BincangSyariah.Com- Berikut ini adalah keutamaan malam maulid Nabi Muhammad. Rabiul Awal selalu hadir dengan suasana khas di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Di masjid, mushala, pesantren, hingga majelis-majelis pengajian, lantunan shalawat kembali terdengar.
Sirah Nabi Muhammad dibacakan, hidangan disiapkan, dan anak-anak serta orang dewasa berkumpul dalam satu majelis untuk mengenang kelahiran manusia agung yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.
Tradisi tersebut kemudian dikenal luas sebagai Maulid Nabi. Bagi masyarakat Indonesia, Maulid sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan. Di dalamnya terdapat pembacaan sirah, shalawat, nasihat keagamaan, sedekah, silaturahmi, sekaligus ungkapan cinta kepada Rasulullah.
Karena itu, pembahasan mengenai Maulid tidak hanya ditemukan dalam karya-karya ulama kontemporer. Para ulama terdahulu juga telah mendiskusikan kedudukan dan keutamaan malam kelahiran Rasulullah.
Salah satu pembahasan menarik dapat ditemukan dalam karya Syekh Muhammad bin ‘Abd al-Baqi al-Zurqani (wafat 1122 H), Syarh al-Zurqani ‘ala al-Mawahib al-Ladunniyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah, sebuah syarah atas karya Imam al-Qasthallani tentang keistimewaan Rasulullah.
Keutamaan Malam Maulid Nabi
Di dalam kitab tersebut, Syekh Baqi al-Zarqani menjelaskan terdapat sebuah pertanyaan menarik: manakah yang lebih utama, Lailatul Qadar atau malam kelahiran Nabi Muhammad ?
Kemudian, Al-Zurqani mengutip jawaban dalam pembahasan tersebut. Ia berkata:
فَإِنْ قُلْتَ: إِذَا قُلْنَا بِأَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وُلِدَ لَيْلًا، فَأَيُّمَا أَفْضَلُ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ أَوْ لَيْلَةُ مَوْلِدِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ؟
Artinya; “Jika kita mengatakan bahwa beliau dilahirkan pada malam hari, manakah yang lebih utama: Lailatul Qadar atau malam kelahiran beliau ?”
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa para ulama tidak sekadar membicarakan Maulid sebagai sebuah tradisi. Mereka juga mendiskusikannya dalam kerangka keilmuan, dengan mempertimbangkan sebab-sebab yang membuat suatu waktu memperoleh kemuliaan.
Jawaban yang dinukil al-Zurqani menyebutkan bahwa malam kelahiran Nabi dipandang lebih utama daripada Lailatul Qadar berdasarkan tiga alasan.
Pertama, malam Maulid adalah malam kelahiran manusia paling mulia
Alasan pertama berangkat dari sosok yang lahir pada malam tersebut.
أَحَدُهَا: أَنَّ لَيْلَةَ الْمَوْلِدِ لَيْلَةُ ظُهُورِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَيْلَةُ الْقَدْرِ مُعْطَاةٌ لَهُ، وَمَا شَرُفَ بِظُهُورِ ذَاتِ الْمُشَرَّفِ مِنْ أَجْلِهِ أَشْرَفُ مِمَّا شَرُفَ بِسَبَبِ مَا أُعْطِيَهُ…
“Pertama, malam kelahiran adalah malam kemunculan beliau , sedangkan Lailatul Qadar merupakan malam yang dianugerahkan kepada beliau. Sesuatu yang menjadi mulia karena kemunculan sosok yang mulia lebih utama daripada sesuatu yang menjadi mulia karena anugerah yang diberikan kepada sosok tersebut.”
Dari sini tampak bagaimana para ulama memandang kedudukan Rasulullah . Malam Maulid memperoleh kemuliaannya karena pada malam itulah Rasulullah lahir ke dunia. Sementara Lailatul Qadar memperoleh kemuliaan karena berbagai keistimewaan yang Allah berikan pada malam tersebut.
Argumentasi ini lahir dari penghormatan yang sangat tinggi kepada Rasulullah .
Kedua, Lailatul Qadar dimuliakan dengan turunnya malaikat, sedangkan malam Maulid dimuliakan dengan kelahiran Rasulullah
Alasan kedua bahkan lebih menarik:
الثَّانِي: أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ شُرِّفَتْ بِنُزُولِ الْمَلَائِكَةِ فِيهَا، وَلَيْلَةَ الْمَوْلِدِ شُرِّفَتْ بِظُهُورِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ…
“Kedua, Lailatul Qadar menjadi mulia karena turunnya para malaikat di dalamnya, sedangkan malam kelahiran menjadi mulia karena kemunculan beliau .”
Kemudian dikatakan:
وَمَنْ شُرِّفَتْ بِهِ لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَفْضَلُ مِمَّنْ شُرِّفَتْ بِهِمْ لَيْلَةُ الْقَدْرِ، عَلَى الْأَصَحِّ الْمُرْتَضَى.
