Renungan Kematian: Kita Lahir Menangis, Akankah Pergi dengan Senyum?

0
10
Renungan Kematian: Kita Lahir Menangis, Akankah Pergi dengan Senyum?
Renungan Kematian: Kita Lahir Menangis, Akankah Pergi dengan Senyum?

BincangSyariah.Com– Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menangis ketika lahir dan bisa tertawa di tengah berbagai absurditas kehidupan, bahkan hingga mendekati akhir hidupnya. Tangis dan tawa sebenarnya bukan dua emosi yang saling bertentangan. Keduanya adalah dua cara manusia menghadapi kenyataan hidup yang penuh dengan kerapuhan.

Tangis menandai keterkejutan kita ketika pertama kali memasuki dunia yang fana. Sementara itu, tawa bisa menjadi bentuk perlawanan ketika maut dan penderitaan datang mendekat. Ketika hidup terasa begitu berat, tawa menjadi semacam jalan untuk menjaga agar jiwa tidak hancur. Kita tertawa sebagai cara menghadapi takdir yang sering kali berada di luar kendali kita.

Namun, pada akhirnya, di ujung perjalanan hidup, tawa dan tangis dapat melebur menjadi satu. Keduanya menunjukkan satu hal yang paling mendasar: bahwa kita pernah benar-benar hidup, pernah merasakan kerapuhan, dan pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa hidup ini akan berakhir.

Syahdan, ada satu bait syair yang meskipun hanya terdiri dari dua baris, menyimpan renungan yang sangat dalam. Syair ini dikutip oleh Syekh Abdul Qadir bin Milal Huais dalam karyanya Ulumul Qur’an wa Ushulut Tafsir Bayan al-Ma’ani, jilid 1, halaman 207. Dikatakan:

وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَاابْنَ آدَمَ بَاكِيًا # وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورًا
فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا # فِي يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا

Artinya: “Wahai anak Adam, engkau dilahirkan oleh ibumu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa berbahagia. Maka berjuanglah sungguh-sungguh untuk dirimu sendiri, agar kelak ketika mereka menangis di hari kematianmu, engkaulah yang justru tertawa berbahagia.”

Dua baris syair ini bukan sekadar nasihat keagamaan yang didengar lalu dilupakan. Ia seperti cermin yang memperlihatkan perjalanan hidup manusia: dari mana kita datang, ke mana kita akan pergi, dan apa yang seharusnya kita lakukan selama berada di antara dua titik tersebut.

Setiap manusia, tanpa terkecuali, memulai kehidupan di dunia dengan tangisan. Tidak ada bayi yang lahir sambil tersenyum. Hal ini begitu umum terjadi sehingga kita hampir tidak pernah lagi mempertanyakannya. Kita menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Namun, jika direnungkan lebih dalam, tangisan pertama seorang bayi sebenarnya merupakan respons paling jujur terhadap dunia yang baru dikenalnya. Ia baru saja memasuki lingkungan yang asing: penuh cahaya, udara yang berbeda, dan ruang yang jauh lebih luas setelah selama sembilan bulan berada dalam rahim yang hangat, sempit, dan terasa aman.

Yang menarik bukan hanya tangisan bayi itu, tetapi juga keadaan yang menyertainya. Syair di atas menempatkan dua respons yang berbeda dalam satu peristiwa: bayi menangis, sementara orang-orang di sekelilingnya tertawa bahagia. Perbedaan ini bukan sekadar permainan kata. Ia menggambarkan bahwa satu peristiwa yang sama bisa memiliki makna yang berbeda, tergantung dari sudut pandang orang yang mengalaminya.

Bagi bayi, kelahiran berarti kehilangan: kehilangan kehangatan rahim, kehilangan suasana yang selama ini dikenalnya, dan kehilangan rasa aman yang sebelumnya ia miliki. Namun, bagi orang-orang di sekelilingnya, kelahiran adalah sebuah kebahagiaan karena hadir kehidupan baru, harapan baru, dan kelanjutan keturunan.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa makna sebuah peristiwa sangat bergantung pada sudut pandang dan kapan peristiwa itu dinilai. Tangisan bayi bukan berarti penderitaan yang akan berlangsung selamanya. Ia hanya sebuah respons sesaat yang justru menjadi awal dari kehidupan yang panjang.

Pesan pertama dari sini adalah bahwa kesulitan di awal tidak selalu berarti keburukan. Begitu pula, kegembiraan di awal tidak selalu menjamin bahwa semuanya akan berakhir dengan baik.

Tawa sebagai Selubung Ketidaktahuan

Jika tangisan bayi merupakan respons alami terhadap dunia yang baru dan asing, maka tawa orang-orang di sekelilingnya justru lahir dari sesuatu yang lebih rapuh: harapan, bayangan tentang masa depan, dan, jika kita jujur, ketidaktahuan.

