Tingkat Sosial, Religi dan Teknologi Kaum Nabi Nuh

1
2241

BincangSyariah.Com – Setelah memasuki masa bercocok tanam atau disebut juga dengan masa Neolitik, kehidupan manusia semakin berkembang. Dalam beberapa ayat al-Quran ditunjukkan bahwa tingkat kebudayaan yang dicapai oleh umat Nabi Nuh adalah antara masa akhir bercocok tanam dan awal masa perundagian atau disebut juga dengan Revolusi Perkotaan. Penggunaan kata ‘harta’ pada surat Nuh ayat 21 menunjukkan bahwa manusia telah mampu menyimpan makanan bahkan menukarnya dengan benda lain yang kemudian disimpan dan fungsinya lebih sebagai peningkatan status sosial di mata masyarakat.

Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, sebagaimana terdapat dalam surat Hud ayat 23 adalah nama berhala terbesar yang disembah oleh masyarakat pada zaman nabi Nuh. Karakteristik manusia pada masa itu jelas menunjukkan adanya aktivitas pemujaan terhadap kekuatan yang lebih tinggi. Kekuatan yang lebih tinggi itulah yang menjadi dasar religi sekaligus pemberi berkah bagi manusia untuk mamastikan kehidupan bercocok tanam dan berternak dapat berjalan dengan lancar.

Ayat berikut juga menunjukkan bahwa tingkat teknologi kaum Nuh lebih maju dibandingkan Nabi Adam dan anaknya. Pada surat al-Qamar ayat 13 dan asy-Syu’ara ayat 119 dijelaskan bahwa kaum Nuh telah mampu membentuk kayu utuh panjang dan pipih dalam ukuran besar yang terbuat dari potongan-potongan papan yang disambung dengan paku dan mampu membawa muatan yang banyak atau penuh. Gambaran detail bahtera Nuh dapat kita temukan dalam kitab Torah atau perjanjian Lama yakni terbuat dari gopherwood (kayu gofer) tiga lantai dengan panjang 450 kaki (150 meter), lebar 75 kaki (25 meter), dan tinggi 45 kaki (15 meter).

Lokasi pemukiman kaum Nabi Nuh tidak diketahui secara pasti, namun lokasi mendaratnya bahtera Nuh cukup jelas disebutkan dalam Qur’an surat Hud ayat 44, yakni di bukit Jundi. Yusuf Ali dalam bukunya Tafsir Al-Qur’an menyebutkan bahwa bukit Jundi berada di suatu wilayah yang meliputi Distrik Bohtan di Turki dekat perbatasan negara-negara Turki, Irak, dan Suriah sekarang ini.

Baca Juga :  Adab yang Harus Dimiliki Seorang Guru Menurut Imam Ghazali

Beberapa literatur menyebutkan beliau diutus ke sebuah negeri di antara dua sungai yakni Eufrat dan Tigris. Al-Quran tidak menyebut secara pasti waktu dan masa diutusnya rasul ke tiga ini, namun dari penelitian Imam Abul Fida’ at-Tadmuri dapatlah diruntut bahwa sejarah nabi Nuh bermula sekitar 6000 tahun yang lalu atau sekitar 4000 SM. Dalam surat al-Ankabut ayat 14-15 disebutkan bahwa Nabi Nuh tinggal Bersama kaumnya selama 950 tahun. Perjanjian lama juga menyebut angka yang sama yakni 950 tahun. Menurut Imam al-Muhajir angka umur 950 tahun tersebut mempunyai arti bahwa hukum yang didakwahkan oleh Nabi Nuh berlaku selama 950 tahun, kemudian setelah itu digantikan oleh hukum Nabi Ibrahim.

Dalam surat Hud ayat 40 disebutkan bahwa yang ikut diselamatkan oleh Allah dengan masuk ke bahtera Nuh adalah anak-anak beliau yakni Sam (yang kelak melahirkan Ras Semit di Arab, Yahudi dan Etiopia), Ham (yang kelak melahirkan Ras Hamit di Afrika Utara dan Berber), dan Yafat/Yafis (yang kelak melahirkan Ras Arya di Yunani, Eropa, Persia, India dan China), serta segelintir pengikut Nabi Nuh. Bahtera itu juga memuat masing-masing satu pasang dari jenis-jenis hewan. Dua orang dari keluarga Nabi Nuh yang tidak masuk dalam bahtera yakni istri beliau dan satu orang anaknya yang bernama Kan’aan karena kedurhakaan keduanya kepada Allah swt.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here