Kondisi-kondisi yang Boleh Membatalkan Salat

1
1711

BincangSyariah.Com – Ulama sepakat bahwa ketika kita sudah memulai melaksanakan salat wajib, maka kita harus menuntaskan salat tersebut hingga selesai. Kita tidak diperbolehkan membatalkan salat wajib tanpa adanya uzur yang dibenarkan secara syar’i. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Alquran surah Muhammad ayat 33;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu.”

Namun demikian, jika ada uzur yang dibenarkan secara syar’i, maka kita dibolehkan untuk membatalkan salat wajib. Bahkan dalam kondisi tertentu, kita wajib membatalkan salat tersebut. Berikut beberapa kondisi yang membolehkan membatalkan salat wajib.

Pertama, khawatir terhadap keselamatan diri sendiri. Apabila keselamatan kita terancam jika melanjutkan salat, maka kita diperbolehkan membatalkan salat tersebut dalam rangka untuk menyelematkan diri kita. Misalnya karena ada gempa bumi atau lainnya yang bisa membahayakan diri kita.

Kedua, untuk menyelematkan orang lain. Sebagaimana menyelamatkan diri sendiri, menyelematkan orang lain juga termasuk kondisi yang membolehkan untuk membatalkan salat. Bahkan menurut Imam Izzuddin bin Abdissalam, menyelematkan diri sendiri atau orang lain lebih utama dibanding melanjutkan salat. Misalnya, pada saat salat kita melihat anak kecil yang mengambil pisau yang bisa membahayakan anak kecil tersebut, maka kita boleh membatalkan salat guna menyelematkan anak kecil tersebut.

Ketiga, khawatir terhadap keselamatan harta berharga. Misalnya, pada saat kita melaksanakan salat tiba-tiba hp kita hendak diambil pencuri, maka kita boleh membatalkan salat dan menyelamatkan hp tersebut dari tangan pencuri.

Dalam kitab Almausu’ah Alkuwaitiyah disebutkan sebagai berikut;

أَمَّا قَطْعُهَا بِمُسَوِّغٍ شَرْعِيٍّ فَمَشْرُوعٌ ، فَتُقْطَعُ الصَّلاَةُ لِقَتْل حَيَّةٍ وَنَحْوِهَا لِلأْمْرِ بِقَتْلِهَا ، وَخَوْفِ ضَيَاعِ مَالٍ لَهُ قِيمَةٌ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ ، وَلإِغَاثَةِ مَلْهُوفٍ ، وَتَنْبِيهِ غَافِلٍ أَوْ نَائِمٍ قَصَدَتْ إِلَيْهِ نَحْوَ حَيَّةٍ ، وَلاَ يُمْكِنُ تَنْبِيهُهُ بِتَسْبِيحٍ

Baca Juga :  Tiga Hal Dimakruhkan Sebelum Hewan Kurban Disembelih

“Adapun memutus salat wajib karena adanya kondisi yang menuntut, maka hal tersebut disyariatkan. Karena itu, salat diputus untuk membunuh ular atau sejenisnya karena adanya perintah untuk membunuhnya, dan khawatir terhadap harta berharga baik milik sendiri atau orang lain, membantu orang yang sedang dalam bahaya, mengingatkan orang yang tidak sadar atau tidur yang hendak digigit ular atau sejenisnya dan tidak mungkin diingatkan dengan bacaan tasbih.”

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here