BincangSyariah.Com– Setiap Muslim tentu mendambakan syafaat Rasulullah SAW kelak di akhirat. Harapan itu semakin besar ketika seseorang menyadari bahwa dirinya masih jauh dari kesempurnaan. Setiap hari ada saja kesalahan yang dilakukan. Ada dosa yang mungkin berulang, ada kewajiban yang terabaikan, dan ada kesempatan untuk berbuat baik yang berlalu begitu saja.
Namun, persoalannya bukan sekadar menyadari bahwa diri kita penuh kekurangan. Kesadaran itu semestinya mendorong seseorang untuk segera berbenah, bertaubat, dan menjemput maghfirah Allah SWT. Sebab, dalam Islam, pintu ampunan tidak hanya untuk diketuk, tetapi juga harus segera didatangi.
Al-Qur’an bahkan memerintahkan orang-orang beriman agar bersegera menuju ampunan Allah dan surga-Nya. Allah SWT berfirman:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133).
Imam al-Qurtubi ketika menafsirkan ayat tersebut menjelaskan makna frasa wa sâri‘û sebagai perintah untuk bersegera melakukan ketaatan dan berbagai amal kebajikan yang menjadi sebab diperolehnya ampunan dan surga.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak semestinya menunda-nunda taubat dan amal kebajikan. Para ulama juga menjelaskan bahwa taubat dari dosa wajib dilakukan dengan segera (fauran), terutama ketika seseorang menyadari dirinya telah melakukan maksiat.
Meski demikian, dalam perjalanan hidup, tidak semua orang mudah mewujudkan kesungguhan tersebut. Kita mungkin ingin menjadi pribadi yang baik, tetapi pada saat yang sama masih sering kalah oleh hawa nafsu. Kita ingin memperbanyak amal, tetapi masih terjebak dalam kelalaian. Kita ingin kembali kepada Allah, tetapi terkadang masih menunda-nunda.
Padahal, siapa yang dapat memastikan bahwa dirinya masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan?
Bagaimana jika ajal datang ketika kita belum sampai pada keadaan râdliyatam mardliyyah—ridha kepada Allah dan diridhai oleh-Nya? Apa yang harus kita lakukan selama hidup di dunia agar kelak termasuk orang yang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW?
Sebelum membahas amalan-amalan yang dapat menjadi jalan menuju syafaat Nabi, terlebih dahulu penting bagi kita memahami apa sebenarnya makna syafaat itu.
Makna Syafaat Nabi Muhammad SAW
Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata syafaat (شفاعة) pada asalnya bermakna pertolongan atau bantuan. Dalam konteks syafaat Nabi Muhammad SAW, berarti pertolongan dan permohonan beliau bagi umatnya.
Imam al-Qurtubi berkata:
الْأَصْلُ فِي الشَّفَاعَةِ: الإِعَانَةُ، يُقَالُ: شَفَعْتُ فُلَانًا؛ إِذَا أَعَنْتُهُ وَصِرْتُ مَعَهُ شَفْعًا بَعْدَ أَنْ كَانَ وَتْرًا. وَشَفَاعَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُذْنِبِينَ: طَلَبُهُ فِي التَّجَاوُزِ عَنْهُمْ
“Asal makna syafaat adalah pertolongan atau bantuan. Dikatakan: ‘Aku memberikan syafaat kepada si Fulan’, artinya aku membantunya dan menjadi penggenap baginya setelah sebelumnya ia sendirian. Sedangkan syafaat Nabi SAW bagi orang-orang yang berbuat dosa adalah permohonan beliau agar mereka dimaafkan.” (Lihat Muhammad bin Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tahqiq Ahmad al-Barduni, (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, cet. II, 1964 M), Juz 1, hlm. 374).
Sementara itu, Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa dalam perspektif Al-Qur’an, syafaat bukanlah tindakan mengubah kehendak Allah SWT. Syafaat berkaitan dengan terpenuhinya syarat-syarat rahmat Allah pada diri seseorang melalui perantara pemberi syafaat yang telah mendapatkan izin dari Allah SWT.
