Khutbah Jumat; Tata Cara Rasulullah dalam Mendidik Anak

3
637
Khutbah Jumat; Tata Cara Rasulullah dalam Mendidik Anak
Khutbah Jumat; Tata Cara Rasulullah dalam Mendidik Anak

BincangSyariah.Com– Teks khutbah Jumat berikut mengajak kepada para jamaah untuk kembali meneladani Rasulullah dalam semua hal, termasuk dalam mendidik anak-anak. Nabi adalah potret ideal dalam mendidik seorang anak. Khutbah Jumat ini dengan judul, “Khutbah Jumat; Tata Cara Rasulullah dalam Mendidik Anak”.

Khutbah Jumat I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْوِفَاقِ، وَرَفَعَ قَدْرَ أَصْفِيَائِهِ فِيْ الْأَفَاقِ، وَطَيَّبَ أَسْرَارَ الْقَاصِدِيْنَ بِطِيْبِ ثَنَائِهِ فِيْ الدِّيْنِ وَفَاقَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً صَفَا مَوْرِدُهَا وَرَاقَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفَ الْخَلْقِ عَلَى الْاِطْلَاقِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat yang dirahmati Allah!

Pada Khutbah Jumat ini kita mengajak mengucapkan segala puji bagi Allah, yang telah memberikan hidayah dan inayah untuk terus istiqamah dalam melaksanakan shalat Jumat ini. Shalawat dan salam semoga terus mengalir kepada junjungan kita, Nabi Muhammad yang telah mengorbankan segala waktunya untuk menyebarkan Islam dengan penuh kasih sayang, sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Semoga kita bisa bersamanya kelak di hari kiamat, amin.

Selanjutnya, khatib khutbah Jumat berwasiat kepada diri khatib sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, dengan memperbanyak ibadah dan kebajikan, serta menjauhi semua larangan-Nya. Sebab, tidak ada bekal yang lebih baik untuk dibawa menuju akhirat selain ketakwaan.

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat yang dirahmati Allah!

Satu-satunya cara untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah adalah dengan meneladani semua yang dilakukan oleh nabi dalam hidupnya; mulai dari ibadah, sosial, hingga tata cara nabi dalam mendidik anak-anak.

Nabi adalah potret ideal untuk dijadikan teladan dalam segala hal, sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, yaitu:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat yang dirahmati Allah!

Rasulullah selain sukses dalam dakwahnya menyebarkan Islam, beliau juga sukses dalam mendidik anak-anak pada masa itu. Salah satu cara nabi dalam mendidik anak adalah dengan memperlihatkan contoh dan teladan yang baik kepada mereka, ia juga tidak pernah melakukan kekerasan kepada mereka.

Cara inilah yang menjadikan nabi sukses dalam memberikan didikan dan teladan kepada mereka, sehingga bisa menciptakan kader-kader yang bertakwa dan berilmu, taat dalam melaksanakan kewajiban dan tanggungjawab.

Berkaitan dengan hal ini, sahabat Anas bin Malik merupakan hadiah dari ibunya ketika beliau datang ke Madinah. Saat itu, semua orang-orang di Madinah memberikan hadiah kepada nabi, hanya saja satu wanita ini (ibu sahabat Anas) tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada nabi, kecuali anaknya (Anas) tersebut. Selanjutnya mempersilahkan nabi untuk membawanya kemanapun yang nabi kehendaki.

Setelah beberapa tahun bersama nabi, Anas bin Malik bercerita tentang didikan yang nabi ajarkan kepadanya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ithaful Hiyarah, halaman juz I, halaman 322. Anas berkata:

خَدَمْتُ رَسُولَ الله عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا ضَرَبَنِي ضَرْبَةً، وَلاَ سَبَّنِي سُبَّةً، وَلاَ انْتَهَرَنِي، وَلاَ عَبَسَ فِي وَجْهِي

“Aku mengabdi kepada Rasulullah selama sepuluh tahun lamanya, nabi tidak pernah sekali pun memukulku, mencaci, ataupun berwajah masam kepadaku.” 

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat yang dirahmati Allah!

Didikan Rasulullah kepada sahabat Anas tadi, menunjukkan betapa lembutnya nabi dalam merawat dan mendidik seorang anak. Nabi tidak pernah memukul, tidak pernah mencaci, tidak pernah membentak, dan tidak pernah menampakkan wajah acuh kepada mereka.

Dengan didikan kasih sayang dan penuh kelembutan itu, mampu menjadikan anak-anak pada masa itu tumbuh sebagai anak yang taat, berilmu, berbakti, jujur, bermoral, dan bijaksana. Semua itu dikarenakan sikap nabi yang sangat indah kepada mereka, hingga tertanam dalam jiwanya.

Kita semua perlu untuk introspeksi dan berbenah diri, perihal ketidakberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya, seperti saat ini. Sudahkah kita meneladani nabi dalam mendidik anak? Jika tidak, mari kita jadikan nabi sebagai panutan dalam mendidik anak. Sebab, hanya dengan cara ini generasi bisa tumbuh baik.

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat yang dirahmati Allah!

Dalam riwayat yang lain, nabi tidak pernah mengintrogasi anak kecil ketika ia melakukan sebuah kesalahan,

خَدَمْتُ رَسُولَ الله عَشْرَ سِنِينَ، فَوَاللهِ مَا قَالَ لِيْ أُفٍّ قَطُّ وَلَا قَالَ لِيْ لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كَذَا

 “Aku (Anas bin Malik) melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah! Nabi tidak pernah berkata kepadaku (karena ketidak-becusanku) “ah-dasar”, tidak pernah pula berkata kepadaku tentang sesuatu yang sudah aku kerjakan, ‘Kenapa kamu lakukan ini?’ Tidak juga berkata kepadaku tentang sesuatu ang tidak aku kerjakan, ‘Kenapa tidak kau lakukan ini?’”

Dari beberapa penjelasan di atas, sangat tampak kasih sayang dan kelembutan nabi dalam mendidik anak-anak. Oleh karenanya, mari kita rubah tata cara mendidik anak yang sudah kita lakukan selama ini, menjadi sesuai dengan cara nabi dalam mendidik mereka. Dengan harapan, bisa menjadikan generasi yang baik, bijak, dan penuh kasih sayang.

Ma’asyiral Muslimin pendengar khutbah Jumat yang dirahmati Allah!

Demikian khutbah singkat pada siang hari ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab untuk meningkatkan ibadah, ketakwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat II

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Demikian penjelasan Khutbah Jumat tentang tata cara Rasulullah dalam mendidik anak. Semoga artikel Khutbah Jumat cara Rasulullah mendidik anak bermanfaat. [Baca juga: Hadis-hadis Keutamaan Mendidik Anak]

 

 

Artikel SebelumnyaGhazi Jassim; Wafat Usai Bersepeda dari Jerman ke Mekah untuk Umrah 
Artikel SelanjutnyaAmalan Malam Nisfu Sya’ban dari Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani 
Sunnatulloh
Pegiat Bahtsul Masail se-Jawa dan Madura sekaligus Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini