Ini Cara Niat Puasa Ramadan Lengkap Arab, Terjemah dan Latin

0
1271

BincangSyariah.Com – Niat merupakan satu hal yang sangat krusial dalam setiap melaksanakan ibadah. Khususnya ibadah puasa Ramadan. Sebagaimana hadis Nabi Saw. “sesungguhnya sahnya amal ibadah adalah digantungkan kepada niat”. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Sehingga niat puasa menjadi kunci sahnya ibadah puasa.

Adapun pelaksanaan niat puasa Ramadan adalah pada malam hari, yakni waktunya mulai dari terbenamnya matahari sampai sebelum terbitnya fajar shadiq. Imam Ahmad, Abu Daud, al Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis dari Hafshah Ummul Mukminin ra. bahwa Nabi Saw. bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

Mayoritas ulama mensyaratkan niat puasa Ramadan dilakukan setiap hari selama bulan puasa. Karena setiap hari itu ibadah mustaqillah (independen), tidak dapat dikaitkan dengan hari sebelumnya atau setelahnya. Jika seseorang menggabungkan niat hanya di awal malam hari pertama bulan Ramadan untuk seluruh puasa selama satu bulan , maka hal ini dianggap tidak cukup.

Sedangkan menurut imam Malik, hal tersebut sudah cukup. Adapun memperbarui niat puasa Ramadan pada setiap malam hanya berhukum sunah, tetapi jika puasanya terputus karena sakit atau haid maka ia wajib memperbarui niat untuk seluruh sisa hari lainnya di bulan Ramadan.

Imam Malik mengqiyaskan dengan ibadah shalat yang hanya perlu satu niatan saja untuk seluruh pelaksanaan setiap rakaat, yakni tidak perlu niat di setiap rakaat shalat, begitu pula dengan puasa Ramadan, cukup wajib berniat di awal bulan untuk seluruh hari di bulan Ramadan. Namun, bagi warga Indonesia yang bermadzhab syafi’i hendaknya melaksanakan niat setiap malam hari selama bulan Ramadan.

Baca Juga :  Ini Cara Niat Puasa Ramadan Langsung Sebulan Penuh

Niat tempatnya adalah di dalam hati. Sehingga tidak disyaratkan melafalkan niat, tetapi itu adalah sunah. Makan sahur di malam hari tidak cukup mewakili niat puasa, jika tidak dibarengi di dalam hatinya untuk berniat puasa. Selain itu aspek yang harus diperhatikan dalam niat puasa Ramadan adalah wajib men-ta’yin atau menjelaskan niat puasa fardlu Ramadan. Tidak cukup hanya berniat puasa saja, harus dijelaskan puasa Ramadan. Karena untuk membedakan antara puasa Ramadan, nadzar dan puasa kafarat.

Adapun minimal niat adalah “saya niat puasa Ramadan”, tanpa harus dengan kata fardhu, karena puasa Ramadan telah jelas ke-fardhuan-nya. Tak perlu menjelaskan dengan kata “besok” karena telah terwakili dengan kata Ramadan, di mana memang pelaksanaannya pada bulan Ramadan, dan telah jelas bahwa esok hari masih bulan Ramadan.

Sedangkan niat yang paling sempurna adalah ,“saya berniat hendak berpuasa besok untuk menunaikan fardlu-nya puasa Ramadan tahun ini semata-mata karena Allah Ta’ala”. Atau dalam teks arabnya berbunyi

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لله تعالى

Nawaitu shauma ghadin an adai fardli Ramadani hadzihis sanati lillahi ta’ala.

Perlu menjadi catatan bahwa dalam perspektif ilmu kebahasaan, jika meniatkan dengan kata “ramadani” maka harus “hadzihis sanati”. Karena lafal ramadhan di-idhafah-kan kepada “hadzihis sanati, sehingga tanda jar-nya tidak menggunakan fathah lagi, dan mengandung arti Ramadannya tahun ini. Tetapi jika meniatkan dengan kata “ramadana” maka harus “hadzihis sanata”. Karena lafal Ramadan kedudukan kalimatnya menjadi mudhaf ilaih saja yang harus di baca Jar.

Tanda jar-nya adalah dengan menggunakan fathah, karena lafal Ramadan itu berhukum isim ghairu munsharif dan posisinya tidak mudhaf. Sedangkan “hadzihis sanata” di baca nasab dengan fathah karena ia menduduki posisi menjadi dharaf zaman. Artinya menjadi puasa Ramadan di tahun ini.

Baca Juga :  Doa Hiking yang Diajarkan Rasulullah Agar Tidak Tersesat

Namun hal tersebut jika ditinjau dari segi tata bahasa saja. Kalau sudah terlanjur digabungkan misalnya menjadi “Ramadani hadzihis sanata”, maka niatnya tetap sah, hanya saja secara ilmu kebahasaan kurang tepat.

Jika seseorang masih memiliki tanggungan puasa qadha yang belum dibayar hingga masuk bulan Ramadan lagi, ia wajib menyertakan kata “ada’an” (pelaksanaan ibadah pada waktunya, bukan qadha) pada niat puasa Ramadannya, karena ia masih memiliki tanggungan qadla puasa Ramadan juga. Atau ia harus menyertakan penjelasan “hadzihis sanati” (tahun ini) sebagai pembeda dengan puasa tahun lalu yang belum ia jalankan. Demikian menurut pendapat imam al Adzra’i.

Jadi, kesimpulannya dalam pembahasan niat puasa Ramadan tersebut adalah pertama: wajib niat di dalam hati setiap malam di bulan Ramadan. Kedua, wajib menjelaskan dengan kata Ramadan di setiap niatnya. Ketiga jika tidak berniat di malam hari yakni antara setelah terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar, maka puasanya tidak sah. Terakhir, wajib mengqadla’ puasanya di hari lain selain bulan puasa Ramadan.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here