Senada dengan itu, Imam al-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj menjelaskan bahwa menurut Ahlus Sunnah, syafaat bermakna mendoakan orang lain agar memperoleh kebaikan. Di dalamnya termasuk permohonan agar hukuman digugurkan dan dosa-dosa diampuni.
وَمَعْنَى الشَّفَاعَةِ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ: سُؤَالُ الْخَيْرِ لِلْغَيْرِ فِيهِ إِسْقَاطُ الْعِقَابِ وَتَكْفِيرُ الذُّنُوبِ
“Makna syafaat menurut Ahlus Sunnah adalah memohon kebaikan bagi orang lain, yang di dalamnya mencakup pengguguran hukuman dan penghapusan dosa-dosa.” (Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, cet. II, 1392 H), Juz 3, hlm. 35).
Penjelasan tersebut senada dengan keterangan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Beliau mengatakan:
الشَّفَاعَةُ فِي الْحَقِيقَةِ هِيَ الدُّعَاءُ، وَدُعَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُجَابٌ وَمَقْبُولٌ بِلَا شَكٍّ، فَاللَّهُ هُوَ الَّذِي يَأْذَنُ بِالشَّفَاعَةِ وَيَقْبَلُهَا إِكْرَامًا لِلشَّفِيعِ وَرَحْمَةً بِالْمَشْفُوعِ لَهُ
“Syafaat pada hakikatnya adalah doa. Doa Nabi SAW pasti dikabulkan dan diterima tanpa keraguan. Allah-lah yang mengizinkan syafaat dan menerimanya sebagai bentuk penghormatan kepada pemberi syafaat dan rahmat bagi orang yang diberi syafaat.” (Muhammad bin Alawi al-Maliki, Mafahim Yajibu an Tushahhah, (Surabaya: Hai’ah ash-Shofwah,) hlm. 162).
Jika persoalan syafaat ini dilihat lebih jauh melalui perspektif tasawuf, kita akan menemukan dimensi spiritual yang lebih dalam. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa syafaat berkaitan dengan adanya pertalian tauhid dengan Allah SWT dan hubungan cinta (mahabbah) dengan orang yang memberikan syafaat.
Dengan demikian, syafaat dapat diibaratkan seperti magnet: ia menarik sesuatu yang memiliki kesesuaian dengannya.
Dari berbagai penjelasan ulama tersebut, dapat dipahami bahwa syafaat Nabi Muhammad SAW merupakan anugerah Allah SWT kepada beliau berupa kewenangan untuk memberikan pertolongan kepada umatnya dengan izin Allah. Karena itu, harapan memperoleh syafaat harus berjalan beriringan dengan usaha untuk menjadi pribadi yang pantas mendapatkannya.
Lalu, apa saja amal yang dapat menjadi jalan menuju syafaat Nabi Muhammad SAW?
Amal-Amal Pengantar Menuju Syafaat Nabi Muhammad SAW
Dalam khazanah keislaman, terdapat sejumlah keterangan Nabi dan penjelasan ulama mengenai amalan yang dapat menjadi sebab seseorang memperoleh syafaat Rasulullah SAW.
Pertama: Memurnikan Tauhid dan Menjaga Keikhlasan
Tauhid merupakan fondasi utama seorang Muslim. Sementara keikhlasan menjadi ruh dalam setiap amal. Karena itu, jika berbicara tentang syafaat Nabi, kedua perkara ini menjadi dasar yang tidak dapat ditinggalkan.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
Artinya; “Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ secara ikhlas dari lubuk hatinya atau jiwanya.” (HR. al-Bukhari, No. 99, dari Abu Hurairah RA).
Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menyoroti sabda Nabi khaalishan min qalbihi (secara ikhlas dari hatinya). Menurut beliau, frasa tersebut menunjukkan bahwa sebab terbesar untuk memperoleh syafaat adalah tauhid yang murni, bersih dari syirik dan riya.