Mereka tertawa bukan karena mengetahui apa yang akan terjadi pada bayi tersebut sepanjang hidupnya. Mereka tertawa karena merasa bahagia melihat kemungkinan-kemungkinan baik yang mungkin terjadi, meskipun semua itu belum tentu menjadi kenyataan.

Di sinilah syair tersebut menjadi menarik sebagai kritik terhadap cara manusia memahami kebahagiaan. Kita sering merayakan sebuah permulaan tanpa benar-benar memikirkan bagaimana perjalanan itu akan berakhir.

Sebuah pernikahan dirayakan dengan penuh kegembiraan, meskipun tidak ada yang bisa menjamin bahwa pernikahan itu akan bertahan selamanya. Sebuah proyek dimulai dengan optimisme, meskipun hasil akhirnya belum diketahui.

Begitu pula sebuah kelahiran disambut dengan sukacita, meskipun kita belum tahu jalan hidup seperti apa yang akan ditempuh oleh anak tersebut: akankah ia tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan, atau justru sebaliknya?

Dalam kerangka pemikiran ini, tawa di awal kehidupan sebenarnya adalah tawa yang lahir dari ketidaktahuan bersama. Manusia secara alami lebih mudah melihat kemungkinan yang baik dan menyenangkan, sementara kesadaran bahwa setiap kelahiran juga merupakan awal perjalanan menuju kematian sering kali kita kesampingkan.

Filsafat eksistensialis Barat menyebut keadaan ini sebagai usaha manusia untuk “melarikan diri” dari kesadaran akan kefanaan (mortality). Manusia cenderung menunda kesadaran bahwa setiap yang lahir pada akhirnya akan mati.

Membalik Posisi Tangis dan Tawa

Bagian paling kuat dari bait ini terletak pada baris kedua. Baris tersebut membalik keadaan yang digambarkan pada baris pertama.

Jika baris pertama menggambarkan keadaan saat kelahiran—bayi menangis sementara orang lain tertawa—maka baris kedua menawarkan sebuah tantangan: bagaimana jika keadaan itu dibalik pada akhir kehidupan?

Ajakan untuk “berjuang” (al-ijtihad) dalam bait tersebut bukanlah ajakan untuk melakukan usaha seadanya. Kata ijtihad dalam tradisi keilmuan Islam mengandung makna mengerahkan seluruh kemampuan dan daya upaya secara sungguh-sungguh.

Artinya, keadaan ketika seseorang dapat “tertawa” di hari kematiannya, sementara orang lain menangisinya, bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Keadaan itu merupakan hasil dari perjuangan panjang, kesadaran, dan kesungguhan selama menjalani kehidupan.

Di sinilah keindahan susunan syair tersebut terlihat. Syair ini menggambarkan perjalanan waktu secara utuh.

Pada awal kehidupan, kita menangis sementara orang lain tertawa. Pada akhir kehidupan, keadaan itu diharapkan berbalik: kita tertawa sementara orang lain menangis.

Di antara dua keadaan itulah seluruh kehidupan manusia berlangsung. Waktu yang kita miliki menjadi kesempatan untuk menentukan bagaimana akhir perjalanan tersebut.

Dengan demikian, manusia bukan sekadar makhluk yang pasif menerima nasib. Ia memiliki ruang dan kesempatan untuk berusaha menentukan makna dari perjalanan hidupnya sendiri.

Kematian sebagai Cermin, Bukan Sekadar Akhir

Ada kemungkinan kita membaca bait ini hanya sebagai nasihat moral sederhana: berbuat baiklah agar ketika meninggal dunia, banyak orang yang merasa kehilangan dan mendoakanmu, sementara engkau sendiri berbahagia menyambut kematian.

Namun, jika direnungkan lebih jauh, muncul pertanyaan: mengapa kematian yang dijadikan ukuran, bukan pencapaian duniawi seperti harta, jabatan, atau ketenaran?

Jawabannya karena kematian tidak mudah dimanipulasi. Berbeda dengan kesuksesan duniawi yang bisa dibuat terlihat indah, dipoles, bahkan dipalsukan di hadapan orang lain, kematian adalah saat ketika berbagai topeng sosial terlepas.

Tangisan yang benar-benar tulus dari orang-orang yang ditinggalkan tidak dapat dibeli dengan uang atau dipaksakan dengan kekuasaan. Tangisan itu lahir dari kesan yang ditinggalkan seseorang selama hidupnya: dari kebaikan yang pernah diberikan, keteladanan yang pernah ditunjukkan, dan jejak yang benar-benar memberi perubahan dalam kehidupan orang lain.

