BincangSyariah.Com– Baru-baru ini publik dikagetkan dengan seorang Pria bernama Natrom, yang berasal dari Lebak, Banten. Pasalnya ia mengaku sebagai dewa matahari. Lebih jauh lagi, Natrom mensederajatkan Allah dengan setan. Jika benar adanya, maka sungguh ia telah menista agama dan Tuhan umat beragama.
Namun, Natrom, juga melakukan analogi yang kacau balau. Sebab Allah dibandingkan dengan setan, padahal setan ini makhluk. Sedang Allah adalah Khaliq (pencipta makhluk), maka tidak masuk akal jika yang diciptakan ini sejajar atau sederajat dengan yang menciptakan.
Umat manapun tentunya akan marah, jika tuhannya disejajarkan dengan setan. Sebab setan ini memiliki konotasi negatif, sedang tuhan tidak lah demikian. (Baca: Sesat yang Menyesatkan)
Apalagi ia dengan jelas mention Allah, yang mana ia adalah tuhannya mayoritas masyarakat Indonesia. Sungguh sangat disayangkan, kejadian seperti ini harus disikapi dengan tegas dan bijak. Agar supaya ada efek jera, sehingga tidak lagi ada lagi kejadian semacamnya. Aparat penegak hukum seyogyanya cepat bertindak, sebelum umat sendiri yang menyidak.
Pernyataan ini agaknya tidak mungkin terlintas di dalam benak, sebab Tuhan dibandingkan dengan makhluk lain. Jika bukan karena Natrom viral, tentunya kita tidak akan pernah berfikiran sepertinya. Sungguh sangat menggelitik, bisa-bisanya Allah disamakan dengan setan. Padahal semua yang ia miliki, datangnya dari Allah semua.
Tidak ada sedikit pun yang dari setan, entah bagaimana pola pikirnya ia, sampai-sampai mensederajatkan Allah dengan setan. Tentunya Allah tidak sederajat dengan setan, ditinjau dari sisi mana pun tidak bisa disejajarkan. Bahkan setan pun tidak sederajat dengan muslim, semoga Allah memberinya hidayah, dan menjadikannya muslim yang taat.
Adapun klaimnya ia sebagai dewa matahari, tentunya ini sangat mengada-ada. Jika yang dimaksudkan sebagai dewa matahari adalah bahwa ia yang menciptakan matahari, tentunya ini mustahil.
Sebab pria asal Bekasi yang bernama Natrom ini baru hidup sejak 62 tahun lalu, sedang Matahari sudah ada sedari dulu. Sudah pasti ini klaim yang sangat tidak berdasar, nurani manusia pasti menolaknya. Atau jika yang ia maksudkan sebagai dewa matahari ialah bahwa ia yang mengendalikannya, maka perlu diuji.
Apakah ia mampu menerbitkan matahari dari sisi barat, atau sebaliknya. Dua interpretasi ini sangat tidak bisa dinalar, sebab tidak mungkin ia bisa mengendalikannya. Tidak logis juga jika ia bisa mengendalikannya, bahkan mustahil.
Menurut salah satu kepercayaan, Dewa matahari merupakan tuhan mereka. Maka secara tidak langsung pria ini juga mengaku tuhan, tambah tidak bisa diterima lagi. Bagaimana mungkin tuhan datangnya belakangan, jika ia tuhan, lalu tuhannya nenek moyangnya itu siapa?
Harus ada upaya untuk menghentikan sosok macam ini, bisa ditempuh dengan klarifikasi atau diskusi. Agar supaya ia sadar atas perbuatannya, sehingga bisa diupayakan agar ia insaf.
Sudah maklum, bahwa kita harus menyembah Allah Swt. Sang Pencipta seluruh jagad, yang tidak sama seperti manusia. Di berbagai kalamnya, Allah memerintahkan ini berkali-kali. Antara lain di surat al-Nisa’ ayat 36, Allah berfirman
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,” (Q.S. An-Nisa’ : 36)
Ayat ini secara tegas dan lugas memerintahkan kita untuk menyembahnya dan tidak menyekutukannya, mari kita sampaikan padanya perintah beriman ini. Barangkali belum sampai di telinganya, agar supaya ia bisa merasakan nikmatnya memiliki tuhan yang adidaya.
Agaknya, pria ini perlu mendapatkan konseling. Jika memang ia mempunyai gangguan mental, maka ia harus diterapi. Namun jika ia memang bersikukuh mengaku tuhan, ia harus diajak diskusi. Sebab tidaklah nyaman fikiran kita, jika kita menganggap ia sebagai tuhan.
Masak tuhan datangnya belakangan, dan ia tidak bisa berbuat apa pun pada kita. Alangkah patutnya kita bersyukur, sebab kita diberi nikmatnya iman kepada tuhan yang maha kuasa. Sebagai umat islam, kita harus mensyukurinya dengan menjalankan perintahnya, dan menjauhi larangannya.
Dihimbau kepada masyarakat, agar supaya tidak terpengaruh dengan pria ini. Sudah cukuplah kita fokus dengan Ibadah pada Allah Swt, mari terus memperkuat keimanan kita. Semoga kita semua diberi nikmat husnul khatimah, dan bisa bersua dengan kehadirat Allah Swt. Amin ya rabb.
(Baca: Viral Ajaran Dewa Matahari, Bagaimana Pandangan Syariah?)









… [Trackback]
[…] Information on that Topic: bincangsyariah.com/uncategorized/nahas-natrom-si-dewa-matahari-menyamakan-allah-sederajat-dengan-setan/ […]
… [Trackback]
[…] Find More Information here on that Topic: bincangsyariah.com/uncategorized/nahas-natrom-si-dewa-matahari-menyamakan-allah-sederajat-dengan-setan/ […]
… [Trackback]
[…] Here you can find 17826 additional Information on that Topic: bincangsyariah.com/uncategorized/nahas-natrom-si-dewa-matahari-menyamakan-allah-sederajat-dengan-setan/ […]
… [Trackback]
[…] Here you can find 27314 additional Info on that Topic: bincangsyariah.com/uncategorized/nahas-natrom-si-dewa-matahari-menyamakan-allah-sederajat-dengan-setan/ […]