Beliau menjelaskan:
وَقَوْلُهُ: «خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ» تَنْبِيهٌ عَلَى أَنَّ السَّبَبَ الأَعْظَمَ فِي نَيْلِ الشَّفَاعَةِ هُوَ التَّوْحِيدُ الْخَالِصُ عَنِ الشِّرْكِ وَالرِّيَاءِ، فَالشَّفَاعَةُ لَيْسَتْ لِمَنْ قَالَ اللَّفْظَ لِسَانًا دُونَ اعْتِقَادِ الْقَلْبِ كَالْمُنَافِقِ، وَلاَ لِمَنْ شَابَ تَوْحِيدَهُ بِالشِّرْكِ
“Sabda Nabi ‘ikhlas dari hatinya’ merupakan peringatan bahwa sebab terbesar untuk memperoleh syafaat adalah tauhid yang bersih dari syirik dan riya. Syafaat tidaklah diperuntukkan bagi orang yang hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisannya tanpa keyakinan hati seperti orang munafik, dan tidak pula bagi orang yang mencampuri tauhidnya dengan kesyirikan.” (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, Bab al-Hirsh ‘ala al-Hadits, Dar al-Ma‘rifah, Juz 1, hlm. 194).
Dengan kata lain, memantaskan diri untuk mendapatkan syafaat Nabi bermula dari membenahi hubungan kita dengan Allah SWT. Tauhid harus dijaga, sementara setiap amal harus diusahakan agar semakin jauh dari riya dan semakin dekat kepada keikhlasan.
Kedua: Membaca Doa Setelah Azan
Amalan berikutnya yang dapat menjadi jalan memperoleh syafaat Nabi adalah membaca doa setelah mendengar azan. Hal ini berlaku baik azan tersebut dikumandangkan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa ketika mendengar seruan azan membaca: ‘Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan al-Fadhilah, serta bangkitkanlah beliau pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan’, maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)
Imam Badruddin al-‘Aini dalam ‘Umdat al-Qari menjelaskan makna frasa hallat lahu syafa‘ati (berhak mendapatkan syafaatku) sebagai berikut:
مَعْنَى «حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي» أَيْ وَجَبَتْ لَهُ وَنَزَلَتْ بِهِ الشَّفَاعَةُ، وَذَلِكَ جَزَاءٌ وِفَاقٌ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا دَعَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَقَامِ الْمَحْمُودِ الَّذِي فِيهِ الشَّفَاعَةُ، جَازَاهُ اللهُ بِأَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ تِلْكَ الشَّفَاعَةِ.
“Makna ‘berhak mendapatkan syafaatku’ adalah syafaat tersebut pasti baginya dan turun kepadanya. Hal itu merupakan balasan yang setimpal. Sebab, ketika ia mendoakan Nabi SAW agar mendapatkan al-Maqam al-Mahmud yang di dalamnya terdapat syafaat, Allah membalasnya dengan menjadikannya termasuk golongan yang menerima syafaat tersebut.” (Badruddin al-‘Aini, ‘Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, Bab al-Du‘a ‘inda al-Nida’, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Juz 5, hlm. 120).
Ketiga: Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
Mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan pengakuan. Salah satu bentuk cinta yang paling mudah dilakukan adalah memperbanyak shalawat kepada beliau.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِينَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa bershalawat kepadaku pada pagi hari sepuluh kali dan pada sore hari sepuluh kali, maka ia akan meraih syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Thabrani ).
Al-Mulla ‘Ali al-Qari dalam Mirqat al-Mafatih menjelaskan hikmah pengkhususan shalawat pada waktu pagi dan sore:
«أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي» أَيْ نَالَتْهُ وَلَحِقَتْهُ، وَتَخْصِيصُ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ لِأَنَّهُمَا مَبْدَأُ النَّهَارِ وَاللَّيْلِ، فَالْمُلاَزَمَةُ فِيهِمَا عَلَى الذِّكْرِ تَجْعَلُ الْعَبْدَ فِي حِمَايَةِ اللهِ وَرِعَايَةِ نَبِيِّهِ فِي سَائِرِ أَوْقَاتِهِ.
