7 Hadiah Allah bagi Ahli Tahajud dalam Al-Qur’an

0
14
7 Hadiah Allah bagi Ahli Tahajud dalam Al-Qur'an
7 Hadiah Allah bagi Ahli Tahajud dalam Al-Qur'an

BincangSyariah.Com– Setiap pengorbanan pasti memiliki balasan. Semakin besar pengorbanannya, semakin besar pula penghargaan yang disediakan Allah. Ahli tahajud adalah salah satunya. Meninggalkan hangatnya tempat tidur demi berdiri menghadap Allah tentu bukan perkara ringan.

Karena itu, Allah tidak membiarkan setiap tetes kantuk, setiap langkah menuju tempat wudu, dan setiap sujud di keheningan malam berlalu tanpa ganjaran.

Al-Qur’an menyebutkan beberapa keutamaan yang Allah siapkan bagi orang-orang yang menghidupkan malamnya dengan shalat tahajud.

Pertama, Allah menyediakan kenikmatan yang tidak pernah terlintas dalam bayangan manusia.

Allah Swt. berfirman,

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ۝ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, dan mereka selalu berdoa kepada Tuhannya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang disembunyikan untuk mereka sebagai penyejuk mata, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. as-Sajdah [32]: 16–17).

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan ahli tahajud. Allah tidak mengatakan mereka tidak memiliki rasa kantuk. Tidak pula disebutkan bahwa mereka tidak membutuhkan istirahat.

Yang Allah gambarkan justru perjuangan mereka untuk menjauhkan lambung dari pembaringan. Ada rasa berat yang harus dilawan. Ada kenyamanan yang harus dikalahkan.

Namun, perjuangan itu dibalas dengan sesuatu yang luar biasa. Allah merahasiakan sendiri hadiah bagi mereka. Bahkan Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang sangat indah, “tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui” kenikmatan yang disediakan bagi mereka.

Artinya, kenikmatan itu melampaui seluruh imajinasi manusia. Jika hadiah dunia dapat digambarkan dengan kata-kata, maka hadiah bagi ahli tahajud justru tidak sanggup dijelaskan oleh bahasa manusia.

Kedua, Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang bertakwa.

Allah Swt. Berfirman;

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ۝ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ ۝ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Artinya; “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air, sambil menerima segala pemberian Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. adz-Dzāriyāt [51]: 15–18).

Ayat ini memperlihatkan bahwa tahajud bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan salah satu ciri orang bertakwa. Menariknya, Allah tidak menyebut mereka sebagai orang yang tidak pernah tidur. Sebaliknya, Al-Qur’an mengatakan bahwa mereka sedikit tidur pada malam hari.

Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan hingga mengabaikan kebutuhan tubuh. Yang diajarkan adalah keseimbangan: tubuh memperoleh haknya untuk beristirahat, sementara ruh memperoleh haknya untuk bermunajat kepada Allah.

Lebih dari itu, ayat tersebut mengabadikan satu kebiasaan mulia para penghuni surga, yaitu memperbanyak istigfar menjelang fajar. Seolah-olah semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa dirinya penuh kekurangan. Orang yang benar-benar saleh bukanlah orang yang merasa paling suci, tetapi justru yang paling banyak memohon ampunan.

Ketiga, Allah menjanjikan kedudukan yang mulia.

Janji itu ditegaskan kembali dalam firman-Nya;

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya; “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isrā’ [17]: 79).

Kedudukan yang terpuji bukan hanya kemuliaan di akhirat. Dalam banyak kesempatan, Allah juga menanamkan wibawa kepada hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya.

Tidak sedikit orang yang dicintai masyarakat bukan karena kekayaan ataupun jabatan, melainkan karena akhlaknya, ketulusannya, dan kedekatannya kepada Allah. Boleh jadi, salah satu rahasia kewibawaan itu lahir dari panjangnya sujud mereka pada saat manusia lain masih tertidur.

Karena itu, jangan pernah menganggap tahajud sebagai beban. Ia adalah undangan istimewa dari Allah. Tidak semua orang memperoleh taufik untuk bangun pada sepertiga malam.

Banyak yang memiliki alarm, tetapi tidak memiliki kemauan. Banyak yang memiliki waktu, tetapi tidak memiliki kerinduan. Sebaliknya, orang yang dipanggil Allah untuk berdiri di hadapan-Nya pada keheningan malam sesungguhnya sedang memperoleh karunia yang tidak ternilai.

Mungkin kita belum mampu mengerjakan sebelas rakaat sebagaimana Rasulullah saw. Mungkin kita juga belum mampu melaksanakannya setiap malam. Namun, bukankah dua rakaat yang dikerjakan dengan ikhlas jauh lebih berarti daripada niat besar yang terus-menerus tertunda?

Malam akan selalu datang setiap hari. Pertanyaannya bukan apakah malam itu ada, melainkan apakah ketika malam itu tiba, kita memilih kembali memeluk bantal atau memenuhi panggilan Allah. Wallāhu a‘lam.

Artikel SebelumnyaRahasia Shalat Tahajud: Mengapa Allah Sangat Menganjurkannya?
Artikel SelanjutnyaTelaah Kritis Ihya’ Ulumuddin tentang Penyakit Spiritual Manusia 
Admin
Media Islam pengusung misi Islam Kerahmatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini