BincangSyariah.Com– Gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Rasulullah adalah sosok manusia biasa seperti kita, namun diberi wahyu oleh Allah untuk menjadi pembawa risalah-Nya. Meskipun memiliki kedudukan mulia sebagai nabi terakhir, tetap tidak menghilangkan kenyataan bahwa Nabi Muhammad memiliki sifat-sifat manusiawi, seperti makan, minum, tidur, dan merasa lelah.
Dari sekian banyak ayat yang menyebutkan Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, terdapat satu ayat yang menjelaskan tentang begitu kasihnya Nabi Muhammad Saw. terhadap umatnya, dan ayat ini adalah rangkaian ayat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad Saw.
Allah Swt. berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 128, tentang gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an:
لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 128).
“Sungguh telah datang kepadamu Rasul”. Mengapa dikatakan datang atau telah datang? Kata Prof Quraish Shihab, satu hal yang perlu kita sadari, bahwa jangan pernah menunggu, Anda harus aktif dan menjemput bola. Dalam hal ini bukan hanya da’i yang harus mendatangi mereka yang membutuhkan dakwah, melainkan semua dalam aneka kegiatan Anda harus aktif dan datang.
Di sinilah Allah Swt. mengukuhkan bahwa “Dia telah datang kepadamu”. Dia tidak menunggu kamu datang, tetapi beliau Nabi Muhammad Saw. datang. Itu sebabnya, Kata Prof Quraish, salah satu ayat yang ditekankan oleh al-Qur’an adalah kita hendaknya berbisnis dengan Allah Swt.
Ada sekian banyak istilah-istilah bisnis yang digunakan oleh al-Qur’an dalam konteks hubungan dengan Tuhan. Allah Swt. berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 111:
اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah [9]: 111).
Tentu saja kalau kita berkata jiwa bukan hanya yang menghidupkan kita, melainkan seluruh totalitas kita, waktu, tempat, pengetahuan dan sebagainya. Dengan demikian, menjadi tahu bahwa orang yang ingin berbisnis tidak boleh menunggu di rumah, melainkan, sekali lagi, ia harus datang dan menjemput bola. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw., dan ini kata tergambar pada ayat pertama Surat At-Taubah.
Isyarat Nabi akan pergi
Jika ditelisik lebih jauh, bahwa “Jaa akum” itu kata kerja (past tense). Dan sebenarnya ada isyarat yang ingin dinyatakan dari kata “Jaa akum” yang semua kita harus menyadarinya. Ayat ini oleh sementara ulama dinyatakan sebagai ayat terakhir yang datang kepada Nabi Muhammad Saw. Namun ada juga ayat yang populer dalam Surat Al-Maidah ayat 3. Allah Swt. berfirman:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا ۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍ ۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3).
Akan tetapi bukan ayat ini (Al-Maidah) kata Quraish Shihab, karena ini ayat terakhir dalam kesempurnaan agama. Kalau memang ini ayat terakhir, maka dari kata-kata “Jaa akum” ada sebuah isyarat. Karena beliau telah datang, maka setiap ada yang datang maka pasti akan kembali. Kata ulama, ini isyarat bahwa usia Nabi sebentar lagi akan berakhir.
Kesadaran tentang kembalinya manusia kepada Tuhan itu diperlukan setiap saat. Karena inilah yang menjadi perisai kita untuk mendekat kepada-Nya dan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran.
Syahdan. Beliau yang datang itu adalah rasul. Tentunya kalau kita berkata rasul maka otomatis ia adalah utusan, dan utusan membawa misi; apa yang disampaikannya adalah risalah dan pesan yang mengutusnya. Dengan kata lain sesuatu itu bukan datang dari diri rasul, karena rasul adalah utusan Allah Swt.
Karena itu, tak heran jika dikatakan bahwa budi pekerti rasul adalah al-Qur’an. Semua yang dilakukan rasul, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam kegiatan fisik atau psikis, dalam berumah atau di luar rumah itu semua tuntunan Allah Swt. Mengenai akhlak Nabi Saw, Siti Aisyah. Ra menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Artinya: “Akhlak beliau (Nabi) adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an.”
Dalam al-Qur’an juga dinyatakan:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).
Baru dikatakan “Min anfusikum”. Dari dirimu wahai umat manusia. Mengapa demikian? Rupanya masyarakat pada masa rasul ada yang berkata “Kenapa Tuhan tidak mengutus malaikat saja?” Tuhan menjawab “Kalau kami mengutus malaikat kamu pasti menampilkannya dalam bentu manusia.”
Karena manusia tidak bisa melihat malaikat. Karena itu, “Kamu mengutus rasul yang merupakan manusia seperti kamu, sehingga apa yang dilaksakannya sebagai manusia kamu dapat juga melaksanakannya. Tuntunannya sesuai dengan kemanusiaan manusia, bukan untuk malaikat. Untuk manusia yang hidup dan bukan manusia yang mati.”
