BincangSyariah.Com– Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, adalah tokoh Indonesia yang sangat kompleks dan manusia multidimensional. Ia adalah seorang ulama, pemikir, negarawan, dan aktivis hak asasi manusia. Ia juga dikenal sebagai sosok yang humoris, jenaka, dan penuh empati.
Tak bisa dipungkiri bahwa ciri khas dari masyarakat industri modern adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalitas zaman ini adalah rasionalitas teknologi. Bahkan, segalanya dipandang dan dihargai sejauh dapat dikuasai, digunakan, diperalat, dimanipulasi serta ditangani.
Itu artinya, instrumentalisasi menjadi semacam kata kunci dalam pandangan teknologis. Manusia menciptakan, dan memeralat benda-benda, alam serta mesin-mesin, untuk memudahkan hidupnya. Dan, di saat yang sama, hal itu juga berlangsung di wilayah politik dan kultural. Di sinilah manusia dan masyarakat berada dalam penguasaan teknologi.
Rupanya, selain itu, ilmu pengetahuan modern juga ditandai dengan istilah operasionalisasi. Maksud dari operasionalisasi ini menyatakan, ilmu-ilmu pengetahuan hanya berguna sejauh dapat diterapkan dan bersifat operabel. Tentu saja, ini tampak dalam penelitian sosial, di mana setiap perubahan yang sifatnya kualitatif disingkirkan.
Syahdan. Herbert Marcuse, seorang filsuf Jerman-Yahudi, teoritikus politik dan sosiolog, dan anggota Frankfurt School, mengungkapkan, dewasa ini yang terjadi bukanlah manusia menindas manusia atau golongan lainnya. Melainkan, terdapat suatu sistem totaliter yang menguasai semua orang, seluruh realitas alamiah dan sosial. Tak ada orang yang dapat memengaruhi sistem anonim itu.
Tak hanya itu, bagi Marcuse, teknologi bukanlah sesuatu yang bebas nilai atau netral. Sistem teknologis membangkitkan pada manusia keinginan-keinginan yang diperlukan, sistem dapat memertahankan diri dan terus berkembang. Sebab, dengan teknologi, manusia dapat memperoleh apa yang diinginkan.
Namun pada dasarnya, apa yang diinginkan manusia hanyalah apa yang dikehendaki sistem itu sendiri. Ini seperti lingkaran setan yang menjepit manusia. Di satu sisi, produktivitas semakin besar untuk memungkinkan konsumsi yang makin besar pula. Di lain sisi, satu-satunya alasan konsumsi ialah menjamin berlangsungnya produktivitas.
Alih-alih produktivitas, manusia modern mengira, ia benar-benar bebas dan ia hidup dalam dunia yang menyajikan kemungkinan-kemungkinan untuk dipilih dan direalisasikan. Tetapi, pada kenyataannya, apa yang dikehendaki manusia sebenarnya hanyalah apa yang didiktekan kepadanya.
Ketika Gus Dur melintasi jebakan modernitas
Syahdan. Masyarakat industri maju adalah masyarakat berdimensi satu. Pemikiran yang mereka praktikan pun adalah pemikiran berdimensi satu. Mereka tak mengenal betul adanya oposisi ataupun alternatif.
Pemikiran berdimensi satu secara sistematis telah menjalar pada para kepala politik dan penguasa. Mereka menguasai media massa. Manusia modern diindoktrinasi dengan slogan-slogan yang didikte begitu.
Tentunya, sebagai manusia era modern, Gus Dur berhasil membuktikan dirinya melintasi jebakan modernitas sebagaimana penggambaran kritis tokoh berpengaruh dalam gerakan Kiri Baru di buku yang terbit pada 1964 itu.
Salah satu kritik Herbert Marcuse terhadap era yang disebut advanced industrial society ini adalah, bahwa ia menghadirkan kebutuhan-kebutuhan palsu yang mengintegrasikan individu-individu ke dalam sistem produksi dan konsumsi melalui media massa, iklan, manajemen industri, dan mode pemikiran kontemporer.
Rupanya, sistem ini mendikte perilaku dan pikiran manusia hingga menjadi satu dimensi dan serba seragam. Maka, apa yang menurut Anda indah, maju, berkelas, pintar, dan seterusnya, sekarang ini memiliki makna yang seragam, yang ditentukan oleh satu kekuatan tak berbentuk.
Dengan demikian, Gus Dur hadir sebagai tokoh di era modern yang tak bisa dijelaskan hanya pada satu sisi, tafsir, definisi dan cerita. Karena, selain dia menamatkan masa studinya di Timur Tengah, beliau juga belajar ke Eropa untuk melanjutkan studi pascasarjananya.
