Al-Ghazali dan Logika Aristoteles sebagai Basis Menghancurkan Keyakinan Lawan

0
1357

BincangSyariah.Com – al-Ghazali jika dilihat dari berbagai peranannya dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman lebih tepat dianggap sebagai seorang ahli kalam atau dalam bahasa Arab sering disebut sebagai mutakallim ketimbang predikat lainnya.

Ilmu kalam sendiri ialah ilmu yang digunakan untuk menyerang lawan yang tidak sepaham dengan aliran yang dianut oleh mutakallim. al-Ghazali dalam banyak karyanya selalu menyerang aliran-aliran yang posisinya berada di luar mazhab as-Syafi’i dalam fikih dan mazhab Asy’ari dalam akidah.

Al-Ghazali ketika mengadopsi logika Aristoteles harus dibaca dari perspektif bahwa beliau memang seorang mutakallim, seorang ulama yang memiliki banyak argumentasi rasional untuk menyerang sekte atau kelompok yang tidak sepaham dengannya. Perlunya mengadopsi logika bagi al-Ghazali bukan saja sebagai alat untuk berpikir logis namun untuk menghantam lawan-lawan polemiknya, terutama Muktazilah dan Syiah Isma’iliyyah.

Al-Ghazali karenanya sangat membutuhkan logika untuk menghantam ajaran Ta’limiyyah yang disebarkan oleh Hasan as-Sabbah. Ajaran Ta’limiyyah tidak mengakui qiyas atau pun akal sebagai sumber pengetahuan. Mereka malah memperteguh pandangan bahwa satu-satunya jalan kebenaran hanya akan dapat diperoleh melalui ajaran dari sang Imam Syiah.

Perlunya mengadopsi logika Aristoteles menuntut al-Ghazali untuk memisahkan dan membedakan logika dari filsafat. Bagi al-Ghazali, logika hanya sekadar:

آلة لا يتعلق شيئ منها بالدين نفيا وإثباتا بل هي النظر في كيفية طرق الاستدلال والمقاييس.

“Sarana berpikir yang tidak memiliki kaitan dengan agama. Agama bahkan tidak menghukumi boleh atau tidak boleh atas jenis ilmu ini. Lebih jauh lagi logika ialah cara memahami keruntutan argumen dan alasan.”

Kalau sifatnya demikian, maka logika bagi al-Ghazali:

من جنس ما ذكره المتكلمون وأهل النظر في الأدلة.

 “mirip dengan argumen ahli kalam dan ahli pikir”

Baca Juga :  Lima Keutamaan Membantu Orang Lain Menurut Al-Ghazali

Dan karenanya bagi al-Ghazali logika tidak berbeda dari cara berpikir ahli kalam dan ahli pikir ini:

بالعبارات والاصطلاحات وبزيادة الاستقصاء في التعريفات والتشعبات.

 “Logika hanya berbeda pada level terma-terma dan istilah-istilah.”

Lebih jauh lagi, al-Ghazali berusaha mengadopsi logika dan mengakulturasikanya ke dalam pemikiran Ahlu Sunnah. al-Ghazali menganggap logika sebagai al-Qistas al-Mustaqim “jalan yang lurus” yang dengannya al-Quran menghantam pandangan orang-orang kafir. Bahkan menariknya bentuk-bentuk silogisme Aristoteles  dinamakan oleh al-Ghazali sebagai Mawazin al-Quran.

Al-Ghazali dalam berbagai karyanya menegaskan bahwa logika bukan berasal dari Yunani kecuali namanya saja. Adapun jika dilihat dari segi substansinya, logika ialah kaidah-kaidah berpikir yang dimiliki oleh semua manusia. Kaidah ini digunakan untuk menentukan mana cara pikir yang benar dan mana cara pikir yang keliru.

Sampai di sini, al-Ghazali menyebut logika dengan sebutan-sebutan seperti Mahakk an-Nazhar, Mi’yar al-Ilm, al-Qistas al-Mustaqim dan Madarik al-Uqul. Dengan sebutan-sebutan seperti ini, al-Ghazali menegaskan bahwa logika sangat dibutuhkan:

في جميع العلوم النظرية العقلية منها والفقهية

“dalam ilmu-ilmu rasional dan ilmu fikih.”

Logika juga diperlukan dalam ilmu kalam untuk:

لرد الضلالات والبدع وإزالة الشبهات…وحراسة عقيدة العوام عن تشويش المبتدعة..

“menghancurkan basis-basis ajaran sesat, bidah dan menghilangkan keraguan dalam beragama. Logika juga berfungsi untuk menjaga  akidah orang awam dari kesesatan para pembuat bidah.”

Al-Ghazali kemudian menambahkan:

وبجنسه يتعلق الذي صنفناه في تهافت الفلاسفة والذي أوردناه في الرد على الباطنية في الكتاب الملقب بالمستظهري وفي كتاب حجة الحق وقواصم الباطنية وفي كتاب مفصل الخلاف في أصول الدين.