Jika demikian, rasul yang datang ini (yang datang dari manusia seperti kita) pasti memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Beliau juga marah, senang, tertawa, bercanda, kawin dan lainnya. Karena beliau adalah manusia.
Kata Quraish Shihab, di sini sengaja “agaknya” dipilih kata “Anfus” untuk menggambarkan bahwa detak-detik jantung nabi menggambarkan bahwa isi hati nabi sangat dalam mencintai kemanusiaan. Karena itu, agama ini adalah agama yang ditujukan untuk seluruh manusia. Dan keberagamaan yang diajarkan oleh agama ini adalah juga ditujukan untuk manusia, sehingga keberagamaan berada setelah kemanusiaan.
Tentang keberagamaan. Misalnya berwudhu adalah ajaran agama. Dengan berwudhu’ kita melakukan keberagamaan. Seandaikanya Anda mempunyai air cukup untuk wudhu’, tetapi ada anjing yang kehausan dan membutuhkan air itu, karena agama mendahulukan kemanusiaan atas keberagamaan, maka Anda diharuskan memberi minum anjing itu, dan tidak perlu wudhu’ dengan air yang tersedia. Demikian seterusnya. Inilah makna yang bisa ditarik dari “Anfusikum”.
Rasulullah adalah manusia biasa
Dalam hal ini sudah jelas bahwa Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an adalah manusia, seperti kita. Akan tetapi Allah Swt. memerintahkan Rasul menyatakan hal tersebut dengan berkata seperti yang dinyatakan Surat Al-Kahf ayat 110, Allah Swt. berfirman:
قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf [18]: 110).
Tuntunan wahyu inilah yang membentuk kepribadian rasul, dan tuntunan wahyu itulah yang dijelaskan oleh rasul dengan ucapan, perbuatan, bahkan dengan sikap diamnya. Itulah risalah.
Surat At-Taubah dimulai berbeda dengan surat-surat yang lain, dalam hal ini tanpa basmalah. Ia dimulai dengan pernyataan Tuhan bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Ia berbicara tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh sahabat-sahabat Rasulullah. Ia berbicara tentang perang uhud, di mana gugur 70 orang sahabat Nabi. Bagaimana sikap rasul terhadap hal-hal tersebut?
Yang jelas, rasul sangat berat memikulnya, akan tetapi hal ini harus dilakukan karena ini bagian dari resiko hidup dan perjuangan untuk melawan ketinggian. Selain itu, hal demikian adalah bentuk didikan Allah Swt. kepada Rasul-Nya. Bahkan, sampai-sampai rasul dan orang-orang mukmin karena lamanya dan beratnya ujian ia berkata “Kapan kemenangan dan bantuan akan datang dari Allah Swt?” Allah menjawab “Sebentar lagi.”
Setelahnya dikatakan “Raufun rahim”. Bahwa setiap kegiatan hendaknya dimulai dengan membaca bismillahirrahmanirrahim. Ingat rahmat Allah. Rahmat Allah dilukiskan oleh basmalah, atau Allah itu disifati oleh basmalah dengan dua sifat yaitu: Rahman dan Rahim. Sebuah hadits mengatakan:
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ
Artinya: “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillah’, maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahannya.” (HR Al-Khatib).
Rahman adalah pelimpah rahmat di dunia ini untuk semua makhluk, sementara Rahim adalah pelimpah rahmat kekal di akhirat nanti. Itu sebabnya, kalau Anda membaca basmalah, maka Anda diminta untuk mengingat bahwa Allah mencurahkan rahmat untuk semua makhluk.
Itulah yang dimaksud dengan rahmatan lil alamin. Bukan hanya manusia yang muslim, tetapi semua manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bahkan rahmat kepada makhluk yang tak bernyawa.
Dengan demikian, gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, ini bertujuan untuk menegaskan bahwa beliau adalah contoh teladan dalam menjalani kehidupan sebagai manusia biasa, yang bisa dijadikan panutan oleh umatnya dalam berbagai aspek kehidupan.Wallahu a’lam bisshawab.









[…] Nabi Muhammad Saw adalah mitra kerja Khadijah. Tugas beliau adalah menjajakan barang dagangan milik Khadijah ke beberapa negeri di luar Makkah dengan membagi keuntungan menjadi dua. Muhammad adalah seorang pemuda dengan reputasi yang baik. Beliau dihormati orang lantaran kejujurannya sehingga mendapatkan gelar al-Amin (terpercaya). Selain itu, Muhammad muda juga mempunyai wajah yang tampan sehingga banyak perempuan kepincut dengannya. […]
… [Trackback]
[…] There you will find 27442 additional Information to that Topic: bincangsyariah.com/khazanah/sejarah-islam/gambaran-nabi-muhammad-dalam-al-quran-sosok-manusia-biasa/ […]