Bahjat al-Wudluh fi Hadits Opat Puluh: Kitab 40 Hadis Karya K.H.R. Ma’mun Nawawi

2
400

BincangSyariah.Com – Ajaran Islam masuk ke Indonesia melalui perjuangan para ulama yang berdakwah ke setiap penjuru nusantara. Para ulama telah berhasil mengislamkan nusantara dengan metode akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal, tanpa harus menghilangkan syariat Islam itu sendiri. Diantara ulama nusantara tersebut adalah KH. R. Ma’mun Nawawi yang dianggap sebagai ulama besar abad XX di daerah Bekasi, Jawa Barat. Beliau memiliki banyak karya, salah satunya adalah kitab Bahjat al-Wudluh fi Hadits Opat Puluh. Kitab ini merupakan kitab Hadis yang disertai penjelasan berkaitan dengan soal-soal keagamaan dan kemasyarakatan.

Struktur Isi

Kitab Bahjat al Wudluh ini berisi empat puluh Hadis Nabi Saw lengkap dengan terjemahan, penjelasan, dan nasehat dari penulis. Dalam penyusunan kitab, penulis menentukan judul tertentu dengan menghadirkan sebuah Hadis yang berkaitan dengan judul tersebut. Seperti pada Hadis ke-24 berjudul “Kewajiban Menafkahi Anak dan Dosa Bagi yang Tidak Menafkahi” kemudian muallif mencantumkan Hadis Nabi Saw:

﴿قوله ﷺ: كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

Kemudian muallif menyebutkan perawi Hadis dan dari sahabat siapa Hadis tersebut diriwayatkan. Misalnya untuk Hadis di atas, muallif menulis “Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Hakim, al-Baihaqi dari Abdullah bin ‘Amr R.A.”. Selesai dari Hadis beserta periwayatnya, muallif beranjak pada tahap selanjutnya, yaitu menerjemahkan Hadis dan men-syarh Hadis dan mengkontekstualisasikan pada kehidupan masyarakat. Uniknya, terkadang terjemahan dan penjelasan muallif berbeda dengan ulama-ulama lain yang mensyarah Hadis yang sama.

Dari Aksara Arab Jawi sampai Bahasa Sunda Lama 

Kitab Bahjat al Wudluh menggunakan bahasa Sunda lama (sunda: baheula). Maka untuk memahami kitab tersebut, tidak jarang saya perlu menanyakan arti beberapa kosa kata kepada para orang tua (termasuk kedua orang tua kami sendiri), karena banyak ditemukan bahasa yang sudah sangat jarang dipakai oleh masyarkat Sunda dewasa ini.

Untuk penulisan, beliau menggunakan aksara Arab Melayu (Arab Jawi) atau yang populer dikenal dengan sebutan “Pegon”. Mengutip beberapa sumber, pilihan mengapa penulis menggunakan aksara  pegon adalah, pertama, huruf Jawi masih menjadi huruf yang lazim digunakan orang Nusantara ketika berada di negara-negara Arab, baik sebagai pelajar, ulama, atau ketika bekerja. Kedua, haruf latin belum populer sebagai bahasa masyarakat. Huruf latin umumnya digunakan oleh pemerintah kolonial untuk urusan-urusan resmi. Ketiga, penggunaan huruf latin di dunia Islam hadir ketika muncul gagasan-gagasan “modernasi” dalam dunia Islam yang tidak terlepas dari bagian kuasa kolonial.

Baca Juga :  Masih Bertanya-Tanya soal Islam Nusantara? Ini Empat Karakteristiknya

Model Pemaparan (Syarh) Hadis

Seperti yang sudah disebutkan di atas, penulis menggunakan bahasa Sunda dalam menjelaskan maksud-maksud dan memberikan nasihat dari sebuah Hadis dengan bahasa yang cukup tajam. Pada bagian pembuka kitab, penulis sudah mewanti-wanti, bahwa penjelasannya ibarat obat; akan terasa pahit. Namun penulis berharap dari penjelasannya tersebut akan melahirkan kesembuhan atau perubahan ke arah yang lebih baik.

Semua itu dilakukan dengan tujuan agar pembaca bisa memahami dengan mudah maksud dari Hadis tersebut sehingga akan cepat menyadari kekurangan serta kesalahan dan melahirkan perubahan-perubahan yang baik.

Hal yang menarik lainnya adalah muallif mengawali setiap penjelasannya dengan sapaan “Hai dulur” atau “Hai dulur Islam” yang artinya “Hai Saudaraku” atau “Hai Saudaraku Sesama Muslim”. Selain memberi penjelasan, nasehat, dan menawarkan gagasan, penulis seakan-akan mengajak pembaca ikut serta menjadi bagian dari alur kitab. Saya kemudian menyebut model ini sebagai sebuah “Syarh Interaktif”.

Diakui atau tidak, model pemaparan semacam ini jarang ditemukan dalam litelatur Islam berbahasa Arab terutama Kitab Syarh al Hadits. Hal semacam ini menjadi ciri khas Ulama Nusantara yang memiliki emosi persuasif yang kental dengan masyarakat. Muallif membuka kemungkinan untuk dikritik dan sebagai pembaca kita akan merasa bersama-sama muallif dalam mensyarahi sebuah Hadis.

