Ini Penjelasan Bahwa Berdoa adalah Ibadah

1
2462

BincangSyariah.Com – Syaikh ‘Ali Jum’ah, pada salah satu acaranya yang berjudul fann al-Du’aa (seni berdoa) menjelaskan tentang apa sebenarnya makna, syarat, dan seni agar sebuah doa bisa dikabulkan oleh Allah Swt. Fann al-Du’a merupakan sejenis acara ceramah yang ditayangkan selama Ramadhan dengan durasi sekitar 9-10 menit di stasiun televise CBC, salah satu channel di Mesir.

Beliau memulai dengan menjelaskan tentang apa sebenarnya makna doa itu sendiri. Paling tidak, kata doa (arab : ad-du’aa’) memiliki dua pemaknaan, pertama adalah permintaan (arab: al-su’aal) dan kedua adalah ibadah (arab: al-‘ibaadah).

Jika dimaknai pertanyaan, ada dasarnya dari ayat Alquran yang di dalamnya menggunakan kata dasar al-du’a dan memiliki makna al-su’aal. Misalnya ayat Alquran, ud’uuni astajib lakum (berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan kabulkan). Kata ud’uuni disitu bisa dipahami memiliki makna « mintalah kepada-Ku, maka aku akan kabulkan ».

Jika dimaknai sebagai ibadah, dasarnya juga terdapat dalam ayat yang sama, yaitu surah al-Mu’min/Ghafir [40]: 60,

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berkata « berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan kabulkan ! » Sesungguhnya orang-orang yang sombong untuk menyembah-Ku maka mereka akan masuk kedalam (neraka) jahanam dengan kondisi sangat kecil”

Menurut Syaikh ‘Ali Jum’ah, ada banyak keterangan yang mendukung pemahaman bahwa doa adalah ibadah itu sendiri. Misalnya pernyataan Abu Hurairah Ra., bahwa al-du’aa huwa al-‘ibaadah (doa adalah ibadah); atau pernyataan dari Nabi Saw. sendiri ketika menyatakan al-du’aa mukhkhu al-‘ibaadah (doa adalah intisari dari ibadah). Lebih lanjut, riwayat pernyataan Abu Hurairah Ra. memiliki lanjutannya, in lam tushaddiquuni faqra’ aayatan “wa qaala rabbukum ud’uuni astajib lakum…” (jika kalian tidak percaya kepadaku, bacalah ayat “Dan Tuhanmu berkata, berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan…dst”).

Baca Juga :  Islam di Era Internet: Suka dan Dukanya

Ayat ini menunjukkan kalau seolah-olah Abu Hurairah Ra. sedang menjelaskan bahwa Allah Swt. sendiri yang menegaskan bahwa doa adalah ibadah. Karena ayat 60 surah al-Mu’min menghubungkan antara pernyataan Tuhan kalau orang berdoa maka akan direspon dengan pernyataan bahwa yang enggan beribadah (dalam bentuk doa misalnya) kepada Allah maka ia dipastikan akan ditakdirkan untuk masuk kedalam neraka. Masuknya seorang ciptaan Allah Swt. kepada neraka karena tidak mengakuinya ia sebagai hamba Tuhan dan punya tugas untuk beribadah/menghamba kepada Allah Swt.

Ini diperkuat misalnya dengan surah al-Baqarah [2]: 186 yang berbunyi,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan jika para hamba-Ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku menjawab doa hamba-Ku jika dia meminta. Maka, hendaknya para hamba-Ku bermohonlah pada-Ku, dan berimanlah agar mereka menjadi mendapatkan petunjuk.”

Dari ayat ini, lanjut Syaikh ‘Ali Jum’ah, salah satu unsur penting yang perlu dijelaskan dalam persoalan berdoa adalah keimanan. Beriman menjadi penentu yang niscaya kenapa seseorang berdoa. Dan dengan beriman kepada Allah, kita telah menyelesaikan aneka pertanyaan bagi mereka yang intinya mempertanyakan“kenapa kita harus berdoa?”. Beriman menunjukkan bahwa kita adalah makhluk yang memiliki hati yang tunduk (al-qalb al-dhaari’) kepada Pencipta. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here