Bethlehem (1999) seperti dikutip situs Wikipedia berbahasa Inggris. Dalam analisisnya, pemunculan bulan sabit bersamaan dengan bintang banyak ditemukan dalam simbol-simbol bangsa Sumeria. Bulan sabit juga seringkali diasosiasikan sebagai simbol dari Dewi Bulan bernama Sin dan bintang sebagai simbol Dewi Bintang bernama Ishtar. Penggunaan bulan sabit dan bintang sebagai simbol dewa-dewi juga populer di kalangan Mesir Kuno, Mesopotamia, Periode Helenistik, sampai digunakan juga oleh Romawi Bizantium dan Persia. Bulan sabit dan bintang digunakan sebagai simbol yang diasosiakan dengan konsep Ketuhanan, nampaknya digunakan merata di peradaban wilayah Timur Tengah dan populer di berbagai artefak kebudayaan mereka, mulai dari koin, prasasti, sampai reruntuhan-reruntuhannya.

Baca Juga :  Syair Munajat, Abu Nawas, dan Sanubari Masyarakat Banten

Dari penjelasan diatas, memang sekilas bisa dikatakan peradaban yang bintang dan bulan sebagai dua simbol yang dihormati sangat lekat dengan periode dimana Nabi Muhammad Saw. lahir dan kemudian menyebarkan ajaran Islam. Namun, telaah sejarah menunjukkan bahwa, penggunaan bulan sabit dan bintang tidak lagi muncul di masa perkembangan awal Islam bahkan sampai era Bani Umayyah dan Abbasiyah.

Dalam praktiknya, memang tidak ada ayat Al-Quran atau hadis tertentu yang menegaskan bahwa bulan sabit dan bintang dikategorikan sebagai dua simbol yang rigid untuk agama Islam. Islam justru seringkali menentang keras pengkultusan simbol-simbol apalagi jika sampai memiliki makna penghambaan terhadap simbol tersebut. Bulan, matahari, dan bintang disebut dalam Al-Quran dalam posisinya seluruhnya sebagai ciptaan Allah dan tidak memiliki kemampuan memberi manfaat kecuali atas kekuasaan-Nya. Dalam surah Ar-Rahman ayat 5-6 Allah berfirman,

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (5) وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ – 6

matahari dan bulan yang (beredar) sesuai perhitungan. Dan (juga) tetumbuhan serta pepohonan keduanya tunduk kepada-Nya.

Selain dua ayat ini, ada banyak ayat lain yang menggambarkan bulan dan bintang sebagai ciptaan-Nya. Dalam hadis yang menjadi dalil kesunahan untuk melaksanakan shalat khusuf, Nabi Saw. dalam hadis juga menegaskan kekeliruan keyakinan sebagian masyarakat pada waktu itu yang menganggap gerhana matahari sebagai tanda kematian bagi manusia. Waktu itu Nabi Saw. langsung mengkritik pandangan itu dan yang meninggal waktu itu adalah putra beliau sendiri, Ibrahim.

Lalu, kembali ke telaah historis, kapan bulan sabit dan bintang kemudian dianggap menjadi simbol Islam? Dalam banyak sumber disebutkan bahwa bulan sabit dan bintang dijadikan simbol Islam digunakan oleh Turki Utsmani. Sebenarnya, sebelum kemudian menyatakan sebagai kekhalifahan, masyarakat Turki pra-Islam masih menganggap bulan dan bintang sebagai simbol yang mereka. Setelah Turki Ustsmani memegang kekuasaan, segera bintang dan bulan sabit menjadi simbol yang digunakan di berbagai situs-situs keagamaan mulai dari kubah masjid, menara, sampai bendera. Konon, mereka menggunakan bintang dan bulan sabit, dengan keyakinan untuk mengganti salib sebagai simbol kristiani yang tersebar di wilayah Bizantium saat itu.

Baca Juga :  Mengenal Identitas Para Pembunuh Usman bin Affan

Beberapa negara saat ini masih menggunakan bulan sabit dan bintang sebagai simbol negaranya. Di wilayah Asia Tengah ada Turki sendiri (setelah Turki Utsmani runtuh), Uzbekistan, Turkmenistan  dan Azerbaijan. Di Afrika Utara, ada Tunisia, Aljazair, dan Libya (pasca kejatuhan Muammar Qaddafi) yang menggunakan simbol bulan sabit dan bintang. Di Asia Tenggara sendiri, Malaysia dan Singapura juga menggunakan simbol bulan sabit dan bintang, dengan Singapura menggunakan 5 bintang segi lima dan Malaysia memasangkan bulan dengan matahari.

Bulan sabit dan bintang masih diyakini sebagai simbol kesatuan Islam, dan seringkali dijadikan simbol identitas untuk membedakan dengan sesuatu yang berbau barat atau tradisi non-Islam. Misalnya, ketika muncul simbol bulan sabit merah (al-Hilal al-Ahmar) untuk membedakan dengan palang merah. Bulan sabit merah pun dijadikan identitas gerakan kemanusiaan dan humanitarian untuk negara-negara mayoritas muslim meskipun di Indonesia sendiri, baik bulan sabit merah maupun palang merah keduanya tetap eksis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here