Di sana, beliau menjadi pelajar keliling, belajar dari satu universitas ke universitas yang lain. Di sisi lain, beliau juga melakukan tradisi sufistik dan mistik, dari kebudayaan serta tradisi Islam.
Itu sebabnya, tak heran jika setiap orang yang pernah membaca jalan pikirannya Gus Dur, seolah-olah memiliki jalan cerita sendiri. Sesaat setelah wafatnya Gus Dur, beragam komentar pun, dari berbagai pihak di media semakin marak diperbincangkan. Mulai dari sosok hingga pemikiran beliau.
Sekarang, mereka yang melihat Gus Dur begitu fanatik dan gigih menyesuaikan sikapnya dengan firman Allah Swt. pada surah Al-Isra’ ayat 70:
وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70).
Iya mungkin akan menjulukinya humanis. Akan tetapi, yang melihat beliau begitu taat mengikuti jejak orang tua dan kakeknya dalam mencintai tanah air, mungkin akan menjulukinya nasionalis, serta yang melihatnya sebagai orang yang memiliki tingkat kualitas spiritual, mungkin akan menjulukinya seorang wali. Demikian seterusnya.
Masih tentang Gus Dur. Ia dikenal sebagai tokoh yang pluralis, selalu membela hak-hak kaum minoritas serta dekat dengan berbagai kelompok lintas agama dan budaya. Kedekatannya dengan Israel membuatnya dituduh sebagai agen Israel dan ulama yang menghancurkan Islam dari dalam.
Beliau sangat anti terhadap kekerasan apalagi kekerasan atas nama agama, sehingga tak heran banyak tokoh dan kelompok Islam radikal yang tidak suka padanya. Sikap Gus Dur yang sering melawan arus, sering mengundang tanda tanya besar.
Kemanusiaan adalah segalanya
Kemanusian adalah nilai lain yang mengikat seluruh tulisan Gus Dur di buku “Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita”. Prinsip ini sangat terang benderang hadir pada setiap pembelaannya kepada mereka yang dianggap tertindas. Pembelaan dilakukan tanpa pandang bulu. Salah satunya adalah pembelaan terhadap komunitas Tionghoa.
Gus Dur menolak anggapan bahwa masyarakat Tionghoa sebagai “warga keturunan”. “Mereka adalah orang Tionghoa sebagaimana halnya orang Papua, Orang Aceh, Sunda dan sebagainya”. Gus Dur juga membela Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) saat diserang tokoh agama di kalangan Nahdlatul Ulama. Gus Dur hendak membela kebebasan berpikir yang sudah ditunjukan dalam lintasan sejarah Islam.
Akan tetapi, meski kritiknya sangat tajam, Gus Dur masih bisa objektif terhadap dua tokoh ini: Habib Rizieq Shihab dan Abu Bakar Baasyir. Dalam “Kepala Sama Berbulu, Pendapat Berlain-lain” ia mengkritik cara aparat “mengambil” Abu Bakar Baasyir, tokoh yang diduga terlibat terorisme, yang dianggap Gus Dur salah prosedur dan tidak memenuhi ketentuan hukum.
Saat terjadi pro-kontra, apakah Abu Bakar Baasyir terlibat terorisme atau sekadar korban konspirasi internasional. Gus Dur justru mengambil jalan tengah dengan mengusulkan membentuk sebuah komisi independen, demi mengusut lebih tegas dan adil kasus ini.
Tak kalah menariknya, pembelaan yang sama juga ditunjukkannya kepada Habib Rizieq. Melihat kasus penangkapanya pada 2002, Gus Dur justru “memuji” sikap pimpinan Front Pembela Islam itu yang dinilai sebagai orang yang “taat hukum”. Karena penangkapan dianggap tak sesuai prosedur sebagaimana ditetapkan undang-undang.
Demikian penjelasan terkait Gus Dur sebagai manusia multidimensional. Wallahu a’lam bisshawaab. [Baca juga: Pembelaan Gus Dur terhadap Perjuangan Palestina]









[…] Reinkarnasi adalah kepercayaan bahwa jiwa manusia akan dilahirkan kembali ke dalam tubuh baru setelah kematian. Keyakinan ini telah ada di banyak […]
[…] telah menjadi tabiat dari setiap manusia. Bahkan, Nabi Muhammad Saw pun juga memiliki tabiat ini. Tetapi, meskipun tidur telah menjadi […]
… [Trackback]
[…] Information on that Topic: bincangsyariah.com/khazanah/profil-tokoh/gus-dur-manusia-multidimensional/ […]
… [Trackback]
[…] There you will find 48286 additional Info on that Topic: bincangsyariah.com/khazanah/profil-tokoh/gus-dur-manusia-multidimensional/ […]
… [Trackback]
[…] Info on that Topic: bincangsyariah.com/khazanah/profil-tokoh/gus-dur-manusia-multidimensional/ […]