Sepuluh Adab Berdoa Versi Imam Al-Ghazali

0
1044

BincangSyariah.Com – Berdoa adalah senjata bagi umat Muslim. Bahkan Allah Swt. memerintahkan hamba-hambaNya untuk berdoa kepadaNya. Karena berdoa merupakan permintaan seorang hamba kepada penciptanya, maka semestinya ia meminta dengan baik dan benar. Lalu apa sajakah adab atau tata cara berdoa yang baik itu?

Menurut Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumid Din ada sepuluh adab atau tatacara berdoa yang harus diperhatikan bagi setiap Muslim.

Pertama, menunggu waktu-waktu yang mulia. Seperti hari Arafah, bulan Ramadan, hari Jumat, akhir sepertiga malam, dan waktu sahur.

Kedua, mengoptimalkan keadaan-keadaan yang mulia. Seperti waktu keadaan sujud, bertemu dengan tentara-tentara (Islam), turunnya hujan, saat salat, dan setelah salat. Dan menurut Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar di saat hati tenang.

Ketiga, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan dan mengusap wajah setelah berdoa.

Keempat, merendahkan suara antara pelan dan keras.

Kelima, tidak terbebani dengan sajak atau diksi doa (yang dipanjatkan). Lebih utamanya hendaknya meringkas doanya dengan doa-doa ma’tsurat. Adapun Imam Nawawi berkata bahwa sebenarnya mayoritas ulama berpendapat tidak adanya batasan kata dalam berdoa, tidak makruh lebih dari tujuh kata ketika berdoa, bahkan mereka mensunnahkan agar memperbanyak berdoa.

Keenam, merendahkan diri, khusyuk dan takut. Allah Swt. berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuK kepada Kami. (Q.S. Al-Anbiya’/21: 90)

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-A’raf/7: 55)

Baca Juga :  Bolehkah Menutup Doa dengan Membaca Surah Alfatihah?

Ketujuh, bersungguh-sungguh ketika meminta, yakin serta mengharapkan akan dikabulkan. Sufyan bin Uyainah r.a. berkata: Salah satu dari kalian tidak akan terhalang doanya selagi ia tahu tentang dirinya sendiri (yakin dengan doanya). Karena Allah Swt. pun akan mengabulkan doanya sejelek-jeleknya makhluk yakni Iblis sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ – قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. (Q.S. Al-A’raf/7: 14-15)

Kedelapan, menekankan dan mengulang-ngulang doanya hingga tiga kali. Dan hendaknya tidak meminta memperlambat untuk dikabulkan doanya.

Kesembilan, mengawali doa dengan menyebut Allah Swt. Imam Nawawi memberikan penjelasan bahwa hendaknya mengawali doa dengan membaca alhamdulillah serta memuji Allah Swt., kemudian membaca salawat kepada Nabi saw. Begitu pula ketika menutup doa.

Kesepuluh, hal yang terpenting dan mendasar agar terkabulnya doa adalah bertobat, menolak kezaliman dan menghadap kepada Allah Swt.

Demikianlah sepuluh adab atau tatacara ketika berdoa menurut Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya’nya. Imam Nawawi pun mengutip ulang kesepuluh adab tersebut di dalam kitabnya Al-Adzkar. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here