Dengan demikian, kematian dalam bait ini dapat dipandang sebagai semacam ujian akhir yang jujur. Kematian menjadi cermin yang memperlihatkan kembali kualitas hidup seseorang tanpa banyak ruang untuk berpura-pura.

Karena itu, gagasan “tertawa di hari kematian” menjadi sangat kuat. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak seharusnya bergantung pada pengakuan manusia selama kita hidup. Yang lebih penting adalah kejernihan hati ketika menghadapi kematian.

Ketenangan semacam itu hanya mungkin tumbuh ketika seseorang berusaha menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Antara Motivasi Spiritual dan Bahaya Fatalisme

Meskipun pesan dalam bait ini indah dan menggugah, kita tetap perlu membacanya secara kritis. Jangan sampai pesan tersebut dipahami secara terlalu sederhana atau keliru.

Pertama, ada risiko bahwa gagasan “berjuang demi kebahagiaan di hari kematian” disalahpahami sebagai ajakan untuk terlalu berfokus pada kematian. Jika demikian, seseorang justru bisa mengabaikan kegembiraan, tanggung jawab, dan makna kehidupan di dunia yang juga harus dijalani dengan penuh rasa syukur.

Kesadaran bahwa hidup ini sementara seharusnya mendorong kita untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Kesadaran itu bukan untuk membuat kita hidup dalam ketakutan atau kecemasan berlebihan terhadap kematian.

Kedua, menjadikan “tangisan orang lain” sebagai ukuran kebaikan seseorang juga perlu dipahami dengan hati-hati. Tidak semua orang yang ditangisi banyak orang ketika meninggal berarti benar-benar baik dalam arti yang sebenarnya. Tangisan bisa muncul karena berbagai alasan: kehilangan seseorang yang memiliki kekuasaan, kehilangan sumber penghasilan, atau sekadar mengikuti kebiasaan dan formalitas sosial.

Sebaliknya, ada banyak orang saleh yang meninggal dalam kesunyian dan tidak banyak ditangisi. Namun, hal itu tidak berarti kualitas spiritual mereka rendah.

Karena itu, tangisan orang lain sebaiknya dipahami sebagai simbol atau gambaran tentang jejak kebaikan seseorang, bukan sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas hidupnya.

Ketiga, bait ini juga tidak seharusnya digunakan untuk menghakimi orang lain. Kita tidak boleh merasa berhak menentukan siapa yang “akan tertawa” dan siapa yang “akan menangis” pada akhirat nanti. Hal tersebut sepenuhnya berada di luar pengetahuan manusia.

Pesan utama syair ini seharusnya diarahkan kepada diri sendiri. Ia merupakan bahan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi, bukan alat untuk menilai dan menghakimi perjalanan spiritual orang lain.

Ruang di Antara Dua Tangisan

Kehidupan manusia dapat dipahami sebagai ruang di antara dua tangisan: tangisan kelahiran yang sudah pasti terjadi dan tangisan kematian yang belum kita ketahui bagaimana akhirnya.

Apakah kematian kita kelak akan diiringi tangisan tulus dari orang-orang yang benar-benar merasa kehilangan sosok berharga? Ataukah hanya menjadi tangisan yang sebentar dan tidak meninggalkan kesan mendalam?

Di antara dua titik itulah seluruh kehidupan manusia berlangsung. Di sanalah kita membuat berbagai pilihan kecil setiap hari. Di sanalah kita menentukan nilai-nilai yang akan kita pegang atau justru kita tinggalkan. Di sanalah kita menanam kebaikan atau memilih untuk mengabaikannya.

Syair yang dikutip oleh Syekh Abdul Qadir bin Milal Huais ini pada akhirnya bukan hanya rangkaian kata indah untuk dihafalkan. Ia adalah ajakan untuk merenungkan arah kehidupan yang sedang kita jalani.

Syair ini mengajak setiap manusia untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan bertanya kepada dirinya sendiri: jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, tangisan seperti apa yang akan saya tinggalkan? Dan yang lebih penting, ketenangan seperti apa yang sudah saya persiapkan untuk menyambut kepergian itu?

Hemat penulis, mungkin di situlah letak kebijaksanaan terdalam dari bait sederhana ini. Kehidupan bukan hanya tentang seberapa meriah tawa yang menyambut kedatangan kita, tetapi juga tentang seberapa tulus air mata yang mengiringi kepergian kita, dan seberapa tenang hati kita sendiri ketika menghadapinya. Wallahu a’lam bisshawab.


*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Artikel SebelumnyaIngin Mendapat Syafaat Nabi? Begini Cara Memantaskan Diri
Artikel SelanjutnyaHukum Meninggalkan Shalat Menurut Ibnu Hajar al-Haitami
Salman Akif Faylasuf
Mahasiswa Fakultas Hukum Islam Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini