Imam al-Bukhari dan Kedekatannya dengan Bangsa Indonesia

2
2427

BincangSyariah.Com – 1 Syawal adalah hari yang sangat bersejarah. Bukan hanya karena hari ini adalah hari raya umat muslim, tapi juga hari wafatnya Imam al-Bukhari, tepatnya 1 Syawal 256 H atau 1 September 870 M. Tidak asing di telinga kita kata Bukhari. Atas kehebatan sosok Imam Bukhari sebagian orang tua menamai anaknya dengan Bukhari. Berharap mendapat berkah dari nama beliau.

Mengapa beliau begitu istimewa bagi kita? Untuk menjawab ini mari kita sejenak merenungkan sejarah kehidupan beliau.

Imam Bukhari lahir dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Ia lahir di Bukhara, Uzbekistan, tahun 194 H atau 19 Juli  810 M.

Imam Bukhari dikenal sebagai ahli hadis yang gigih dan teliti dalam menyeleksi hadis. Itu mengapa kitab Shahih Bukhari dinobatkan sebagai kitab terotentik kedua setelah Alquran. Shahih Bukhari berjudul lengkap Al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah Sa Sunanihi wa Ayyamihi.

Buku ini ditulis dengan usaha yang gigih. Kitab yang ditulis selama 16 tahun ini terdiri dari 97 bab. Mencakup 9.082 hadis dengan sanad dan tanpa sanad. Diceritakan bahwa untuk mendapatkan sebuah hadis imam Bukhari harus melakukan perjalanan yang cukup panjang, melewati siang dan malam di jalan dengan bekal seadanya. Bahkan pernah diceritakan beliau berangkat hanya dengan membawa makanan cukup satu hari.

Ketelitian beliau dalam menyeleksi sebuah hadis tidak hanya dari aspek ilmiah, tapi juga aspek spiritual. Pertimbangan ilmiah dengan melihat kualitas rawi dan kaidah-kaidah ilmu hadis tidak cukup bagi Imam Bukhari. Untuk menuliskan hadis beliau mendahului dengan salat sunah dua rakaat.

Walau demikian, Shahih Bukhari di masanya tidak dikenal luas sebagaimana saat ini. Karya besar ini baru terkenal pada abad keempat. Sekitar 200an tahun setelah Imam Bukhari wafat.

Baca Juga :  Jasa Imam Romahurmuzi dalam Kajian Islam

Sebagian orang menganggap bahwa Shahih Bukhari adalah kitab hukum. Terlihat dari judul-judul yang diletakkan Imam Bukhari dalam setiap hadis-hadis yang beliau cantumkan. Walau penulis melihat bahwa tidak cukup mengatakan judul bab adalah pandangan hukum. Pandangan hukum lebih kompleks daripada itu. Sehingga tidak bisa mengamalkan hadis hanya melihat pada teksnya. Tapi harus menggunakan metodologi yang benar. Seperti ilmu ushul fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadis dan lain sebagainya.

Yang menarik dari kisah beliau adalah setelah kitabnya terkenal lama, tidak banyak orang tahu di manakah makam beliau. Orang hanya tahu di daerah Bukhara. Makam beliau tidak banyak dikunjungi. Berbeda dengan makam para ulama dan wali di Indonesia.

Konon diceritakan, walau berita ini perlu dikonfirmasi kebenarannya, makam Imam Bukhari mengalami pemugaran dan banyak dikunjungi berkat Presiden Soekarno. Sewaktu itu Soekarno diundang oleh pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev berkunjung ke negaranya. Soekarno memberikan syarat untuk mencari dan membangun makam Imam Bukhari.

Setelah syarat tersebut terpenuhi barulah Soekarno datang menjawab undangan tersebut. Sewaktu kunjungan Bung Karno ke sana, beliau berziarah ke makam Imam Bukhari yang telah direnovasi.

Berkat diplomasi Presiden Soekarno, kini makam Imam Bukhari terawat dan dikunjungi oleh banyak umat muslim. Itulah mengapa Imam al-Bukhari begitu istimewa bagi kita masyarakat Indonesia.

Akhirnya, kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk menghasilkan suatu hal besar harus penuh kesungguhan, ketelitian dan keikhlasan. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas. Perbuatan baik Imam Bukhari meninggalkan bekas yang baik pula buat kita. Mari meninggalkan bekas yang baik untuk anak cucu kita.

Wallahu a’lam.

2 KOMENTAR

  1. Masih ada tulisan yang salah. Mungkin efek kelelahan karena puasa hingga redaksi jadi ada yang bermasalah. Komentar ini ditujukan kepada redaktur redaksi. Karena yang mempunyai hak mengoreksi dan mengubah redaksi adalah redaktur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here