Hukum Membaca Shalawat di Kamar Mandi

1
39

BincangSyariah.Com – Saat seorang berada di kamar mandi, kadang disadari atau tidak terlintas di pikirannya sesuatu, misalnya lagu penyanyi tertentu kemudian mendendangkannya. Tak terkecuali mendendangkan syair shalawat yang ia pernah dengar dan boleh jadi ia menyukainya sehingga terdorong mendendangkan padahal ia sedang di kamar mandi. Sebenarnya, apa hukum membaca shalawat di kamar mandi? Apakah diperbolehkan karena bagian dari zikir atau atau dilarang karena berada di tempat yang sepatutnya, yaitu kamar mandi dimana di sana adalah tempat manusia buang hajat.

Jawabannya, membaca shalawat di kamar mandi hukumnya . Namun, pada dasarnya, shalawat yang merupakan bagian dari zikir secara umum, dianjurkan untuk dilakukan dimanapun dan kapanpun. Bahkan, menurut Imam An-Nawawi dalam kitab al-Adzkar (h. 9), berzikir di kamar mandi tetap diperbolehkan,

ولا يكره في الطريق ولا في الحمام ، والله أعلم

“dan berzikir di jalan atau di kamar mandi tidak dimakruhkan. »

Yang menjadi persoalan adalah ketika melafalkannya. Jika sudah sampai pada pelafalan, maka dimakruhkan untuk melakukannya di tempat-tempat dimana di sana adalah tempat membuang sesuatu yang kotor seperti kamar mandi. An-Nawawi sendiri dalam al-Adzkar menyatakan,

[يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة ، سواء كان في الصحراء أو في البنيان ، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى ، ولا يشمت عاطساً ، ولا يرد السلام ، ولا يجيب المؤذن ، ويكون المُسَلِّمُ مقصراً لا يستحق جواباً ، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه ولا يحرم ، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس ، وكذلك يفعل حال الجماع .

 “Makruh hukumnya berdzikir dan berbicara di saat buang hajat, baik itu dilakukan di alam terbuka ataupun di dalam kamar kecil. Hal itu berlaku untuk semua jenis dzikir dan pembicaraan. Kecuali ucapan yang diucapkan dalam keadaan dharurat. Bahkan sebagian ulama kita (kalangan Syafi’iyyah) mengatakan: Tidak diperkenankan bagi orang yang bersin untuk membaca Hamdalah, atau menjawab hamdalahnya orang yang bersin, tidak menjawab salam, dan tidak menjawab adzan. Orang yang memberi salam kepada yang sedang menunaikan hajat, adalah orang yang ngawur dan tidak berhak dijawab. Hukum mengenai ini semua adalah makruh tanzih dan bukan haram. Jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah dalam hatinya dan tidak melafadzkannya dengan lisannya maka tidaklah mengapa. Demikain jugalah yang perlu dilakukannya saat melakukan jima.”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here