Hikayat Muhammad Hanafiyyah dalam Sastra Islam Nusantara

0
1823

BincangSyariah.Com – Sastra Islam di Nusantara berkembang pesat pada abad ke-15, dengan ditandai telah diislamkannya beberapa wilayah Nusantara di Sumatera dan Semenanjung Malaka. Menjelang awal abad ke-17, pesisir kepulauan tersebut hampir semuanya diislamkan. Hal ini tentu sangat mempengaruhi terhadap berkembangnya karya sastra Islam di Nusantara yang berupa prosa dan puisi.

Dalam tradisi sastra tulis, prosa jauh berkembang lebih dulu daripada puisi. Menurut Braginsky, Hamzah Fansuri merupakan pelopor puisi Melayu klasik tertulis. Fansur merupakan nama daerah yang juga dikenal dengan Barus. Saat ini, daerah tersebut masuk wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Di daerah inilah, sastrawan besar Melayu, Hamzah Fansuri lahir pada sekitar paruh kedua abad ke-16.

Sementara itu, prosa yang bergenre hikayat tertulis sudah ada semenjak akhir abad ke-14. Hal itu dibuktikan dengan ditulisnya Hikayat Muhammad Hanafiah. Bahkan Braginsky berasumsi bahwa Hikayat Muhammad Hanafiah ini mempengaruhi karya lain yang bergenre hikayat dalam Sastra Melayu Islam.

Hikayat ini menceritakan tentang Muhammad Hanafiah, anak Ali dari istrinya yang bernama Khaulah, yang berasal dari suku Bani Hanifah. Ibnu Hajar al-Asqalani mencantumkan nama Khaulah dalam al-Ishabah fi Tamyîz al-Shahabah. Artinya, Ibnu Hajar menganggap bahwa Khaulah termasuk dalam kategori sahabat Nabi. Salah satu riwayat yang diredaksikan Ibnu Hajar menyampaikan bahwa Nabi Saw. pernah melihat Khaulah di rumahnya. Bahkan Nabi Saw. sempat memberi isyarat kepada Ali bahwa dirinya akan menikahi Khaulah.

Selain itu, Nabi Saw. juga meminta kepada Ali untuk memberikan nama anaknya sesuai dengan nama dan kunyah Nabi Saw. Riwayat inilah yang dijadikan landasan penganut Syiah bahwa Khaulah itu bukanlah seorang tawanan perang yang diperbudak umat Islam. Jauh-jauh hari semenjak masih ada Nabi, Khaulah sudah menganut Islam. Setelah Fatimah wafat, barulah Ali menikahi Khaulah dan dikaruniai anak bernama Muhammad. Namun demikian, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sanad cerita tersebut daif. Sayangnya, Ibnu Hajar tidak memberikan komentar tambahan bagaimana cerita yang sahih menurutnya.

Baca Juga :  Lima Syarat agar Hadis Bisa Dikatakan Sahih

Terlepas dari perbedaan riwayat mengenai sosok Khaulah, para sejarawan seapakat bahwa Khaulah merupakan istri Ali bin Abi Thalib yang dikaruniai anak bernama Muhammad. Namun demikian, nisbat Muhammad kepada klan Hanifah lebih dikenal daripada nisbatnya kepada Ali. Karena itu, klan Hanafiah melekat erat setelah namanya, Muhammad Hanafiah. Di awal hikayat ini, terdapat kisah singkat Nabi Muhammad Saw. dan empat khalifah setelahnya, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Sebagaimana umumnya sejarah peradaban Islam, hikayat tersebut juga menampilkan konflik-konflik yang terjadi sejak Utsman diangkat menjadi khalifah hingga terjadinya peristiwa Karbala. Muhammad Hanafiah hadir dalam hikayat ini diilustrasikan sebagai seorang pemberani yang membalas perlakuan Yazid kepada dua saudara tirinya, Hasan dan Husein. Bila ditinjau dari transmisi sanad, hikayat Muhammad Hanafiah mengandung fakta dan kisah fiktif yang dibuat oleh penulisnya.

Sementara itu, Brakel menggunakan edisi teks dalam studi filologisnya untuk menyunting beberapa teks yang digunakannya sebagai penelitian. Manuskrip berbahasa Melayu tentang Muhammad Hanafiah yang ditemukannya tidak kurang dari 30 buah manuskrip. Brakel menyebutkan beberapa nama peneliti yang mengkaji naskah Melayu, khususnya yang berkaitan dengan kisah Muhammad Hanafiah. Mereka adalah Isaac de St. Martin, Valentyn, Pijnappel, Van Ronkel, dan lain sebagainya. Dari hasil investigasinya, Brakel menyimpulkan empat hal penting terkait sumber yang digunakan dalam penyuntingan filologisnya.

Pertama, Hikayat Muhammad Hanafiyyah atau yang disingkat oleh Brakel dengan H.M.H merupakan salah satu sumber yang digunakan dalam mengadaptasi Sejarah Melayu. Di antara bukti adaptasi tersebut adalah banyaknya idiom Melayu yang digunakan dalam Sejarah Melayu yang sama persis seperti H.M.H. Selain itu, klise yang digunakan dalam Sejarah Melayu juga mirip seperti yang ada dalam H.M.H. Apalagi, Sejarah Melayu menceritakan sosok  Wan Seri Benian yang merupakan sosok Syahrbanun dalam H.M.H.

Baca Juga :  Peringatan Haul Pahlawan Nasional K.H. Abdul Wahab Chasbullah ke-48 di Jakarta

Kedua, bab ke-23 dalam Sejarah Melayu menjelaskan bahwa pada tahun 1511, ketika Portugis menjajah Kerajaan Malaka, ada riwayat yang menceritakan percakapan antara raja Malaka dan beberapa pejabatnya yang membicarakan buku yang harus dibaca oleh mereka. Buku tersebut adalah kisah tentang perjuangan Muhammad Hanafiah. Setelah membaca buku ini, diharapkan mereka termotivasi dan lebih berani melawan Portugis.

Ketiga, makna kata hikayat ini sesuai dengan pribahasa yang terdapat dalam awal hikayat tersebut. Pribahasa itu adalah ‘supaya kita beroleh paedah’. Hikayat yang berarti diceritakan atau dibacakan mengandung makna magis. Konon, bila hikayat dibaca atau diceritakan kepada orang lain di malam hari maka akan menimbulkan rasa semangat yang luar biasa bagi para pejuang pada waktu itu. Inilah relasi antara kata hikayat dan pribahasa tersebut.

Keempat, Hikayat Amir Hamzah juga termasuk dalam pembahasan dalam Sejarah Melayu. Amir Hamzah yang dimaksud dalam hikayat itu adalah paman Nabi Muhammad Saw. yang tewas terbunuh pada saat perang Uhud. Hikayat Amir Hamzah dan H.M.H merupakan dua sumber bacaan yang dijadikan rujukan untuk memotivasi para pejuang waktu itu untuk melawan penjajah. Hanya saja, membaca H.M.H lebih commendable, dibanggakan, daripada Hikayat Amir Hamzah. Ketiga puluh manuskrip yang didapatkan oleh Brakel masing-masing ada yang berupa terjemahan atau adaptasi dari bahasa Persia dan ada yang murni variasi dan inovasi dari bahasa Melayu. Artinya, Brakel meyakini bahwa H.M.H yang disuntingnya tidak sepenuhnya hasil salinan dari bahasa Persia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here