Makna dan Manfaat Dzikir Lailahaillallah

1
1753

BincangSyariah.Com – Salah satu kalimat dzikir yang sering diamalkan oleh kaum muslimin adalah dzikir nafi wa itsbat, yaitu kalimat lailahaillallah. Kalimat dzikir tersebut menafikan sifat ketuhanan bagi selain Allah, dan menetapkan sifat ketuhanan bagi Allah. Allah adalah Tuhan yang haq, sedangkan sesembahan yang lain adalah bathil. Allah telah berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Q.S. al-Haj [22] : 62).

Makna Lailahaillallah

Ismail Haqqi al-Barousawi dalam Tafsir Ruhul Bayan fi Tafsiril Qur’an dan Muhammad Amin al-Kurdi dalam Tanwirul Qulub menjelaskan, menurut sebagian ulama makna dari kalimat tauhid lailahaillallah bagi orang awam atau pemula adalah laa ma’buda illallah (tidak ada yang disembah dengan haq selain Allah). (Baca: Ini Empat Keutamaan Tahlil, yang Ketiga Buat Masuk Surga dari Pintu Mana Saja)

Bagi orang khusus kelas menengah adalah laa maqshuda illallah (tidak ada yang dimaksud selain Allah), sedangkan bagi orang yang sangat khusus kelas atas adalah laa maujuda illallah (tidak ada yang wujud selain Allah).

  1. Laa Ma’buda Illallah

Makna ibadah secara etimologi menurut Ibnu Mandzur dalam Lisan al-Arab adalah khudlu’ wa at-tadzallul (tunduk dan merendahkan diri).

Sedangkan makna ibadah secara terminologi menurut al-Alusi dalam Tafsir Ruhul Ma’ani adalah, puncak dari sikap tunduk dan merendah, dimana sikap tersebut hanya boleh dilakukan kepada Allah. (Baca: Manfaat Baca ‘La Ilaha Illallah’ Setelah Shalat Shubuh)

Baca Juga :  Merenungi Aksi Bela Tauhid, Benarkah Membela Agama?

Dari pengertian ibadah di atas dapat dipahami, bahwa ketundukan kita kepada para Nabi, Wali Allah, Syaikh, dan orang tua merupakan bentuk ketundukan yang berada di bawah level puncak. Sehingga orang yang bertawasul kepada para Nabi, Wali atau orang-orang saleh tidak termasuk sebagai orang kafir.

Dzikir kalamat tauhid dalam pengertian laa ma’buda illallah menegaskan bahwa ibadah yang dilakukan, seperti: salat, puasa, zakat, haji, dzikir, do’a, meminta pertolongan, berkurban, nadzar, sujud dan lain sebagainya hendaknya hanya kepada Allah SWT.

Juga menegaskan, tidak diperbolehkan menyembah selain-Nya, semisal malaikat, manusia, hawa nafsu, hewan, patung, setan, atau yang lain. Sebagaimana yang sering kita baca dalam surat al-Fatihah Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepada-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan).

  1. Laa Maqshuda Illallah

Dzikir pada tingkatan ini adalah perjalanan menuju Allah, dalam artian semua amal ibadah yang dilakukan tidak untuk mendapatkan surga atau karena takut neraka, akan tetapi karena ingin mendapatkan ridho Allah SWT.

Setiap orang memiliki niat yang berbeda-beda dalam ibadah yang dilakukan. Di antaranya ada yang melakukan ibadah karena takut neraka. Ada lagi yang melakukan ibadah karena menginginkan surga dan segala macam kesenangan di dalamnya, termasuk bidadari.

Orang yang motifasi ibadahnya karena surga oleh al-Ghazali dalam Ihya’ disebut sebagai orang yang beramal karena perut dan kelaminnya. Al-Ghazali juga mengibaratkannya sebagai karyawan yang tidak baik, dan masuk dalam kategori al-bulhu (dungu). Rasul bersabda, “Kebayakan penduduk surga adalah orang yang bulhu (dungu)”.

Sedangkan ibadah orang-orang yang berakal adalah karena cinta kepada Allah yang memiliki sifat-sifat yang indah dan mulia, tidak lagi menghiraukan makanan dan bidadari dalam surga.

Baca Juga :  Mana yang Lebih Utama, Alhamdulillah atau Laa Ilaha Illallah?

Mereka adalah orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Surga bukanlah tujuan dari ibadah yang mereka kerjakan, namun bukan berarti mereka meremehkan keberadaan surga dan neraka tersebut.

Para muqarrabun kelak akan dibalas sesuai dengan niat mereka, sehingga di akhirat bisa melihat Dzat Allah SWT. Tentu melihat Dzat Allah terasa lebih nikmat dan lebih mulia dibandingkan segala macam kenikmatan surgawi.

  1. Laa Maujuda Illallah

Dzikir dalam tingkatan ini merupakan perjalanan fillah, sehingga dalam pandangan seorang salik, yang memiliki wujud sejati hanya Allah SWT. Kalimat laa maujuda illallah dapat dipahami dalam dua pengertian:

Pertama, Yusuf Khaththar Muhammad dalam Mausu’ah al-Yusufiyyah menjelaskan, makna kalimat di atas adalah: “Laa maujuda qaimun binafsihi illa Hua Ta’ala wa ma siwahu qaimun bi ghairih” (Tidak ada yang wujud secara independen kecuali Dia Yang Maha Tinggi, sedangkan selain diri-Nya wujudnya membutuhkan yang lain).

Dari penjelasan tersebut dipahami bahwa keberadaan makhluk itu lebih identik dengan sifat “adam” atau tiada, karena wujud makluk didahului oleh ketiadaan, dan wujudnya pun selalu berada di antara dua kemungkinan; keberadaannya akan terus berlanjut atau akan segera berakhir. Selain itu, eksistensi makhluk sangat tergantung pada Dzat Yang Maha Wujud, bagaikan eksistensi bayangan yang keberadaannya sangat tergantung pada wujud sebuah benda.

Kedua, kalimat tersebut diucapkan oleh seorang salik yang telah mencapai maqam fana’, artinya dia telah tenggelam dalam lautan tauhid sehingga yang tampak dalam hatinya hanyalah Dzat Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Junaid al-Bahgdadi, “Siapa saja yang memandang Allah dengan hatinya, maka dia tidak lagi memandang makhluk”.

Baca Juga :  Doa Ketika Hendak Selesai Pengajian

Anjuran Dzikir Lailahaillallah

Selain anjuran dzikir secara umum, perintah untuk dzikir lailahaillalah secara khusus juga disampikan dalam beberapa sabda Rasulullah, diantaranya:

 أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dzikir yang paling utama adalah lailahaillallah dan do’a yang paling utama adalah Alhamdulillah” (HR. Turmudzi).

مَنْ قَالَ : لا إله إلا الله مُوْقِنًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Siapa saja yang mengucapkan lailahaillallah dan meyakininya, maka dia akan masuk surga”. (HR. Abu Ya’la al-Mawsili).

Wallahu A’lam

 

1 KOMENTAR

  1. […] Muhammad Basim Dahman dalam Dalilul Mursyidin fi Taslikis Salikin menjelaskan, zikir al-ismu al-mufrad merupakan kepala atau pemimpin zikir dan pokok dari keikhlasan. Orang yang berzikir “Allah” seolah-olah megatakan “Aku menghendaki Allah.. Aku menghendaki Allah” atau “Allah adalah yang aku kehendaki… Allah adalah yang aku kehendaki”. (Baca: Makna dan Manfaat Dzikir Lailahaillallah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here