“‘Maka ia akan meraih syafaatku’ artinya syafaat itu akan sampai dan mendapatinya. Pengkhususan waktu pagi dan sore adalah karena keduanya merupakan permulaan siang dan malam. Maka merutinkan zikir pada kedua waktu tersebut menjadikan seorang hamba berada dalam perlindungan Allah dan pemeliharaan Nabi-Nya di sepanjang waktunya.” (‘Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Kitab al-Da‘awat, Bab al-Istighfar wa al-Taubah, Dar al-Fikr, Juz 4, hlm. 1704).
Shalawat, dengan demikian, bukan sekadar bacaan yang diulang dengan lisan. Ia semestinya menjadi ekspresi cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus pengingat agar kehidupan kita semakin dekat dengan ajaran beliau.
Keempat: Bersabar Tinggal dan Meninggal Dunia di Kota Madinah
Salah satu keistimewaan kota Madinah adalah adanya jaminan khusus dari Rasulullah SAW bagi orang yang bersabar menghadapi kesulitan hidup di dalamnya.
Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يَصْبِرُ عَلَى لأْوَائِهَا وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ إِلاَّ كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seseorang bersabar atas kesusahan dan kesukaran kota Madinah, melainkan aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat.” (HR. Muslim, No. 1378, dari Abu Sa‘id al-Khudri RA).
Al-Qadhi ‘Iyadh dalam Ikmal al-Mu‘lim menjelaskan:
«شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا» قِيلَ: شَفِيعًا لِلْعَاصِينَ مِنْهُمْ بِتَكْفِيرِ ذُنُوبِهِمْ، وَشَهِيدًا لِلْمُطِيعِينَ بِزِيَادَةِ دَرَجَاتِهِمْ. وَالصَّبْرُ عَلَى لأْوَائِهَا هُوَ التَّحَمُّلُ لِمَا يَقَعُ فِيهَا مِنَ الشِّدَّةِ وَالضِّيقِ فِي المَعِيشَةِ رَغْبَةً فِي جِوَارِ النَّبِيِّ.
“Frasa ‘menjadi pemberi syafaat atau saksi’ dipahami sebagai pemberi syafaat bagi para pelaku maksiat di antara mereka dengan menghapus dosa-dosanya, dan menjadi saksi bagi orang-orang yang taat dengan menambah derajat mereka. Sedangkan bersabar atas kesukarannya adalah menanggung segala kesempitan dan kesulitan hidup di sana karena menginginkan ketetanggaan dengan Nabi.” (Al-Qadhi ‘Iyadh, Ikmal al-Mu‘lim bi Fawa’id Muslim, Kitab al-Hajj, Bab al-Targhib fi Sukun al-Madinah, Dar al-Wafa’, Juz 4, hlm. 462).
Kelima: Menjaga dan Menyambung Tali Silaturahmi
Syafaat Nabi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan sesamanya. Islam tidak mengajarkan hubungan vertikal dengan Allah tanpa dibarengi kepedulian terhadap hubungan horizontal dengan manusia.
Salah satunya adalah menjaga silaturahmi.
Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir menjelaskan:
الصِّلَةُ تَمْتَدُّ بِهَا الرَّحْمَةُ الإِلَهِيَّةُ، وَمَنْ شَمِلَتْهُ رَحْمَةُ اللهِ كَانَ مِنْ أَقْرَبِ النَّاسِ اسْتِحْقَاقًا لِشَفَاعَةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Silaturahmi itu memperluas rahmat Ilahi. Barang siapa yang diliputi rahmat Allah, maka ia menjadi orang yang paling dekat kelayakannya untuk mendapatkan syafaat Nabi-Nya SAW.” (Ibn Hajar al-Haitami, Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir, Bab Silat al-Rahim, Dar al-Fikr, Juz 2, hlm. 118).