Artinya; “Dan sesuatu yang menjadi mulia karena beliau lebih utama daripada sesuatu yang menjadi mulia karena para malaikat yang turun pada Lailatul Qadar, menurut pendapat yang lebih sahih dan kuat.”
Inilah salah satu cara para ulama ahli sirah dan maulid mengungkapkan kecintaan mereka kepada Rasulullah. Mereka tidak sedang bermaksud mengurangi kemuliaan Lailatul Qadar. Sebaliknya, mereka hendak menjelaskan betapa agung kedudukan Rasulullah , sosok yang menjadi pembawa petunjuk dan rahmat bagi umat manusia.
Ketiga, kelahiran Nabi SAW merupakan awal hadirnya rahmat bagi seluruh alam
Argumentasi ketiga berkaitan dengan luasnya rahmat yang dibawa oleh Rasulullah. Nabi Muhammad tidak hanya diutus untuk satu kaum. Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya; “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’: 107)
Karena itu, kelahiran Rasulullah memiliki makna yang jauh melampaui sebuah peristiwa sejarah. Kelahiran beliau adalah awal hadirnya seorang pembawa risalah yang kemudian mengajarkan tauhid, akhlak, keadilan, kasih sayang, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam tradisi pesantren, pemahaman seperti inilah yang membuat Maulid tidak berhenti pada kegembiraan. Kegembiraan tersebut diarahkan menjadi rasa syukur dan kecintaan kepada Rasulullah .
Maulid sebagai Ekspresi Cinta kepada Rasulullah
Pandangan serupa disampaikan Syekh Ali Jum’ah. Dalam salah satu penjelasannya, ia mengatakan:
وَالِاحْتِفَالُ بِمَوْلِدِهِ هُوَ الِاحْتِفَاءُ بِهِ، وَالِاحْتِفَاءُ بِهِ أَمْرٌ مَقْطُوعٌ بِمَشْرُوعِيَّتِهِ؛ لِأَنَّهُ أَصْلُ الْأُصُولِ وَدِعَامَتُهَا الْأُولَى.
Artinya; “Merayakan kelahiran beliau pada hakikatnya adalah bentuk penghormatan kepada beliau. Adapun penghormatan kepada beliau merupakan perkara yang memiliki dasar syariat, karena ia merupakan pokok dari segala pokok dan fondasi yang pertama.”
Ali Jum’ah kemudian menjelaskan bahwa Allah SWT telah memperkenalkan kedudukan Nabi-Nya kepada seluruh alam:
فَقَدْ عَلِمَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْرَ نَبِيِّهِ، فَعَرَّفَ الْوُجُودَ بِأَسْرِهِ بِاسْمِهِ، وَبِمَبْعَثِهِ، وَبِمَقَامِهِ، وَبِمَكَانَتِهِ…
Artinya; “Allah mengetahui kedudukan Nabi-Nya. Karena itu, Dia memperkenalkan kepada seluruh wujud nama beliau, pengutusan beliau, kedudukan beliau, dan kemuliaan beliau.”
Pandangan ini membantu kita memahami mengapa tradisi Maulid tumbuh begitu kuat di tengah masyarakat Muslim, khususnya di lingkungan pesantren. Maulid menjadi salah satu cara umat mengekspresikan mahabbah, kecintaan kepada Rasulullah .
Kecintaan itu kemudian diwujudkan melalui shalawat, pembacaan sirah, sedekah, pemberian makanan, pengajian, dan berbagai bentuk kebaikan.
Namun, semua itu bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah agar kecintaan kepada Rasulullah melahirkan ittiba’, yaitu kesediaan untuk mengikuti ajaran, sunnah, dan akhlak beliau.
Nabi Sendiri Mengenang Hari Kelahirannya
Menariknya, pembicaraan mengenai kelahiran Nabi juga dapat dikaitkan dengan hadis tentang puasa hari Senin.
Ketika Rasulullah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ
Artinya; “Itu adalah hari ketika aku dilahirkan.” (HR Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah mengingat hari kelahirannya dan mengaitkannya dengan sebuah ibadah. Karena itu, ketika umat Islam berkumpul pada bulan Rabiul Awal, membaca shalawat dan sirah Nabi, yang semestinya tumbuh bukan hanya kegembiraan, tetapi juga rasa syukur.
Lebih dari itu, Maulid seyogianya menjadi kesempatan untuk mengukur kembali sejauh mana akhlak Rasulullah telah hadir dalam kehidupan kita.
Sebab, tidak cukup seseorang mengaku mencintai Nabi jika lisannya masih mudah menyakiti orang lain. Tidak cukup pula memperbanyak shalawat jika perilakunya masih jauh dari kejujuran, amanah, kasih sayang, dan sikap memuliakan sesama.
Pada akhirnya, Maulid akan menemukan maknanya ketika cinta kepada Nabi tidak berhenti di lisan, tetapi berbuah perubahan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, mencintai Rasulullah bukan hanya tentang mengenang kelahirannya, tetapi juga tentang berusaha meneladani kehidupannya.