Kualitas Hadis-Hadis

Hasil penelitian saya menunjukan, dari 40 Hadis, sesuai dengan penomoran yang diberikan penulis, adalah, tujuh belas hadis berkualitas shahih, tiga hadis berkualitas hasan, dua puluh Hadis berkualitas dhaif. Berdasarkan penelitian tersebut, sering kali ditemukan riwayat hadis dalam kitab ini berkualitas dhaif, padahal terdapat riwayat-riwayat lain yang shahih atau minimal hasan untuk redaksi yang tidak terlalu berbeda. Misalnya saya contohnya hadis ke-13,

Baca Juga :  Tiga Ilmu Bantu Untuk Memahami Hadis

قوله ﷺ : أَكْرِمُوا الْعُلَمَاءَ فَإِنَّهُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ فَمَنْ أَكْرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Muliakanlah oleh kalian para ulama, karena sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Barang siapa yang memuliakan ulama, maka sungguh kalian telah memuliakan Allah dan rasul-Nya.”

K.H.R. Ma’mun Nawawi berkata bahwa hadis ini adalah riwayat al-Khatib (w. 463 H) dari Jarir ibn Abdillah R.A. (w.78 H). Hadis ini – setelah penulis telusuri – berkualitas dhaif jika memakai periwayatan al-Khatib, Sebabnya karena terdapat perawi bernama ad-Dhahhak bin Hajwah (w. 241 – 250 H). Padahal kalaupun mau – jika harus dengan ungkapan demikian – banyak Hadis lain tentang lain yang seirama dalam tema “ulama adalah pewaris para Nabi” namun berbeda dari segi redaksi yang berstatus shahih.

Sebagai perbandingan, kami menemukan fenomena yang sama terjadi pada kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Hadis pertama yang tercantum dalam kitab tersebut adalah:

قوله ﷺ: حق الولد على والده أن يحسن اسمه ويحسن موضعه ويحسن أدبه

sabda Nabi Saw.: hak anak (yang harus dipenuhi) oleh orangtua adalah, membaguskan namanya, dilahirkan oleh yang baik, dan mendidik akhlaknya.

Saya menemukan Hadis tersebut berasal dari riwayat Imam al-Baihaqi (w. 458 H) dari Aisyah R.A (w. 58 H). Hadis tersebut dinilai dhaif oleh al Baihaqi  (w. 458 H) dan al ‘Iraqi karena ada perawi bernama Abdu as-Shomad bin an-Nu’man. Padahal, ditemukan Hadis Haq al-Walad ‘ala al Walid dengan selain redaksi Hadis di atas yang berkualitas hasan bahkan shahih.

Argumen yang menjelaskan hal ini adalah ulama Nusantara tidak mempermasalahkan memilih Hadis yang berkualitas dhaif karena memang redaksi teks (matan) Hadis paling dekat dengan konteks kebutuhan masyarakat. Para ulama menggunakan Hadis dhaif selama tidak maudhu’ dan dalam masalah fadhail a’mal. Ulama Nusantara selain memahami Hadis dari segi riwayat dan dirayah, juga paham betul proses akulturasi dan kontekstualisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pertanggungjawaban saya tetap sebagai thalib al Hadis dengan menghukumi Hadis ini shahih, hasan atau dhaif.

Namun, keberadaan Hadis-hadis dhaif pada kitab ini dan umumnya pada kitab ulama di nusantara lainnya bukan sebuah kelemahan. justru membuktikan sebuah fenomena bahwa Islam nusantara benar-benar terjadi. Maka tidak salah ulama-ulama yang mengutip Hadis yang kebetulan berstatus sebagai hadis dhaif, karena mungkin tidak ada hadis shahih yang membahas tentang itu atau secara redaksi periwayatan, teks hadis dhaif itu lebih relevan (“alyaqu lafzhan wa matnan”) dibanding riwayat yang shahih.

Sebagai cerminan, permasalahan ini juga ditemukan dalam Shahih al Bukhari. Dalam bab maa yudzkaru fi al-fakhdz (bab yang menjelaskan tentang (aurat) paha), Imam al Bukhari memperioritaskan riwayat Jarhad karena lebih sesuai dari segi redaksi dan substansi walaupun berkualitas dhaif, yaitu,

Baca Juga :  Lawāmi‘ul Burhān wa Qawāṭi‘ul Bayān: Kitab Penolak Gerakan Anti-Mazhab dari Solo

الفخذ عورة

“Paha adalah aurat”

dibandingkan riwayat Anas bin Malik R.A. (w.93 H) yang berkualitas shahih, yaitu,

حسر النبي ﷺ عن فخذه

“Nabi saw membuka (kain sarungnya) sehingga terbuka pahanya.”

Sebagai kesimpulan, hemat saya, ketika ulama Hadis di nusantara memilih Hadis dhaif, adalah bagian dari gagasan besar “al Akhdzu bi al Jadid al Ashlah” (memilih yang lebih baik) seraya tetap memperkuat “al Muhafadzah ‘ala Qadim as Shalih” (melestarikan hal-hal lama yang baik). Maka dalam melakukan praktik penilaian kualitas Hadis dalam kitab-kitab ulama nusantara, kita perlu melebarkan pandangan dengan tidak hanya menggunakan indikator standar kesahihan hadis. Namun, harus juga menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Karena faktanya, kondisi sosial masyarakat Arab dimana hadis-hadis itu muncul jauh berbeda dengan kondisi sosial di nusantara.

Klik Pengajian Bahjatu al-Wudluh untuk Membaca Serial Kajian Hadis K.H.R. Ma’mun Nawawi



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here