Karena itu, menjaga hubungan dengan keluarga, kerabat, dan sesama bukan sekadar persoalan sosial. Silaturahmi juga merupakan bagian dari usaha menghadirkan rahmat Allah dalam kehidupan seorang Muslim.
Keenam: Memperbanyak Sujud dan Shalat Sunnah
Jalan lain untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW adalah memperbanyak sujud, terutama dengan memperbanyak shalat sunnah.
Imam al-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj menjelaskan hal ini ketika mensyarah hadis Rabi‘ah bin Ka‘ab al-Aslami RA. Ketika Rabi‘ah meminta kepada Rasulullah SAW agar dapat mendampingi beliau di surga, Nabi bersabda agar ia membantu beliau dengan memperbanyak sujud.
Imam al-Nawawi berkata:
فِيهِ الحَثُّ عَلَى كَثْرَةِ السُّجُودِ وَالرُّكُوعِ، وَأَنَّ كَثْرَةَ الطَّاعَاتِ تَكُونُ سَبَبًا لِنَيْلِ شَفَاعَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُرَافَقَتِهِ فِي الجَنَّةِ.
“Di dalam hadis ini terdapat dorongan untuk memperbanyak sujud dan rukuk (shalat), serta penegasan bahwa banyaknya ketaatan menjadi sebab untuk meraih syafaat Nabi SAW dan mendampingi beliau di surga.” (Al-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Kitab al-Shalat, Bab Fadhl al-Sujud, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, Juz 4, hlm. 206).
Pesan hadis tersebut sangat jelas: jika seseorang ingin dekat dengan Nabi di akhirat, hendaknya ia membangun kedekatan dengan Allah melalui ketaatan di dunia.
Ketujuh: Berakhlak Mulia dan Mencintai Ahlul Bait
Mencintai Nabi Muhammad SAW juga semestinya tercermin dalam kecintaan dan penghormatan kepada keluarga serta keturunan beliau (Ahlul Bait).
Imam al-Munawi dalam Fayd al-Qadir menjelaskan bahwa memuliakan dan mencintai keluarga Nabi merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan syafaat beliau.
Beliau berkata:
إِكْرَامُ أَهْلِ بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَحَبَّتُهُمْ مِنْ أَعْظَمِ الأَسْبَابِ الموجِبَةِ لِشَفَاعَتِهِ، لِأَنَّ مَنْ أَحَبَّ فَرْعًا أَحَبَّ أَصْلَهُ وَوُوفِيَ بِحَقِّهِ.
“Memuliakan keluarga Nabi SAW dan mencintai mereka merupakan salah satu sebab terbesar yang mendatangkan syafaat beliau. Sebab, barang siapa mencintai cabangnya (keturunannya), berarti ia mencintai pokoknya (Nabi) dan telah menunaikan haknya.” (Al-Munawi, Fayd al-Qadir Syarh al-Jami‘ al-Shaghir, Bab al-Hamzah, Juz 3, hlm. 512).
Cinta kepada Nabi, karena itu, bukan hanya perkara ucapan. Ia harus melahirkan penghormatan kepada apa dan siapa saja yang memiliki hubungan dengan beliau, serta tercermin dalam akhlak sehari-hari.
Kedelapan: Meringankan Kesusahan dan Membantu Sesama
Ada pula amalan sosial yang tidak kalah penting, yaitu membantu orang lain keluar dari kesulitan.
Ketika seseorang berusaha meringankan beban saudaranya di dunia, Allah SWT akan memberikan balasan berupa pertolongan pada hari kiamat.
Dalam Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam dijelaskan:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً فِي الدُّنْيَا، جَازَاهُ اللهُ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ شَفِيعًا يُنَجِّيهِ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ، وَأَعْظَمُ الشُّفَعَاءِ هُوَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Barang siapa melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan membalasnya dengan menjadikan baginya pemberi syafaat yang menyelamatkannya dari kesusahan hari kiamat. Dan pemberi syafaat yang paling agung adalah Rasulullah SAW.” (Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam, Syarh Hadis al-Arba‘in al-Nawawiyyah, Mu’assasah al-Risalah, Juz 2, hlm. 283).