“logika juga digunakan ketika kami menulis kitab Tahafut al-Falasifah dan kitab-kitab yang berisi sanggahan terhadap aliran kebatinan seperti kitab yang berjudul al-Mustadzhiri (baca: Fada’ih al-Bathiniyyah), kitab Mahajjatul Haq, kitab Qawashim al-Haq dan kitab Mifsal al-Khilaf fi Usul ad-Din.”

Sampai di sini kita melihat bahwa al-Ghazali menulis karya-karya tentang logika dan karya-karya yang lain tentang penggunaan logika dalam menghantam basis teologis keyakinan non-Asy’ariyyah sangat ditentukan oleh kepentingannya untuk menyerang pandangan-pandangan para filosof dan penganut aliran kebatinan. Logika Aristoteles sangat dibutuhkan di sini karena bagi al-Ghazali seperti yang dapat kita baca dari kitab al-Qistas al-Mustaqim:

آلة يعرف بها طريق المجادلة بل طريق المحاجة بالبرهان الحقيقي

Baca Juga :  Cara Bijak Imam Sakhawi Menyikapi Perbedaan Tanggal Lahir Nabi

“Logika ialah alat untuk menyanggah pandangan lawan dengan argumen rasional yang kokoh dan meyakinkan.”

Al-Ghazali, dalam kitab Jawahir al-Quran, juga menambahkan:

وقد أودعناه كتاب محك النظر وكتاب معيار العلم على وجه لا يلفي مثله للفقهاء والمتكلمين، ولا يثق بحقيقة الحجة والشبهة من لم يحط بهما علما.

“Kami juga menulis tentang logika dalam kitab Mahakk an-Nazhar dan Mi’yar al-Ilm untuk digunakan oleh kalangan para fukaha dan para ahli kalam. Orang yang menguasai logika Aristoteles akan dapat memahami secara jeli kebenaran hujjah dan kerancuannya.”

Logika Aristoteles juga menurut Imam al-Ghazali sangat dibutuhkan dalam ilmu fikih. Dalam kitab Mi’yar al-Ilm dikatakan demikian:

النظر في الفقهيات لا يباين النظر في العقليات إلا في المقدمات، أما طريق ترتيب النظر وشروطه واختباره فواحدة.

“Mekanisme penalaran dalam ilmu fikih tidak berbeda jauh dengan mekanisme penalaran dalam ilmu-ilmu rasio. Perbedaan hanya terletak di soal pembuatan premis saja. Adapun dari segi cara-cara membangun argumen, keruntutan pemikiran dan syarat-syaratnya, mekanisme penalaran pada tataran ilmu fikih dan ilmu-ilmu rasio tetap sama.”

Al-Ghazali kemudian mempertegas dalam kitab al-Mustasfa bahwa ilmuwan atau ulama yang tidak menguasai ilmu logika maka patut dipertanyakan hasil-hasil pemikiran dan ijtihadnya. Qiyas fikih memang betul merupakan proses penalaran yang menggunakan analogi dari persoalan cabang ke kaidah asalnya dan karena itu proses ini cukup untuk mengembangkan dalil-dalil syariat dari al-Quran, sunnah dan ijma dan mengambil kesimpulan hukum dari sumber-sumber ini karena yang dituntut dalam proses penalaran seperti ini ialah persangkaan kuat dan bukan kepastian.

Meski demikian, seorang fakih wajib mempelajari logika bukan hanya untuk mempraktikkan qiyas fikih secara benar namun juga untuk mendebat para fukaha dari mazhab lain, terlebih madzhab Hanafi yang di masa al-Ghazali hidup menjadi lawan dari mazhab as-Syafi’i.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Ulama Pihak yang Paling Banyak Dikritik

Al-Ghazali sendiri ialah seorang fakih dari mazhab Syafi’i sedangkan negara tempat ia  menjadi ideolognya bermazhab Syafi’i pula. Sementara itu, masa inkuisisi yang dialami oleh para ulama Asy’ariyyah oleh kalangan Mu’tazilah dan Hanaifiyyah belum terlalu lama.

Karena itu, wajar jika kemudian negara Seljuk yang bermazhab Syafi’i dan berteologi Asy’ariy sangat memerlukan ideolog-ideolog seperti al-Ghazali untuk menghancurkan sisa-sisa pengaruh Muktazilah dan mazhab Hanafi yang saat itu menjadi lawan politik Asy’ariyyah dan Syafi’iyyah.

Al-Ghazali lahir di kota Ghazalah dengan kota Tus di Khurasan. Beliau tumbuh besar di masa kudeta Asy’ariyyah terhadap Muktazilah. Kudeta ini menjadikan tampuk kekuasaan berpindah kepada Nizham al-Mulk sebagai wazir di negara Seljuk menggantikan wazir bernama Abu Mudhar Mansur bin Muhammad al-Kandari, wazir yang berideologi Muktazilah dan bermazhab Hanafi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here