Ini menunjukkan bahwa jalan menuju keselamatan akhirat tidak hanya ditempuh melalui ibadah individual. Kepedulian kepada sesama juga memiliki tempat yang sangat penting dalam ajaran Islam.
Membantu orang yang kesusahan, menolong orang yang membutuhkan, meringankan beban saudara, dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW.
Bukan Sekadar Berharap, tetapi Memantaskan Diri
Selain beberapa amalan di atas, terdapat pula keterangan ulama mengenai pentingnya istiqamah dalam ketaatan dan zikir.
Syekh Muhammad al-Amin al-Syinqithi berkata:
الملاَزَمَةُ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالذِّكْرِ تَمْحُو أثَارَ الذُّنُوبِ، وَتَجْعَلُ لِلْعَبْدِ نُورًا يُعْرَفُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ فَيَسْتَحِقُّ شَفَاعَتَهُ.
Artinya; “Istiqamah dalam ketaatan dan zikir menghapus bekas-bekas dosa serta memberikan kepada seorang hamba cahaya yang dengannya ia dikenali di hadapan Rasulullah, sehingga ia berhak menerima syafaat beliau.” (Muhammad al-Amin al-Syinqithi, Adwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, Surah al-Isra’, Dar al-Fikr, Juz 3, hlm. 438).
Keterangan ini memberikan pesan penting bahwa usaha memperoleh syafaat bukanlah perkara yang dilakukan sesaat. Ia membutuhkan kesinambungan. Ada proses panjang untuk membentuk tauhid yang kokoh, hati yang ikhlas, ibadah yang istiqamah, akhlak yang baik, kecintaan kepada Nabi, penghormatan kepada Ahlul Bait, serta kepedulian terhadap sesama.
Walhasil, syafaat Rasulullah SAW merupakan salah satu karunia Allah SWT yang sangat diharapkan oleh setiap Muslim. Tidak ada seorang pun yang ingin berdiri sendirian di hadapan pengadilan Allah tanpa pertolongan dan rahmat-Nya.
Namun, berharap syafaat tidak berarti berpangku tangan. Ada jalan-jalan yang telah dijelaskan dalam hadis Nabi dan diterangkan oleh para ulama.
Di antaranya adalah menjaga kemurnian tauhid dan keikhlasan, memperbanyak shalawat, membaca doa setelah azan, memperbanyak sujud dan ketaatan, menyambung silaturahmi, mencintai dan memuliakan keluarga Nabi, serta membantu meringankan kesusahan sesama.
Semua amalan tersebut pada dasarnya menggambarkan dua hubungan sekaligus: hubungan seorang hamba dengan Allah SWT dan hubungan seorang hamba dengan Rasulullah SAW serta sesama manusia.
Karena itu, memantaskan diri untuk memperoleh syafaat Nabi tidak semestinya dipahami hanya sebagai usaha memperbanyak amalan lahiriah. Yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, memuliakan beliau, menjaga keikhlasan, memperbaiki akhlak, dan berusaha mengikuti sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, syafaat tetap merupakan karunia Allah SWT. Tidak seorang pun boleh merasa telah pasti mendapatkannya hanya karena merasa telah melakukan sejumlah amal. Sebab, segala sesuatu berada di bawah kehendak dan izin Allah SWT.
Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin: membenahi diri, meninggalkan dosa, memperbanyak amal saleh, menjaga tauhid, memperbanyak shalawat, mencintai Rasulullah SAW, serta menghadirkan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan taufik-Nya kepada kita. Semoga Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengikuti sunnah Rasulullah SAW dengan cinta dan ketulusan, mempertemukan kita dengan beliau di akhirat, serta menganugerahkan kepada kita syafaat Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam bish-shawab.
Muhammad Rosyidi, alumni Ma’had Aly Situbondo dan pengajar di Pondok Pesantren Assholihiyah Santong, Terara, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.








